prinsip

S.A.S. Singkatannya Apa Sih?

Bagi yang cukup sering — tidak hanya jarang — mengunjungi pesantren Fatihul Ulum, barangkali pernah mendengar istilah SAS. Namun hampir bisa dipastikan, tidak satupun dari mereka tahu, singkatan dari apakah SAS itu?

Bila Anda mencoba mencarinya di Google, maka kemungkinan besar yang akan muncul adalah SAS – Special Air Service. Satuan pasukan elit dari Inggris.

SAS - Special Air Service

Dalam artikel ini, penulis mencoba meraba dan menyajikan beberapa kemungkinan, apakah arti SAS itu sebenarnya?

Santreh Asekola Siang

Ada sekelompok santri yang mereka-reka bahwa, SAS bermakna Santreh Asekola Siang. Ini bermula ketika masa dimana waktu belajar santri dipisah. Beberapa santri mengikuti kelas pagi sedangkan sisanya belajar di siang hari. Atau bahkan malam.

Pemisahan waktu belajar ini dilakukan karena saat itu awal-awal penyelenggaraan sekolah formal. Ruang kelas masih terbatas. Gurunya juga terbatas. Untuk menambah guru tidak mungkin karena uangnya juga terbatas. Semuanya serba terbatas. Limited Edition istilah kerennya.

Sholat Apa Saja

Meski istilah SAS masih tetap belum dapat dipastikan artinya, namun barangkali kejadian yang satu ini dapat menggambarkan sekilas semangat belajar dari SAS.

—————–

Pada suatu hari yang cerah cenderung panas, santri sudah bersiap di kelas untuk mengikuti pelajaran matematika. Kelas dimulai pukul 10:00 dan akan berakhir 12:15. Seharusnya.

Namun yang terjadi berikutnya sungguh di luar rencana. Bahkan menjadi sejarah.

Guru matematika yang ditunggu belum juga tampak batang hidung dan bundar songkoknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:30. Namun para santri itu tidak ada yang balik ke bilik masing-masing. Mereka sadar akan konsekuensinya.

Mereka tetap berada dalam kelas karena di sana ada salah satu pengurus pesantren. Dan melawan atau bertentangan dengan pengurus berarti melawan kyai. Melawan kyai akan menyebabkan ilmu yang didapat tidak barokah. Dan ilmu yang tidak barokah ini, meskipun berhasil dikuasai, hanya akan mendatangkan bahaya alih-alih manfaat bagi mereka. Sepertinya hanya santri yang paham akan paham yang mulia ini.

Pengurus itu Zainuddin namanya. Nah, si Zainuddin termasuk pengurus yang langka. Unik lebih tepatnya. One of a kind.

Zainuddin akan menaati 100% perintah kyai atau gurunya. Bulat-bulat. Tanpa kiasan ataupun tafsiran. Sam’an wa Tho’atan bil Lughotan.

Biasanya, ketika santri disuruh ke barat ada saja yang malah ke timur. Namun tidak demikian halnya dengan Zain. Dia akan tetap ke barat sesuai yang diperintahkan. Teman-temannya tidur saat guru menerangkan, Zain tetap duduk sigap di kursinya.

Yang lain lempar-lemparan, Zain tetap mendengarkan dengan serius.
Yang lain bal-balan, Zain malah kelojotan terjangkit typus.

Dan ketaatannya-lah yang membuat teman-temannya begitu sungkan padanya.

Hari itu pun sama. Lainnya tetap di dalam kelas. Kecuali si Zain turun ke biliknya, pikir mereka. Namun nyatanya, seperti biasa, Zain tidak beranjak. Seperti sedang ada guru saja di depannya. Tidak jelas apakah ia sedang melamun atau bertafakur.

Dan akhirnya guru pun tiba. Namun alih-alih guru matematika, yang hadir ke dalam kelas ternyata guru komputer.

Nah, si Guru Komputer ini dikenal memiliki wibawa tingkat dewa. Maka kelas pun menjadi senyap seketika. Santri yang sedang berlarian mendadak duduk di bangku terdekat. Tak peduli bangku siapa. Zain yang sudah sigap pun masih ditambahinya dengan tegap. Sekarang ia terlihat seperti pasukan siaga satu yang sedang disidak. “Perang bisa meletus kapan saja”, kelebat di benaknya. Andai ada jarum yang jatuh saat itu maka suaranya akan terdengar seperti menjerit berdecit-decit.

Di zaman itu memang sudah biasa pelajaran sehari-hari berlangsung acak. Namun tidak acak-acakan. Tidak saklek sesuai jadwal yang tertera. Bila ada kelas yang kosong, maka guru siapapun diperbolehkan memasukinya. Memberikan pelajaran apa saja sesiapnya. Ada guru yang bercerita atau mendongeng — karena memang belum ada persiapan materi sebelumnya — ada pula yang memberikan motivasi sambil seringkali dibumbui emosi. Yang penting santri tetap belajar.

“Pindah ke lab”, pinta guru itu singkat sambil berlalu.

Semua santri dalam kelas itu pun segera ke lab komputer. Di sana si guru sudah menunggu. Tidak berapa lama si guru lalu memberikan soal praktek.

Dan CELAKA!!

Seisi kelas tidak ada yang bisa mengerjakannya dengan benar. Semuanya menjadi berdebar-debar. Sudah terbayang sanksi yang akan menimpa mereka. Mana sedang tengah hari lagi.

“Buruh!”

Benar saja. Si guru memerintahkan mereka untuk lari di halaman pesantren. Zain, yang spontan merasa bertanggung jawab akan nasib teman-teman sekelasnya, berinisiatif bertanya,

“Berapa kali, Tad?”
“Seket kaleh!”.

Aduhh…, Kawan. Sebenarnya lari di halaman ini tidaklah jadi soal. Namun dengan dua kondisi ekstrim, tengah hari dan lari lima puluh kali, kali ini lari di halaman benar-benar sebuah soal. Yang tidak membutuhkan jawaban. Soal ini hanya butuh dilaksanakan.

Para penghuni penjara suci itupun berlari di bawah terik matahari. Semuanya berlari dalam sunyi. Mereka sadar akan kelalaian mereka dalam belajar. Meskipun sedikit ruang hati mereka berharap, seandainya hari itu guru matematika datang barangkali akan lain kejadiannya.

Selesai lima puluh kali putaran, mereka langsung menyelupkan kaki mereka ke dalam kullah. Untuk menyucikan kaki sebelum mereka kembali ke lab. Persis seperti perlakuan quenching pada besi, dipanaskan hingga membara lantas dicelupkan ke dalam air. Ia pun menjadi besi yang berkualitas. Tapi itu besi, Kawan.

Setelah kembali ke lab, guru komputer menyuruh mereka untuk sholat.

“Dulih sholat!”
“Berapa kali, Tad?”, Zain mengajukan pertanyaan identik seperti ketika disuruh lari tadi.
“Seket salaman.” jawaban identik pula yang didapat.
“Sholat apa, Tad?” Zain bertanya sangat detail mulai agak menyebalkan.
“Sholat apah bein”, jawab guru itu.

Maka mulailah mereka bersiap-siap sholat. Namun beberapa makmum malah kasak-kusuk dan tolah-toleh ke kanan kiri mereka. Masih bingung mau melaksanakan sholat apa. Salah satu dari mereka akhirnya bertanya pada imam, si Zainuddin,

“Cak Jen, niatnya sholat apa?”
“Sholat apa saja”, jawab Zainuddin menyampaikan dawuh gurunya di atas.

Hingga saat ini masih menjadi misteri apakah niat sholat saat itu. Apakah sholat muthlaq, sholat qodlo’, bahkan tidak menutup kemungkinan ada pula santri lugu yang berniat,

“Usholli apa saja lillahi ta’ala.”

Mereka pun mulai mengerjakan sholat. Hampir semuanya sholat dengan berjingkat. Hanya satu dua yang tidak. Kaki mereka melepuh. Air berkantung di telapak kakinya.

10 salaman, 20 salaman…, hingga 50 salaman tuntas.

Terasa jauh lebih lama daripada sholat biasanya. Sungguh sebuah semangat dan perjuangan yang luar biasa. Namun mereka tidak merasa itu adalah sebuah pengorbanan. Karena bukanlah cinta bila masih merasa berkorban.

Jadi, Singkatannya Apa Sih?

Bahkan hingga saat tulisan ini terbit, arti sebenarnya dari SAS belumlah selesai. Masih abstrak. Maknanya terus berkembang dari waktu ke waktu. Judul tulisan ini pun dapat pula menjelaskan SAS – Singkatannya Apa Sih. Masing-masing dari kita dapat dan sah-sah saja memaknai SAS.

Ada pula salah satu makna alternatif dari SAS yang akan tetap relevan sepanjang zaman yaitu, SAS – Shallallahu Alayhi wa Sallam.

Wallahu a’lam bishshowab.

Oleh: Lukman Hakim

Pendidikan Menurut Kiai Mahfudz Abdul Hannan

Jumat Pagi, 19 Mei, di hari imtihan 2017, Kiai Mahfudz mengumpulkan semua alumni ustadz yang masih aktif mengajar di Pesantren Fatihul Ulum. Yang hadir saat itu adalah Ustadz Hasyim Ali, Ustadz Ahmad Sa’dullah, Ustadz Thohari, Ustadz Hanafi, Ustadz Sholehan Bunyamin, Ustadz Ghozali, Ustadz Abdur Rohim, Ustadz Alimuddin, dan saya sendiri. Yang berhalangan hadir adalah KH. Saifuddin Jamil, Ustadz Slamet Riady, dan Ustadz Khosyi’in.

Pendidikan Menurut Kiai Mahfudz
Suasana Belajar di Kelas Diniyah.

Acara kumpul-kumpul seperti ini sebenarnya rutin dilakukan setiap tahun menjelang imtihan. Tapi, tahun ini ada yang berbeda. Biasanya yang turut berkumpul adalah semua dewan asatidz wa asatidzah, yang sudah alumni dan yang masih aktif di pesantren. Tahun ini hanya kami yang disebutkan diatas. Sementara pengurus yang lain di waktu dan tempat yang berbeda. Biasanya Kiai hanya mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya membantu kegiatan belajar di Fatihul Ulum dan memberi bingkisan. Tahun ini ada ucapan yang berbeda.

Tentang Qiroatul Kitab, beliau menyebutnya metode IQRO’

Setelah mengucapkan puji syukur dan sholawat, seperti biasa Kiai mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama para dewan asatidz selama setahun.

Dalam pertemuan ini, Kiai berpesan agar para asatidz jangan meninggalkan metode qiroatul kitab yang sudah menjadi ‘pembeda abadi’ pesantren Fatihul Ulum Manggisan dengan pesantren lain. Menurut Kiai, metode qiroatul kitab yang selama ini diterapkan sudah terbukti berhasil. Jangan sampai kebijakan terbaru yang diambil para pengurus justru melemahkan cara lama yang sudah teruji ini.

…Kiai berpesan agar para asatidz jangan meninggalkan metode qiroatul kitab yang sudah menjadi ‘pembeda abadi’…

Kiai menganalogikan metode qiroatul kitab dengan seseorang yang belajar membaca Al-Quran. Belajar membaca Al-Quran untuk menjadi pintar (ngEwes bacaannya) tidak memerlukan perangkat yang banyak dan rumit. Cukup sering-seringlah membaca Al-Quran, baik sendiri atau di hadapan guru, maka bacaan Al-Qurannya akan ngEwes. Guru tinggal mengarahkan jika diketahui bacaannya salah. Guru tidak perlu menjelaskan mengapa lafadz di Al-Quran dibaca rofa’ atau jarr. Fokusnya adalah membaca, membaca, dan membaca dengan benar. Tak perlu tahu alasannya. Demikian juga dalam membaca kitab gundul.

Bisa dipahami bahwa keinginan Kiai Mahfudz sebagai pengasuh salah satunya adalah memperkuat bacaan kitab santri, karena inilah ciri khas Fatihul Ulum Manggisan. Menurut penelitian Kiai, kualitas bacaan kitab santri sekarang sedang rendah. Inilah yang harus disadari oleh para pembantunya; para pengurus pondok. Menurutnya, sejarah Pesantren Fatihul Ulum selama ini telah memberi fakta bahwa jika qiroatul kitabnya santri baik maka akan diikuti oleh pemahaman yang baik. Bahkan beliau sering berkata, jika santri sudah mempunyai kegemaran membaca maka pemahaman kandungan kitab yang dibaca datang dengan sendirinya.

…jika santri sudah mempunyai kegemaran membaca maka pemahaman kandungan kitab yang dibaca datang dengan sendirinya.

Saya jadi ingat ketika dahulu nyantri. Kebanyakan santri Fatihul Ulum waktu itu berbahasa Madura toktok. Setiap hari belajar agama dari kitab berbahasa Arab yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. Ustadz yang mengajar pun dari suku Madura tanpa campuran. Maka otomatis para santri mengalami kesulitan bahasa. Tapi, urusan membaca kitab, santri zaman itu ngEwes. Satu kitab hafal makna dari awal sampai akhir. Menjelang lomba akhir sanah, hampir tiap malam khatam membaca kitab yang akan dilombakan. Dari ke-ngEwesan itulah mereka akhirnya juga mempunyai kemampuan membaca kitab-kitab lain yang lebih tebal walaupun belum diajarkan. Inilah, menurut saya, yang dikehendaki Kiai untuk terus dipertahankan dan dikuatkan (menjadi prioritas).

Memahami kandungan kitab

Kiai juga menyinggung tentang cara memahami kitab. Tindak lanjut dari qiroatul kitab adalah fahmul kitab. Untuk menjadi paham secara pribadi cukuplah memahaminya dengan bahasa sehari-hari. Namun, pada pertemuan ini, kiai menyarankan agar para santri dilatih memahami kandungan kitab memakai bahasa pengantar Bahasa Indonesia. Kelemahan berbahasa Indonesia santri rupanya disadari oleh kiai. Dalam berbagai kesempatan, kiai sering memberi saran agar Bahasa Indonesia dijadikan bahasa komunikasi pengurus pesantren. Urusan bahasa ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu dikonsep secara baik oleh para pengurus pesantren. Misalnya dijadikan sebagai bahasa wajib komunikasi murid dan guru. Agar prinsip-prinsip dasar yang diingini pengasuh menjadi warna dominan di Fatihul Ulum.

Metode ‘membaca’

Bacaan kitab, iqro’, atau apapun sebutannya, sebenarnya adalah satu metode yang sudah kokoh. Di dalam buku-buku pembelajaran bahasa asing (arab, inggris, atau lainnya) metode ini dikenal dengan sebutan Thoriqah al-Qiroah/Reading Method. Pada dasarnya, setiap pengajaran bahasa asing bertujuan agar para santri mempunyai keterampilan berbahasa. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak (listening/istima’), terampil berbicara (speaking/kalam), terampil membaca (reading/qiroah) dan terampil menulis (writing/kitabah). Dari empat tujuan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa kitab, yang menjadi prioritas kiai adalah terampil membaca (kitab).

Mengapa hanya terampil membaca yang diprioritaskan? Sekali lagi alasannya adalah karena ‘qiroatul kitab’ sudah menjadi ciri khas Pesantren Fatihul Ulum. Alasan lainnya bahwa pengajaran bahasa itu sulit mencapai multi tujuan. Kalau kita sedikit menengok ke pesantren yang fokus di tahfidzul quran, fokus di entrepreneur, fokus di sekolah formalnya, fokus pada ilmu alat (sastra), rata-rata alumninya hanya memiliki kemampuan pada fokus masing-masing dan tidak mempunyai kemampuan membaca kitab dengan baik. Alasan berikutnya adalah bahwa kebutuhan realistis santri Fatihul Ulum hanyalah pada memahami Fiqh dan Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, disamping skill lain, sebagai bekal hidup dalam masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan itu jalan lebarnya adalah santri dididik agar mempunyai kegemaran dan kecepatan ‘membaca’ bacaan yang sudah menjadi kurikulum pesantren.

Kegiatan Pembelajaran yang Menunjang Pemikiran Pendidikan Kiai Mahfudz

Sebagaimana diketahui bahwa basis pembelajaran dasar yang selama ini diterapkan di Pesantren Fatihul Ulum adalah mempunyai kemampuan membaca teks pego. Didahului di kelas shifir dan atau kelas satu diniyah, materi diajarkan dengan cara menulis semua mata pelajaran yang kebanyakan dalam bahasa Jawa, memaknai kitab dengan bahasa Jawa dan pelajaran imla’. Tujuan pokok setiap materi kelas paling dasar ini adalah: mengenalkan bahasa Jawa kepada santri baru yang dominan suku Madura dan mengajari mereka mempunyai kemampuan menulis pego serta mampu membacanya. Kemampuan menulis pego harus terbangun dengan baik dikelas ini. Standar minimal di kelas ini adalah BISA menulis pego, BISA membaca pego, dan MENGENAL bahasa Jawa yang kedepannya akan menjadi bahasa utama dalam setiap pengajian kitab. Baca kitab tanpa makna di kelas ini tidaklah mengganggu standar minimal.

Pendidikan ala Kiai Mahfud
Rasanya tegang kalau sudah maju begini.

Di kelas dua diniyah, santri harus mempunyai kemampuan menulis dan membaca pego. Standar minimal di kelas ini menjadi harus mampu membaca kitab fikih dasar, semacam kitab al-Mabady’ul Fiqh juz dua, berharokat tanpa makna. Fokus santri adalah menghafal kosa kata bahasa Arab dan Jawa sekaligus. Pengenalan kosa kata Jawa juga didukung dengan penggunaan kitab Tarikhun Nabi berbahasa Jawa. Pencapaian minimal di kelas dua diniyah adalah santri MENGENAL kosa kata Arab dan MENGHAFAL kosa kata Jawa sebanyak-banyaknya melalui kecepatan membaca (qiroatul kitab) tanpa makna. Santri belum dibebani ilmu alat.

Setelah dua tahun pelajaran, santri sudah BISA menulis dan membaca pego dan banyak hafal kosa kata Jawa dan Arab yang berkaitan dengan materi fiqh. Santri tidak dituntut mampu berdialog Jawa, apalagi Arab. Tajuid sebagai pelajaran pendamping diajarkan untuk kebaikan membaca al-Quran dan sistem bunyi Bahasa Arab agar santri mampu membedakan huruf. Semua pengajar di jenjang ini harus mempunyai prioritas yang sama yaitu, MENYIAPKAN santri menjadi anak didik yang mempunyai kecintaan membaca kitab.

Di kelas tiga diniyah, prioritasnya sama seperti kelas dua diniyah. Tetapi, santri mulai dikenalkan dengan kitab gundul. Kitab Taqrib. Tuntutannya (standar minimalnya) disini adalah MENAMBAH koleksi kosa kata Jawa dan Arab dan mempraktekkannya pada qiroatul kitab kitab Taqrib tanpa makna tanpa harokat. Di kelas tiga inilah santri harus bisa dan biasa membaca kitab tanpa makna tanpa harokat dengan baik dan benar. Sedangkan alasan-alasan mengapa ini dibaca begini, itu dibaca begitu tidak begitu penting diketahui santri dikelas ini. Dikelas ini juga analogi Kiai tentang belajar qiroatul kitab itu seperti belajar membaca al-Quran mulai jelas kesesuaiannya. Pelajaran gramatika arab seperti, shorof, i’lal, dan nahwu paling dasar sebagai persiapan memasuki jenjang berikutnya, juga diajarkan secara sederhana. Santri yang qiroatul kitabnya belum baik, layak tidak naik kelas.

Kelas empat adalah kelas terberat. Santri yang pemalas waktu kelas dua dan tiga, akan mengalami kepayahan luar biasa. Santri yang kebanyakan berbahasa Madura itu, sekarang diperlakukan seperti orang Jawa dan Arab. Tuntutan di kelas empat menjadi:

  1. Mampu membaca kitab Fathul Qorib separuh pertama tanpa harokat,
  2. Mampu menerjemahkannya dalam Bahasa Jawa, dan;
  3. Mampu mengetahui alasan-alasan bacaan dari sebuah lafadz.

Untuk membantu suksesnya qiroatul kitab di kelas ini, maka diajarkan kitab al-Ajurumiyah, lughowy, diskusi-diskusi mingguan, dan lainnya. Dikelas ini juga mulai diajarkan memahami kandungan kitab. Ingat, rumusnya Kiai Mahfudz adalah “Bacaan yang baik = kemudahan untuk memahami kandungannya”. Rumus kedua adalah “gunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia”.

Tidak boleh tidak, santri yang gagal menggapai standar (tuntutan) di kelas ini, berupa kemampuan membaca kitab gundul, sebaiknya tidak naik ke kelas lima.

Pendidikan ala Kiai Mahfud
Menunduk, agar tak kena tunjuk.

Kelas lima menjadi mudah jika kualitas bacaan kitab waktu kelas empat baik. Santri tinggal melanjutkan menambah kosa kata baru yang belum dikenal. Untuk mendukung kemampuan santri dikelas ini, ilmu alat yang agak rumit mulai diajarkan. Kitab Imrithy menjadi salah satu kitab yang diajarkan hingga khatam. Fathul Qorib separuh kedua juga harus mampu dibaca dengan baik, tanpa makna. Tuntutan di kelas ini sama dengan di kelas empat.

Zaman saya nyantri, kalau ada teman santri yang izin boyong, biasanya Kiai bertanya sudah kelas berapa diniyahnya. Kalau belum selesai kelas lima, biasanya Kiai menyarankan agar menuntaskan dulu hingga kelas lima. Maksudnya, tuntaskan dulu kitab Fathul Qoribnya, baru boleh boyong. Santri sudah dianggap mempunyai bekal untuk perjalanan hidup di masyarakat jika sudah selesai menelaah Fathul Qorib, kitab ringkas yang memuat setiap pembahasan fiqh.

Itulah perjalanan 5 TAHUN santri Fatihul Ulum, target besarnya adalah: BISA MEMBACA KITAB FATHUL QORIB DARI AWAL HINGGA AKHIR TANPA MAKNA. Istilah dalam ilmu bahasa adalah mampu membaca intensif dan ekstensif. Mata pelajaran lainnya adalah sebagai pendukung tujuan utama.

Jika target ini sukses, santri diharapkan bisa mempunyai kemandirian belajar. Seandainya ingin menelaah kitab selain Fathul Qorib, mereka sudah mampu melakukannya, kesulitan yang mungkin datang bisa diatasi dengan bantuan kamus Arab-Indonesia atau Jawa-Indonesia.

Kelas enam adalah kelas impian. Dulu, dikelas satu diniyah, awal tahun 76 santri, ketika lulus kelas enam hanya tersisa 16 santri. Lulus Diniyah Tsanawiyah hanya 7 santri. Sulit sekali santri nyantri melampaui lima tahun. Hanya segelintir santri yang mendapat dukungan penuh dari orang tua yang biasanya melampauinya. Dikelas enam Diniyah Ibtidaiyah hingga kelas 1,2 dan 3 Diniyah Tsanawiyah merupakan masa pendalaman fiqh dengan Fathul Muinnya dan ilmu alat dengan Ibnu Aqilnya. Ditambah materi tambahan seperti pelajaran hadits dengan Bulugul Marom dan Riyadhus Sholihin serta pelajaran Ilmu Falakiyah.

Prosedur teknik atau langkah-langkah pengajaran bahasa asing (kitab gundul) dengan menggunakan metode membaca adalah sebagai berikut:

  1. Guru memulai pembelajaran dengan membahas lafadz-lafadz atau ungkapan baru yang akan ditemui santri didalam teks bab / fasal yang akan dimaknai
  2. Setelah itu guru mulai mendiktekan makna kitab dalam bahasa jawa kepada santri hingga batas yang ingin dicapai
  3. Disaat berlangsungnya memaknai kitab, guru menjelaskan makna kosa kata baru bahasa Jawa yang ditemui diikuti dengan menjelaskan kandungannya
  4. Dilanjutkan dengan mempersilahkan santri membaca sendiri-sendiri secara diam secukupnya (alqiroah asy-syamilah / silent reading)
  5. Setelah itu, guru memilih beberapa santri secara acak untuk mengulang membaca kitab yang sudah dimaknai secara bersuara sambil mencatat kesulitan-kesulitan yang dialami santri, baik kosa kata Arab atau Jawa
  6. Menjelaskan dan mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dialami santri
  7. Membuka pertanyaan-pertanyaan seputar materi
  8. Setelah selesai, santri mendapat tugas menghafal makna dari teks-teks yang sudah dimaknai untuk bisa membaca pakai makna / tanpa makna dengan baik dan benar pada pertemuan berikutnya.
  9. Untuk santri kelas akhir diniyah ibtidaiyah dan tsanawiyah, pelajaran bisa ditutup dengan memberikan tugas berupa merangkum tentang isi bacaan / kitab yang dimaknai.

Langkah-langkah di atas masih bisa dikembangkan dan dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi santri.

Kekuatan dan Kelemahan Metode Membaca

Tidak ada sesuatu yang sempurna. Karena itulah harus diperkuat agar lebih sempurna. Metode membaca atau reading method mempunyai banyak kekuatan dan kelemahan. Kekuatannya mesti dirawat dan diperhatikan, sedang kelemahannya terus didiskusikan untuk disempurnakan.

Adapun kekuatannya antara lain:

  1. Memungkinkan para santri dapat membaca kitab dengan kecepatan yang wajar tanpa harus dibebani dengan analisis gramatika mendalam (tak usah ker-mekker nahwu shorofnya).
  2. Santri banyak menguasai kosa kata secara pasif  (bisa macah kitab Arab, tapi tak bisah aomong Arab), bahasa lainnya adalah santri mempunyai komunikasi yang baik dengan kitab yang menjadi bahan bacaannya (makeh ebecah nyongsang, bisah).
  3. Santri banyak menguasai kosa kata Jawa (tapi ora iso ngomong Jowo).
  4. Santri bisa menggunakan fungsi Nahwu-Shorof (walaupun terkadang tidak mengerti alasannya).
  5. Santri terlatih memahami bacaan dengan analisis isi, tidak dengan analisis gramatika (santri bisa membaca kitab lain karena sudah tahu isinya, walaupun belum tahu gramatikanya).

Sedangkan kelemahannya adalah:

  1. Santri tidak / kurang terampil dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab
  2. Santri kurang terampil dalam mengarang / menulis
  3. Karena yang difokuskan sebagai bahan latihan adalah kitab fiqh, maka santri lemah dalam memahami teks lain, misalnya kitab hadits, politik atau kitab akidah
  4. Metode bacaan hanya cocok diberikan kepada santri yang suka membaca dan menjadi kejenuhan atas santri yang tidak suka membaca

Yang penting didiskusikan dari empat kelemahan diatas adalah Ngaji Jurnalistik agar santri gemar menulis dan memikirkan santri malas membaca agar menjadi santri hobi membaca.

Demikianlah salah satu sumbangsih artikel untuk memahami pemikiran Kiai Mahfudz Abdul Hannan tentang pendidikan, khususnya metode membaca kitab gundul. Metode ini diulang-ulang disebutkan oleh Kiai agar tetap dipertahankan. Oleh karena itu, semua usaha-usaha pengembangan dan penambahan kegiatan seyogyanya dalam rangka mencapai visi pengasuh. Cara baru elok digunakan jika ‘mungkin lebih baik’ dari cara lama dan segeralah ditinggalkan jika tak terbukti, dan cara lama patut dipertahankan jika masih baik dan relevan dipertahankan dan cara lama itu adalah metode membaca.

*) Artikel asli berjudul: Usaha Memahami Pemikiran Pendidikan K.H. Mahfudz Abdul Hannan.

Generasi Wacana

Saya sering kasihan melihat anak-anak muda yang makin pintar tapi hidupnya galau. Penyebabnya beragam. Misalnya, karena hal sepele saja.

Belum lagi tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar orang tuanya, “Mau kuliah di mana? Swasta, atau negeri?”

Bahkan sampai menjelang lulus SMA sekalipun masih banyak yang bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa?

Jangan heran kalau banyak yang salah jurusan, bahkan sarjana nuklir pun berkarir di bank, pertanian jadi wartawan dan seterusnya. Susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, namun begitu lulus maunya jadi motivator.

Karena sejak awal sudah galau, setelah lulus tetap galau. Generasi ini pada gilirannya bermetamorfosa menjadi generasi wacana. Jadi karena dulu selalu galau, setelah lulus hanya mampu berwacana.

Ribut melulu, paling jauh cuma bisa buat heboh di sosial media, membuat meme, tapi tak berani bertindak. Apalagi mengambil keputusan.

Suaranya Keras

Indikatornya simpel. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka di mana-mana. Contohnya begini. Ada dahan yang patah dan menghalangi jalan. Lalu lintas pun jadi macet. Apa yang dilakukan oleh generasi wacana?

Dengan gadget-nya, mereka memotret dahan itu, juga memotret kemacetan yang terjadi. Lalu, mengunggahnya ke media sosial, tentu disertai dengan komentar. Isinya kritik. “Di mana dinas pertamanan kita? Ada dahan tumbang kok didiamkan!”

Lalu, ketika hasil unggahannya dikomentari banyak orang, senangnya bukan main. Begitulah potret generasi wacana. Padahal kalau mau membantu, dia bisa menyingkirkan dahan tersebut dari jalan. Bukan hanya berwacana.

Begitulah kita juga saksikan sikap mereka terhadap asap. Itu hanya satu contoh. Contoh lainnya ada di mana-mana.

Generasi wacana ini sebagian memasuki dunia kerja. Beberapa dari mereka meningkat kariernya dan menduduki posisi-posisi penting.

Kalau di perusahaan swasta, mereka inilah yang berteriak paling keras ketika kondisi ekonomi menjadi lebih sulit. Misalnya, ketika pemerintah mengubah kebijakan, atau ketika Rupiah melemah/kembali menguat seperti sekarang ini.

Kalau di dunia politik, mereka ributnya minta ampun. Persis seperti anggota DPR kita. Bisanya kritik sana, kritik sini, tapi pekerjaan utamanya, seperti membuat undang-undang, malah tidak diurus.

Kalau di lingkungan pemerintahan, mereka adalah orang-orang yang sibuk mengamankan posisi dan cari selamat.

Caranya? Adu pintar debat dan lihai membangun argumentasi. Mereka sangat pintar kalau soal ini. Tapi, nyalinya langsung menciut ketika ditantang untuk mengambil keputusan.

Akibatnya kita merasakan dampaknya. Penyerapan anggaran akan terus sangat rendah dan kinerja perekonomian kita pun melambat. Kalau pemerintah saja tidak punya nyali, apalagi kalangan swasta.

we-CHANGE

Kalau mau melihat masa depan suatu negara, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya.

Kata banyak orang, karena galau dan hanya sibuk berwacana, negara kita tertinggal sepuluh tahun dibanding negara-negara lain.

Contohnya gampang. Lihatlah jalan tol kita. Kita mulai membangun jalan tol sejak 1973. Lebih dulu ketimbang Malaysia dan China. Tapi, coba lihat berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun?

Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1990. Namanya, jalan tol Anyer-Hitam, panjangnya sekitar 10 kilometer. Itu pun yang mengerjakan BUMN kita, PT Hutama Karya. Kini panjang jalan tol di Malaysia sudah mencapai 3.000-an kilometer.

China pun baru membangun jalan tol pada 1990. Jalan tol pertama yang mereka bangun namanya Shenda, menghubungkan dua kota, Shenyang dan Dalian. Kini, China sudah memiliki jalan tol sepanjang 85.000 kilometer.

Anda tahu berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun hingga saat ini? Belum sampai 900 kilometer!

Begitulah, kalau negara lain sibuk membangun, kita sibuk berwacana lantaran tidak berani mengambil keputusan.

Baiklah saya juga tak mau disebut hanya bisa berwacana. Sebagai pendidik, yang saya lakukan adalah menempa anak-anak muda kita agar mereka tak hanya bisa berwacana, tapi berani mengambil keputusan. Itu sebabnya di Rumah Perubahan, saya menyiapkan program boot champwe-CHANGE.

Lewat program ini, saya akan merekrut banyak anak muda di bawah usia 30 tahun. Syaratnya sederhana. Gigih, disiplin, berpikiran terbuka, siap belajar dan punya tekad yang kuat untuk memperbaiki masa depan.

Mereka akan saya jadikan mentee, sedang saya mentornya. Saya akan mendidik untuk berani mengambil keputusan. Saya akan mendidik mereka untuk menjadi driver, bukan passenger. Silahkan cari informasinya. Ayo anak-anak muda, siapa berminat?

Rhenald Kasali
Jawa Pos, 19 Oktober 2015