sepakbola

Sepakbola Jerman: Pentingnya Pembinaan Usia Muda

Deutchland, Deutschland uber alles, uber alles in der welt.
~ Jerman di atas segalanya, segala yang ada di dunia.

Demikian baris pertama dan kedua dalam bait pembuka lagu kebangsaan Jerman, “Das Lied der Deutschen”.

Dahulu, syair tersebut digubah untuk menggugah nasionalisme guna menyatukan suku-suku yang ada di Jerman. Tapi, syair tersebut sempat juga disalahartikan oleh Hitler untuk menghalalkan ekspansi-ekspansi yang dipimpinnya. Maka setelah Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, bait pertama dan kedua pada lagu tersebut memang tak lagi dicantumkan dalam national anthem Jerman.

Tapi makna bait itu tak mudah dihilangkan. Bahkan, masih saja terpancang dalam-dalam di benak insan sepakbola Jerman. Tak heran jika mereka lalu terbiasa untuk selalu di atas segalanya, dan risih jika prestasi timnas terpuruk. Maka terjerembab dalam kemerotosan pun tak boleh dilakukan terlalu lama. Mesti bergerak cepat untuk melakukan perubahan besar-besaran pada timnasnya.

Harapannya jelas, ingin mengembalikan kegemilangan Jerman dalam urusan sepakbola dunia. Uber alles mesti nyata dengan cara yang lebih anggun.

Belajar dari Bencana Euro 2000

Pada awal 2000-an, sepakbola Jerman jelas jauh tertinggal dengan Belanda dan Prancis dalam hal pembinaan. Mereka yang selalu mengandalkan pemain berumur, harus rela berada di dasar klasemen grup A pada Euro 2000. Saat itu Jerman hanya meraih satu poin, dan mengantongi satu gol saat pulang dari Belgia-Belanda. Sungguh bencana besar untuk ukuran timnas yang sudah tiga kali juara dunia.

Di lain pihak, Inggris, musuh bebuyutan Jerman juga tak lolos dari fase grup. Namun Inggris jelas tampil lebih baik. The Three Lions mengantongi tiga angka saat pulang ke London. Hasil dari mengalahkan Jerman di fase grup.

Peristiwa itu tentunya membuat Jerman malu bukan kepalang. Tak hanya para punggawa Der Panzer, tapi juga rakyat Jerman.

Lantaran bencana tersebut, Jerman lalu bergegas. Mereka merespons kejadian itu dengan mendata dan mengumpulkan talenta muda mereka, yang belum tercemar oleh kegagalan. Hasilnya, 14.000 pemuda berusia 11-14 berhasil mereka kumpulkan. Nantinya mereka yang terpilih akan mendapatkan pelatihan dari DFB (PSSI-nya Jerman).

Langkah tersebut dilakukan sebagai sebuah aksi preventif. Mereka beranggapan bahwa bencana yang terjadi pada Euro 2000 adalah dampak dari minimnya stok pemain berkualitas yang ada di sepakbola Jerman.

Apa yang terjadi di Euro 2000 merupakan sebuah efek domino dari tim-tim Bundesliga yang biasanya berperilaku pragmatis. Kala itu mereka asik mengimpor pemain asing yang sudah matang, dan enggan menggunakan talenta muda lokal. Para pelatih enggan berjudi untuk memainkan pemain muda hasil binaan DFB.

Untuk meminimalisir hal tersebut, DFB lalu merombak pola pembinaan mereka. Dana 20 juta euro dianggarkan untuk menuntaskan program tersebut dengan total 366 pusat latihan di bangun untuk para pemain muda.

Jerman memang sangat serius kala itu. Semua yang dibutuhkan para penerus timnas mereka akan disiapkan. Namun uang 20 juta euro jelas bukan uang yang sedikit. Tak mungkin juga dapat dipenuhi pemerintah Jerman dalam sekejap.

Akan tetapi masalah tersebut dapat diakali DFB. Fasilitas tim-tim Bundesliga, yang terkenal canggih, bisa maksimalkan. Caranya? Tim-tim Bundesliga diwajibkan berperan aktif dalam program ini. Alhasil, DFB tak perlu menghutang kanan-kiri untuk menuntaskan program tersebut. Stabilitas ekonomi Jerman aman. Program pembinaan tetap bisa jalan.

Jika pada awal-awal program Jerman hanya mengalokasikan dana sebesar 20 juta euro, pada tahun berikutnya Jerman langsung menaikkan anggaran tersebut menjadi 47,85 juta euro. Dan terus naik setiap tahunnya. Besarnya anggaran tersebut mencerminkan bahwa tiap tahun Jerman selalu melakukan perbaikan dalam pembinaan usia muda mereka. Semua urusan pembinaan pun selalu mendapat perhatian lebih dan semua fasilitas penunjang latihan selalu mendapat pembaruan.

Ya, Jerman sadar benar bahwa pembinaan usia dini adalah sebuah investasi jangka panjang. Karenanya, mereka tak pernah ragu untuk menggelontorkan dana besar untuk memupuk talenta muda. Hal ini bisa kita lihat dari besarnya biaya yang dikeluarkan tiap klub untuk membangun akademi sepakbolanya.

Bukankah besarnya anggaran itu pun mencerminkan betapa seriusnya Jerman dalam membina pemain muda? Benar, Jerman ingin sesegara mungkin mengembalikan predikat uber alles pada tim sepakbola mereka.

Pembinaan adalah Investasi

Dulu, permasalahan sepakbola Jerman terletak pada stok pemain berkualitas dan juga minimnya minutes play para pemain muda. Kebanyakan klub Bundesliga memilih untuk mengimpor pemain asing yang sudah matang dan berpengalaman. Pelatih menganggap para pemain muda belum siap betul untuk mengarungi ketatnya Bundesliga. Itulah asal muasal lahirnya bencana bagi sepakbola Jerman di Belgia-Belanda.

Namun, hal itu tak mungkin terjadi lagi kini. Jerman, yang sudah jor-joran dalam menggelontorkan uang guna pembinaan usia dini, kini disesaki talenta muda. Tak hanya berkiprah di negaranya, banyak dari mereka juga telah melanglang buana di berbagai negara Eropa. Pemain Jerman yang dahulu tak bisa mentas di pentas tertinggi, kini mereka banjir akan puja-puji.

Sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Franz Beckenbaeur, pemain sepakbola Jerman memang tak mampu menjadi pemain yang brilian macam pemain Brasil ataupun Prancis. Tapi, para pesepakbola Jerman bisa menjadi pemain yang sesuai dengan karakteristik orang Jerman: orang yang gemar bekerja keras. Dan seperti itu pulalah program pembinaan usia dini di Jerman. Dibentuk atas karakter bangsa mereka.

Namun, tak sekadar menggelontorkan uang, Jerman melakukan hal yang lebih. Mereka sadar bahwa membangun sarana dan prasarana tanpa adanya pelatih tentu akan menjadi omong kosong.

Maka dari itu, untuk menanamkan filosofi sepakbola yang sesuai karakter Jerman, DFB menugaskan pelatih-pelatih profesional untuk menjadi “dosen terbang”. Mereka yang ditunjuk oleh DFB, diwajibkan untuk memberikan materi tambahan bagi para pemain muda, minimal 2 jam dalam setiap minggunya.

Hasilnya? Lihat saja Mesut Oezil, Thomas Mueller, Marco Reus ataupun Sami Kheidira yang tetap padu saat membela Nationalmannschaft, walaupun bermain di klub-klub yang berbeda. Mereka sudah saling tahu sama tahu. Sebab, mereka juga dididik oleh guru yang sama kendati berlatih di klub yang berbeda-beda.

Di sisi lain, untuk menjaga dan meningkatkan performa para pemain muda, Jerman juga menempatkan dokter, fisioterapis, dan pelatih fisik kelas wahid di akademi yang mereka miliki. Selain itu, data para pemain –- baik data medis, karakteristik personal, analisa peforma, atau hasil tes medis — semua disimpan dalam suatu server tersendiri. Dan hanya staf pelatih yang dapat mengakses data tersebut.

Artinya, jika semua data terkumpul dalam satu “server”, dan para pelatih dapat menggunakan data tersebut, tentu hal tersebut akan menciptakan ruang diskusi tersendiri bagi para pelatih. Mereka akan saling memberi masukan untuk menentukan masa depan anak didiknya. Yang tak berkembang saat masa karantina, jelas langsung dicoret.

Tingginya standar pembinaan usia dini di sepakbola Jerman ini dilakukan untuk memastikan bahwa jebolan akademi mereka benar-benar berkualitas dan siap untuk berkompetisi di level selanjutnya. Pun tingginya standar quality control tersebut sekaligus menjadi tolak ukur bahwa pembinaan usia dini di sepakbola Jerman memberikan hasil positif dan tidak berjalan stagnan.

Karenanya, jangan heran jika setiap tahun selalu ada peningkatan standar kompetensi pembinaan di Jerman.

“Saya optimistis akan ada peningkatan kualitas yang signifikan pada akademi. Yang terpenting dalam hal ini adalah kerja sama dari komite, wakil-wakil akademi, dan juga DFB. Mereka semua harus mempunyai komitmen untuk mengembangkan pembinaan usia muda,” ujar Andreas Rettig, Chairman of the Academies Committee.

Penyataan tersebut memang bukan bualan belaka. Laksana mata air, pemain muda Jerman terus lahir tak henti-hentinya. Kritik atas becana Euro 2000 perlahan menemukan jawaban. Bundesliga yang dulunya disesaki oleh pemain asing, perlahan mulai dipenuhi oleh banyak pemain muda.

Pada tahun 2011 saja, 275 dari 525 pemain yang bermain di Bundesliga 1 ataupun 2, adalah jebolan akademi. Ini berarti 52,4% pemain Bundesliga adalah hasil didikan 36 akademi klub yang ada. Dan hari ini, jumlahnya sudah pasti terus bertambah.

Tren menggunakan pemain tua sarat pengalaman pun lambat laun mulai luntur di Jerman. Klub-klub yang berlaga di Bundesliga 1 dan Bundesliga 2 lebih memilih untuk menggunakan pemain binaan mereka sendiri. Hal inilah yang menjadikan rataan usia pemain di Bundesliga tiap tahun mengalami penurunan.

Tak heran rasanya, mengapa dalam dua edisi Piala Dunia Joachim Loew lebih memilih memakai banyak pemain muda hasil binaan. Tentu pemain tua juga masih sangat dibutuhkan oleh Nationalelf, terutama sebagai panutan untuk mereka yang masih muda. Namun perannya sedikit banyak mulai digantikan oleh mereka yang muda.

Pada Piala Dunia 2006 dan 2010 Jerman memang hanya sampai pada fase semifinal. Namun, pada Piala Dunia Brasil, mereka yang berlaga pada edisi sebelumnya sudah mencapai usia matang. Menambahkan emblem bintang satu lagi di dada dan merayakan pesta di Brazilia bukanlah hal yang mustahil bagi Jerman.

Ya, inilah sepakbolanya orang Jerman. Sepakbola orang yang selalu ingin menempatkan Jerman jadi negara di atas segalanya. Seperti yang selalu mereka dengungkan di stadion: “Deutchland, Deutschland uber alles”. Jerman di atas segalanya, segala yang ada di dunia.