cerpen

Perkenalkan, dia adalah Fatihul Ulum…

Dahulu kala ada seorang tukang kunci keliling bernama Fatihul Ulum yang sangat termahsyur karena keahliannya. Konon orangtuanya memberi nama itu dengan harapan putranya kelak akan menjadi pembuka setiap ilmu. Namun ternyata takdir tertulis lain. Ia berakhir sebagai seorang tukang kunci.

“Baiklah, jika demikian halnya, maka aku harus menjadi yang terbaik di jalanku”, batinnya selalu. Maka setiap hari ia pun berjalan ke berbagai pelosok desa dengan ditemani dua kotak peralatan yang naik turun seakan riang bermain ayunan di bahunya.

Perkenalkan, dia adalah Fatihul Ulum...

Suatu hari Fatihul Ulum bermaksud mewariskan satu ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian. Tukang kunci itu menyadari ia mulai renta dan tak lama lagi akan berkurang kemampuannya dalam menolong orang lain. Dia memiliki dua orang murid yang sama-sama pandai. Setelah beberapa tahun dididik, mereka sudah mahir dan mengusai semua teknik membuka segala jenis gembok.

Hanya saja, ilmu tertinggi itu harus diwariskan hanya kepada satu orang yang benar-benar memenuhi kriteria. Oleh karena itu, untuk menentukan pewaris ilmunya, si tukang kunci menggelar sebuah ujian secara bersamaan.

Maka disiapkanlah dua peti yang tergembok rapat dan di dalamnya diisi satu bungkusan barang berharga. Kedua peti itu ditempatkan di dua kamar bersebelahan. Berikutnya, murid pertama dan murid kedua disuruh masuk ke dalam kamar-kamar tadi secara bersamaan.

“Tugas kalian adalah membuka gembok peti-peti di dalam kamar itu. Ayo laksanakan..!!”, perintah si tukang kunci.

“Baik, Guru!”, jawab keduanya kompak.

Tidak lama kemudian, murid pertama keluar lebih dulu dari kamar dan tampak berhasil menyelesaikan tugasnya. Si tukang kunci langsung bertanya, “Bagus, kau berhasil. Apa isi peti itu?”.

Dengan rasa percaya diri dan perasaan penuh kemenangan, murid pertama menjawab,
“Di dalam peti ada sebuah bungkusan, dan di dalam bungkusan itu ada sebuah permata yang berkilauan. Indah sekali.”

Mendengar jawaban yang polos itu, sang guru tersenyum bijak. Ia segera menoleh ke arah murid kedua yang baru saja keluar dari kamar yang satunya. Ia langsung menanyakan hal yang sama,
“Bagus, kau berhasil. Apa isi peti itu?”.

Mengetahui dirinya kalah cepat dalam membuka peti, murid kedua hanya menjawab pelan,
“Saya hanya membuka gembok peti itu, lalu keluar. Saya tidak membuka peti itu, apalagi melihat isinya.”

Mendengar jawaban itu, Fatihul Ulum si tukang kunci tersenyum puas.

“Baiklah, berdasarkan hasil ujian tadi maka kau, murid kedua… kaulah pemenangnya. Kamulah yang akan mewarisi ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian yang aku miliki”, demikian si tukang kunci menjelaskan.

Keputusan itu sontak saja membuat murid pertama kaget setengah mati.
“Guru…,” murid pertama menyela, “bukankah saya yang berhasil membuka gembok lebih cepat. Mengapa justru dia yang menjadi pemenangnya?”. Murid pertama tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

Mendengar ungkapan kekecewaan muridnya itu, si tukang kunci tersenyum bijak.
“Murid-muridku, dengarlah… profesi kita adalah tukang kunci, dan tugas kita adalah membantu orang membuka gembok yang kuncinya hilang atau rusak. Jika gembok sudah dibuka, tugas kita selesai. Kalau kita juga ingin melihat isinya, itu artinya kita melanggar kode etik profesi kita sebagai ahli kunci.”

Si tukang kunci meneruskan nasehatnya, “Tidak peduli apapun pekerjaan kita, moral dan etika profesional harus dijunjung tinggi. Tanpa moral dan etika, maka seorang ahli kunci bisa dengan mudah beralih profesi menjadi pencuri. Kalian mengerti?”

Mendengar hal itu, murid pertama mengangguk-anggukan kepala. Dia menyadari dimana letak kesalahannya. Dia juga bersyukur telah mendapat satu lagi pelajaran moral yang sangat berharga sebelum turun ke tengah-tengah masyarakat.

Walaupun kecewa karena dirinya tidak bisa menjadi pewaris ilmu tertinggi sang guru, ia merasa mendapatkan satu lagi ilmu berharga. Ilmu itu tak lain adalah ilmu mengenai moral dan etika profesional.

Sejak saat itu murid pertama berjanji pada diri sendiri, kelak dalam menjalankan profesinya, ia akan menjadi seorang ahli kunci profesional yang menjunjung tinggi moralitas dan etika profesional.

Sumber: Internet