qur’an

Ingin Khataman Tapi Tak Ada Teman?

Mungkin banyak diantara kita yang sebenarnya ingin ikut mengaji khataman al-Qur’an, namun ada beberapa kendala di benak yang membuat kita ragu untuk pergi. Misalnya waktu yang tidak memungkinkan, takut kebagian juz yang kita kurang lancar membacanya, atau bahkan khawatir niat kita tercampur dengan inginnya mendapat hidangan di musholla 🙂 .

Khataman al-Quran

Sebagai alternatif kita bisa khataman secara online dengan serentak, yaitu dengan Nusantara Mengaji. Khataman melalui aplikasi Nusantara Mengaji ini dilaksanakan mulai kamis malam jumat pukul 7 malam hingga jum’at siang pukul 2. Kita bisa memilih 1 juz saja, atau semua 30 juz semua untuk dibaca sesuai waktu tersebut. Setelah memilih juz yang hendak dibaca, kita tidak dapat merubahnya agar pengguna lain dapat memilih juz lain yang masih belum terpilih. Ini supaya dapat dipastikan bahwa semua juz akan terbaca. Mirip dengan khataman yang biasa ada di musholla-musholla.

Setelah memilih juz yang hendak dibaca, kita tidak dapat merubahnya agar pengguna lain dapat memilih juz lain yang masih belum terpilih. Ini supaya dapat dipastikan bahwa semua juz akan terbaca. Mirip dengan khataman yang biasa ada di musholla-musholla.

Saat khataman akan dimulai, pengelola akan menawarkan apakah akan mengikuti atau tidak pada minggu tersebut. Bila menyatakan ikut maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita untuk benar-benar membacanya. Jika berhalangan dan memilih tidak maka bisa ikut minggu depannya.

Nusantara Mengaji - Pilih Juz
Gambar 1: Pilih Juz

 

Nusantara Mengaji - al-Quran
Gambar 2: Baca Qur’an di HP

 

Nusantara Mengaji - Statistik
Gambar 3: Riwayat Bacaan

 

Download aplikasinya di sini:

Nusantara Mengaji

Penggunaan Selain Khataman

Selain khataman al-Qur’an, melalui aplikasi Nusantara Mengaji ini kita juga bisa melakukan kegiatan lainnya:

  • Infaq Sejuta Qur’an — ISQ
  • Wawasan Qur’an — Tafsir, Struktur, Do’a

Infaq Sejuta al-Qur’an

Terdapat sekitar 134 juta muslim di Indonesia tidak bisa membaca al-Qur’an. Gerakan infaq ini sebagai salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat memperoleh al-Qur’an. Serta memfasilitasi orang-orang yang ingin meng-infaq-kan sebagian hartanya dengan melalui pembagian mushaf al-Qur’an ke seluruh penjuru tanah air.

Qur’an yang terkumpul akan dibagikan kepada:

  • Masjid/Musholla,
  • Pesantren,
  • Perorangan.

Untuk ikut berpastisipasi dalam gerakan infaq ini, selain melalui aplikasi Nusantara Mengaji kita juga dapat melakukannya melalui SMS atau mengunjungi websitenya di Nusantara Mengaji — ISQ. Namun untuk yang melalui website sementara ini situsnya masih dalam perbaikan.

Sumbangan ditentukan untuk tiap Qur’an senilai 100.000 rupiah. Bagi yang menyumbang 100 Qur’an atau lebih dapat mencetak namanya di Qur’an yang dibagikan. Laporan tentang penyaluran infaq dapat dilihat pada situs di atas.

Infaq Sejuta al-Qur’an adalah salah satu upaya untuk lebih mendekatkan masyarakat kepada al-Qur’an.

Wawasan Qur’an

Pada bagian ini kita bisa mempelajari artikel-artikel tentang tafsir al-Qur’an, kajian tentang bagaimana strukturnya, juga terdapat do’a khotmil qur’an.

Akhir kata, inti dari tulisan ini sedikit saja sebetulnya yaitu, “Mari Mengaji!”

Musa – Hafizh Cilik

TINGKAHNYA tidak berbeda dengan layaknya anak yang belum genap berusia enam tahun. Suka bermanja-manja dan kadang-kadang rewel. Sepintas orang tak akan menyangka bocah asal Bangka Barat, Bangka Belitung, tersebut sudah tuntas menghafal 30 juz Alquran.

Saat dia kali pertama tampil di panggung, seisi studio RCTI menangis haru menyaksikan kemampuannya. Prof Amir Faishol, pakar tafsir Alquran yang menjadi salah seorang juri, sembari berlinang air mata mendatangi Musa, lalu mencium tangannya.

Musa sebetulnya sangat pemalu. Dia jarang bertemu banyak orang sehingga saat kali pertama tampil di panggung sangat gugup. “Saat itu dia sudah mau menangis,” ujar La Ode Abu Hanafi, ayah Musa. Setelah ditenangkan, perlahan Musa mulai bisa menyesuaikan diri. Untuk memudahkan adaptasi, Hanafi membaurkan Musa dengan para peserta lainnya.

Minat Musa terhadap Alquran sudah tampak sejak dirinya belum genap berusia dua tahun. “Setiap kali saya perdengarkan kaset murottal (pembacaan) Alquran anak, dia senang dan sangat antusias menirukan,” ungkap pria 33 tahun itu. Melihat kondisi tersebut, Hanafi pun makin sering memperdengarkan kaset murottal kepada Musa.

Tidak lama setelah ulang tahun kedua Musa, Hanafi memulai bimbingan Alquran untuk anaknya itu. Karena Musa belum bisa membaca Alquran, Hanafi membimbingnya dengan metode talqin atau membacakan hafalan. Musa diminta menirukan pelafalan sang ayah. Mengingat usia sang anak, Hanafi mengajarinya dengan perlahan. Satu sesi belajar hanya berlangsung lima sampai sepuluh menit.

Bukan hal mudah mengajarkan Alquran kepada bocah yang ketika itu berusia dua tahun. Proses Musa untuk menjadi hafiz, beber Hanafi, tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Bagian pertama yang diajarkan kepada Musa adalah surat terakhir Alquran, yakni An Naas.

“Saya ajarkan qul saja, butuh dua sampai tiga hari dia ikuti,” kenangnya. Kemudian, menyambungkan kata qul dengan a’udzu juga butuh waktu.

Durasi Musa untuk menghafal Qul a’udzu birobbinnaas (ayat pertama surat An Naas yang berarti Katakanlah, aku berlindung dari Tuhan manusia) butuh setidaknya satu pekan.

Kemudian, saat berhasil menghafal ayat kedua,Musa lupa bagaimana bunyi ayat pertamanya sehingga hafalan harus diulang dari awal. “Jadi, surat An Naas itu mungkin bisa ratusan kali diulang sama saya,” ungkapnya.

Metode talqin tersebut hanya dilakukan selama dua tahun dan menghasilkan hafalan dua juz “saja”, yakni juz 30 dan 29. Hanafi mengajari Musa menghafal dari belakang, yakni dari juz 30 hingga 18. Kemudian, dia melanjutkan pelajaran menghafal dari juz 1.

Musa Hafiz Cilik: Menghafal Delapan Jam Sehari, Full Main Empat Hari Sekali

Di usianya yang keempat tahun, Musa sudah bisa membaca Alquran sehingga proses hafalan menjadi lebih ringan daripada sebelumnya. Karena sudah bisa membaca Alquran, Musa mulai bisa belajar mandiri. Setiap hari Musa mampu menghafal 2,5 sampai 5 halaman Alquran dan diperdengarkan di depan Hanafi.

Dalam bimbingan Hanafi, Musa bisa menghabiskan waktu enam sampai delapan jam untuk menghafal Alquran. Hanafi memang seorang guru mengaji. Hanafi juga menghidupi keluarganya lewat kebun karet miliknya dan usaha dagangnya.

Lazimnya seorang bocah, waktu bermain juga menjadi kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Untuk itu, setiap empat hari Hanafi meliburkan pelajaran menghafal Alquran dan memberi Musa kesempatan bermain seharian.

“Musa main mobil, kereta, sama bola sampai kotor,” ucap Musa saat ditanya mainan kesukaannya sembari bergelayut manja di pangkuan sang ayah.

Selain bermanja-manja dengan sang ayah, selama wawancara, Musa menggoda sang adik Hindun yang masih berusia dua tahun. Sempat pula Musa menangis karena lelah. Namun, setelah diberi mainan, tangisnya mereda.

Hanafi menuturkan, putranya bisa jadi apa saja suatu saat kelak. Bisa dokter, ulama, tentara, atau profesi lainnya. Namun, Hanafi memang punya target agar Musa menjadi hafiz dahulu. “Agar dia bisa bermanfaat untuk (agama) Islam dan umat Islam,” tutur suami Yulianti itu.

Musa tampak tidak terbebani gelar hafiz yang disematkan kepada dirinya. Sebagaimana layaknya bocah, dia sangat senang manakala disodori mainan. Musa juga sudah punya cita-cita yang ingin diraihnya. “Ingin jadi pilot,” ucap Musa lugas.

Hanafi mengakui bahwa dirinya dan istrinya bukanlah hafiz. Dia juga awalnya tidak yakin anaknya mampu. Namun, setelah merenung, dia dan sang istri memantapkan niat untuk menjadikan Musa seorang hafiz.

Musa yang merupakan sulung dari tiga bersaudara mampu menuntaskan hafalannya pertengahan Juni lalu. Surat terakhir yang dihafalkannya adalah Al Isra dan An Nahl.

Kemudian, pada akhir Juni, Musa diikutsertakan dalam ajang perlombaan hafiz internasional di Jeddah, Arab Saudi. Musa menjadi satu-satunya peserta asal Indonesia. Dia pun menjadi buah bibir di ajang tersebut karena usianya yang belum genap enam tahun.

Kedua orang tua Musa bertekad menjaga Musa agar tetap bisa konsisten. Untuk itu, mereka berencana menyekolahkan Musa dengan metode homeschooling.

“Itu upaya kami untuk menjaga hafalan Musa. Kami sedang mengajukan izin kepada pemerintah kabupaten dan menyesuaikan kurikulumnya,” terang Yulianti, ibu Musa, saat diwawancarai dalam kesempatan berbeda.

Sumber: Bayu Putra, jpnn.com