belajar

Pendidikan Menurut Kiai Mahfudz Abdul Hannan

Jumat Pagi, 19 Mei, di hari imtihan 2017, Kiai Mahfudz mengumpulkan semua alumni ustadz yang masih aktif mengajar di Pesantren Fatihul Ulum. Yang hadir saat itu adalah Ustadz Hasyim Ali, Ustadz Ahmad Sa’dullah, Ustadz Thohari, Ustadz Hanafi, Ustadz Sholehan Bunyamin, Ustadz Ghozali, Ustadz Abdur Rohim, Ustadz Alimuddin, dan saya sendiri. Yang berhalangan hadir adalah KH. Saifuddin Jamil, Ustadz Slamet Riady, dan Ustadz Khosyi’in.

Pendidikan Menurut Kiai Mahfudz
Suasana Belajar di Kelas Diniyah.

Acara kumpul-kumpul seperti ini sebenarnya rutin dilakukan setiap tahun menjelang imtihan. Tapi, tahun ini ada yang berbeda. Biasanya yang turut berkumpul adalah semua dewan asatidz wa asatidzah, yang sudah alumni dan yang masih aktif di pesantren. Tahun ini hanya kami yang disebutkan diatas. Sementara pengurus yang lain di waktu dan tempat yang berbeda. Biasanya Kiai hanya mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya membantu kegiatan belajar di Fatihul Ulum dan memberi bingkisan. Tahun ini ada ucapan yang berbeda.

Tentang Qiroatul Kitab, beliau menyebutnya metode IQRO’

Setelah mengucapkan puji syukur dan sholawat, seperti biasa Kiai mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama para dewan asatidz selama setahun.

Dalam pertemuan ini, Kiai berpesan agar para asatidz jangan meninggalkan metode qiroatul kitab yang sudah menjadi ‘pembeda abadi’ pesantren Fatihul Ulum Manggisan dengan pesantren lain. Menurut Kiai, metode qiroatul kitab yang selama ini diterapkan sudah terbukti berhasil. Jangan sampai kebijakan terbaru yang diambil para pengurus justru melemahkan cara lama yang sudah teruji ini.

…Kiai berpesan agar para asatidz jangan meninggalkan metode qiroatul kitab yang sudah menjadi ‘pembeda abadi’…

Kiai menganalogikan metode qiroatul kitab dengan seseorang yang belajar membaca Al-Quran. Belajar membaca Al-Quran untuk menjadi pintar (ngEwes bacaannya) tidak memerlukan perangkat yang banyak dan rumit. Cukup sering-seringlah membaca Al-Quran, baik sendiri atau di hadapan guru, maka bacaan Al-Qurannya akan ngEwes. Guru tinggal mengarahkan jika diketahui bacaannya salah. Guru tidak perlu menjelaskan mengapa lafadz di Al-Quran dibaca rofa’ atau jarr. Fokusnya adalah membaca, membaca, dan membaca dengan benar. Tak perlu tahu alasannya. Demikian juga dalam membaca kitab gundul.

Bisa dipahami bahwa keinginan Kiai Mahfudz sebagai pengasuh salah satunya adalah memperkuat bacaan kitab santri, karena inilah ciri khas Fatihul Ulum Manggisan. Menurut penelitian Kiai, kualitas bacaan kitab santri sekarang sedang rendah. Inilah yang harus disadari oleh para pembantunya; para pengurus pondok. Menurutnya, sejarah Pesantren Fatihul Ulum selama ini telah memberi fakta bahwa jika qiroatul kitabnya santri baik maka akan diikuti oleh pemahaman yang baik. Bahkan beliau sering berkata, jika santri sudah mempunyai kegemaran membaca maka pemahaman kandungan kitab yang dibaca datang dengan sendirinya.

…jika santri sudah mempunyai kegemaran membaca maka pemahaman kandungan kitab yang dibaca datang dengan sendirinya.

Saya jadi ingat ketika dahulu nyantri. Kebanyakan santri Fatihul Ulum waktu itu berbahasa Madura toktok. Setiap hari belajar agama dari kitab berbahasa Arab yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. Ustadz yang mengajar pun dari suku Madura tanpa campuran. Maka otomatis para santri mengalami kesulitan bahasa. Tapi, urusan membaca kitab, santri zaman itu ngEwes. Satu kitab hafal makna dari awal sampai akhir. Menjelang lomba akhir sanah, hampir tiap malam khatam membaca kitab yang akan dilombakan. Dari ke-ngEwesan itulah mereka akhirnya juga mempunyai kemampuan membaca kitab-kitab lain yang lebih tebal walaupun belum diajarkan. Inilah, menurut saya, yang dikehendaki Kiai untuk terus dipertahankan dan dikuatkan (menjadi prioritas).

Memahami kandungan kitab

Kiai juga menyinggung tentang cara memahami kitab. Tindak lanjut dari qiroatul kitab adalah fahmul kitab. Untuk menjadi paham secara pribadi cukuplah memahaminya dengan bahasa sehari-hari. Namun, pada pertemuan ini, kiai menyarankan agar para santri dilatih memahami kandungan kitab memakai bahasa pengantar Bahasa Indonesia. Kelemahan berbahasa Indonesia santri rupanya disadari oleh kiai. Dalam berbagai kesempatan, kiai sering memberi saran agar Bahasa Indonesia dijadikan bahasa komunikasi pengurus pesantren. Urusan bahasa ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu dikonsep secara baik oleh para pengurus pesantren. Misalnya dijadikan sebagai bahasa wajib komunikasi murid dan guru. Agar prinsip-prinsip dasar yang diingini pengasuh menjadi warna dominan di Fatihul Ulum.

Metode ‘membaca’

Bacaan kitab, iqro’, atau apapun sebutannya, sebenarnya adalah satu metode yang sudah kokoh. Di dalam buku-buku pembelajaran bahasa asing (arab, inggris, atau lainnya) metode ini dikenal dengan sebutan Thoriqah al-Qiroah/Reading Method. Pada dasarnya, setiap pengajaran bahasa asing bertujuan agar para santri mempunyai keterampilan berbahasa. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak (listening/istima’), terampil berbicara (speaking/kalam), terampil membaca (reading/qiroah) dan terampil menulis (writing/kitabah). Dari empat tujuan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa kitab, yang menjadi prioritas kiai adalah terampil membaca (kitab).

Mengapa hanya terampil membaca yang diprioritaskan? Sekali lagi alasannya adalah karena ‘qiroatul kitab’ sudah menjadi ciri khas Pesantren Fatihul Ulum. Alasan lainnya bahwa pengajaran bahasa itu sulit mencapai multi tujuan. Kalau kita sedikit menengok ke pesantren yang fokus di tahfidzul quran, fokus di entrepreneur, fokus di sekolah formalnya, fokus pada ilmu alat (sastra), rata-rata alumninya hanya memiliki kemampuan pada fokus masing-masing dan tidak mempunyai kemampuan membaca kitab dengan baik. Alasan berikutnya adalah bahwa kebutuhan realistis santri Fatihul Ulum hanyalah pada memahami Fiqh dan Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, disamping skill lain, sebagai bekal hidup dalam masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan itu jalan lebarnya adalah santri dididik agar mempunyai kegemaran dan kecepatan ‘membaca’ bacaan yang sudah menjadi kurikulum pesantren.

Kegiatan Pembelajaran yang Menunjang Pemikiran Pendidikan Kiai Mahfudz

Sebagaimana diketahui bahwa basis pembelajaran dasar yang selama ini diterapkan di Pesantren Fatihul Ulum adalah mempunyai kemampuan membaca teks pego. Didahului di kelas shifir dan atau kelas satu diniyah, materi diajarkan dengan cara menulis semua mata pelajaran yang kebanyakan dalam bahasa Jawa, memaknai kitab dengan bahasa Jawa dan pelajaran imla’. Tujuan pokok setiap materi kelas paling dasar ini adalah: mengenalkan bahasa Jawa kepada santri baru yang dominan suku Madura dan mengajari mereka mempunyai kemampuan menulis pego serta mampu membacanya. Kemampuan menulis pego harus terbangun dengan baik dikelas ini. Standar minimal di kelas ini adalah BISA menulis pego, BISA membaca pego, dan MENGENAL bahasa Jawa yang kedepannya akan menjadi bahasa utama dalam setiap pengajian kitab. Baca kitab tanpa makna di kelas ini tidaklah mengganggu standar minimal.

Pendidikan ala Kiai Mahfud
Rasanya tegang kalau sudah maju begini.

Di kelas dua diniyah, santri harus mempunyai kemampuan menulis dan membaca pego. Standar minimal di kelas ini menjadi harus mampu membaca kitab fikih dasar, semacam kitab al-Mabady’ul Fiqh juz dua, berharokat tanpa makna. Fokus santri adalah menghafal kosa kata bahasa Arab dan Jawa sekaligus. Pengenalan kosa kata Jawa juga didukung dengan penggunaan kitab Tarikhun Nabi berbahasa Jawa. Pencapaian minimal di kelas dua diniyah adalah santri MENGENAL kosa kata Arab dan MENGHAFAL kosa kata Jawa sebanyak-banyaknya melalui kecepatan membaca (qiroatul kitab) tanpa makna. Santri belum dibebani ilmu alat.

Setelah dua tahun pelajaran, santri sudah BISA menulis dan membaca pego dan banyak hafal kosa kata Jawa dan Arab yang berkaitan dengan materi fiqh. Santri tidak dituntut mampu berdialog Jawa, apalagi Arab. Tajuid sebagai pelajaran pendamping diajarkan untuk kebaikan membaca al-Quran dan sistem bunyi Bahasa Arab agar santri mampu membedakan huruf. Semua pengajar di jenjang ini harus mempunyai prioritas yang sama yaitu, MENYIAPKAN santri menjadi anak didik yang mempunyai kecintaan membaca kitab.

Di kelas tiga diniyah, prioritasnya sama seperti kelas dua diniyah. Tetapi, santri mulai dikenalkan dengan kitab gundul. Kitab Taqrib. Tuntutannya (standar minimalnya) disini adalah MENAMBAH koleksi kosa kata Jawa dan Arab dan mempraktekkannya pada qiroatul kitab kitab Taqrib tanpa makna tanpa harokat. Di kelas tiga inilah santri harus bisa dan biasa membaca kitab tanpa makna tanpa harokat dengan baik dan benar. Sedangkan alasan-alasan mengapa ini dibaca begini, itu dibaca begitu tidak begitu penting diketahui santri dikelas ini. Dikelas ini juga analogi Kiai tentang belajar qiroatul kitab itu seperti belajar membaca al-Quran mulai jelas kesesuaiannya. Pelajaran gramatika arab seperti, shorof, i’lal, dan nahwu paling dasar sebagai persiapan memasuki jenjang berikutnya, juga diajarkan secara sederhana. Santri yang qiroatul kitabnya belum baik, layak tidak naik kelas.

Kelas empat adalah kelas terberat. Santri yang pemalas waktu kelas dua dan tiga, akan mengalami kepayahan luar biasa. Santri yang kebanyakan berbahasa Madura itu, sekarang diperlakukan seperti orang Jawa dan Arab. Tuntutan di kelas empat menjadi:

  1. Mampu membaca kitab Fathul Qorib separuh pertama tanpa harokat,
  2. Mampu menerjemahkannya dalam Bahasa Jawa, dan;
  3. Mampu mengetahui alasan-alasan bacaan dari sebuah lafadz.

Untuk membantu suksesnya qiroatul kitab di kelas ini, maka diajarkan kitab al-Ajurumiyah, lughowy, diskusi-diskusi mingguan, dan lainnya. Dikelas ini juga mulai diajarkan memahami kandungan kitab. Ingat, rumusnya Kiai Mahfudz adalah “Bacaan yang baik = kemudahan untuk memahami kandungannya”. Rumus kedua adalah “gunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia”.

Tidak boleh tidak, santri yang gagal menggapai standar (tuntutan) di kelas ini, berupa kemampuan membaca kitab gundul, sebaiknya tidak naik ke kelas lima.

Pendidikan ala Kiai Mahfud
Menunduk, agar tak kena tunjuk.

Kelas lima menjadi mudah jika kualitas bacaan kitab waktu kelas empat baik. Santri tinggal melanjutkan menambah kosa kata baru yang belum dikenal. Untuk mendukung kemampuan santri dikelas ini, ilmu alat yang agak rumit mulai diajarkan. Kitab Imrithy menjadi salah satu kitab yang diajarkan hingga khatam. Fathul Qorib separuh kedua juga harus mampu dibaca dengan baik, tanpa makna. Tuntutan di kelas ini sama dengan di kelas empat.

Zaman saya nyantri, kalau ada teman santri yang izin boyong, biasanya Kiai bertanya sudah kelas berapa diniyahnya. Kalau belum selesai kelas lima, biasanya Kiai menyarankan agar menuntaskan dulu hingga kelas lima. Maksudnya, tuntaskan dulu kitab Fathul Qoribnya, baru boleh boyong. Santri sudah dianggap mempunyai bekal untuk perjalanan hidup di masyarakat jika sudah selesai menelaah Fathul Qorib, kitab ringkas yang memuat setiap pembahasan fiqh.

Itulah perjalanan 5 TAHUN santri Fatihul Ulum, target besarnya adalah: BISA MEMBACA KITAB FATHUL QORIB DARI AWAL HINGGA AKHIR TANPA MAKNA. Istilah dalam ilmu bahasa adalah mampu membaca intensif dan ekstensif. Mata pelajaran lainnya adalah sebagai pendukung tujuan utama.

Jika target ini sukses, santri diharapkan bisa mempunyai kemandirian belajar. Seandainya ingin menelaah kitab selain Fathul Qorib, mereka sudah mampu melakukannya, kesulitan yang mungkin datang bisa diatasi dengan bantuan kamus Arab-Indonesia atau Jawa-Indonesia.

Kelas enam adalah kelas impian. Dulu, dikelas satu diniyah, awal tahun 76 santri, ketika lulus kelas enam hanya tersisa 16 santri. Lulus Diniyah Tsanawiyah hanya 7 santri. Sulit sekali santri nyantri melampaui lima tahun. Hanya segelintir santri yang mendapat dukungan penuh dari orang tua yang biasanya melampauinya. Dikelas enam Diniyah Ibtidaiyah hingga kelas 1,2 dan 3 Diniyah Tsanawiyah merupakan masa pendalaman fiqh dengan Fathul Muinnya dan ilmu alat dengan Ibnu Aqilnya. Ditambah materi tambahan seperti pelajaran hadits dengan Bulugul Marom dan Riyadhus Sholihin serta pelajaran Ilmu Falakiyah.

Prosedur teknik atau langkah-langkah pengajaran bahasa asing (kitab gundul) dengan menggunakan metode membaca adalah sebagai berikut:

  1. Guru memulai pembelajaran dengan membahas lafadz-lafadz atau ungkapan baru yang akan ditemui santri didalam teks bab / fasal yang akan dimaknai
  2. Setelah itu guru mulai mendiktekan makna kitab dalam bahasa jawa kepada santri hingga batas yang ingin dicapai
  3. Disaat berlangsungnya memaknai kitab, guru menjelaskan makna kosa kata baru bahasa Jawa yang ditemui diikuti dengan menjelaskan kandungannya
  4. Dilanjutkan dengan mempersilahkan santri membaca sendiri-sendiri secara diam secukupnya (alqiroah asy-syamilah / silent reading)
  5. Setelah itu, guru memilih beberapa santri secara acak untuk mengulang membaca kitab yang sudah dimaknai secara bersuara sambil mencatat kesulitan-kesulitan yang dialami santri, baik kosa kata Arab atau Jawa
  6. Menjelaskan dan mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dialami santri
  7. Membuka pertanyaan-pertanyaan seputar materi
  8. Setelah selesai, santri mendapat tugas menghafal makna dari teks-teks yang sudah dimaknai untuk bisa membaca pakai makna / tanpa makna dengan baik dan benar pada pertemuan berikutnya.
  9. Untuk santri kelas akhir diniyah ibtidaiyah dan tsanawiyah, pelajaran bisa ditutup dengan memberikan tugas berupa merangkum tentang isi bacaan / kitab yang dimaknai.

Langkah-langkah di atas masih bisa dikembangkan dan dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi santri.

Kekuatan dan Kelemahan Metode Membaca

Tidak ada sesuatu yang sempurna. Karena itulah harus diperkuat agar lebih sempurna. Metode membaca atau reading method mempunyai banyak kekuatan dan kelemahan. Kekuatannya mesti dirawat dan diperhatikan, sedang kelemahannya terus didiskusikan untuk disempurnakan.

Adapun kekuatannya antara lain:

  1. Memungkinkan para santri dapat membaca kitab dengan kecepatan yang wajar tanpa harus dibebani dengan analisis gramatika mendalam (tak usah ker-mekker nahwu shorofnya).
  2. Santri banyak menguasai kosa kata secara pasif  (bisa macah kitab Arab, tapi tak bisah aomong Arab), bahasa lainnya adalah santri mempunyai komunikasi yang baik dengan kitab yang menjadi bahan bacaannya (makeh ebecah nyongsang, bisah).
  3. Santri banyak menguasai kosa kata Jawa (tapi ora iso ngomong Jowo).
  4. Santri bisa menggunakan fungsi Nahwu-Shorof (walaupun terkadang tidak mengerti alasannya).
  5. Santri terlatih memahami bacaan dengan analisis isi, tidak dengan analisis gramatika (santri bisa membaca kitab lain karena sudah tahu isinya, walaupun belum tahu gramatikanya).

Sedangkan kelemahannya adalah:

  1. Santri tidak / kurang terampil dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab
  2. Santri kurang terampil dalam mengarang / menulis
  3. Karena yang difokuskan sebagai bahan latihan adalah kitab fiqh, maka santri lemah dalam memahami teks lain, misalnya kitab hadits, politik atau kitab akidah
  4. Metode bacaan hanya cocok diberikan kepada santri yang suka membaca dan menjadi kejenuhan atas santri yang tidak suka membaca

Yang penting didiskusikan dari empat kelemahan diatas adalah Ngaji Jurnalistik agar santri gemar menulis dan memikirkan santri malas membaca agar menjadi santri hobi membaca.

Demikianlah salah satu sumbangsih artikel untuk memahami pemikiran Kiai Mahfudz Abdul Hannan tentang pendidikan, khususnya metode membaca kitab gundul. Metode ini diulang-ulang disebutkan oleh Kiai agar tetap dipertahankan. Oleh karena itu, semua usaha-usaha pengembangan dan penambahan kegiatan seyogyanya dalam rangka mencapai visi pengasuh. Cara baru elok digunakan jika ‘mungkin lebih baik’ dari cara lama dan segeralah ditinggalkan jika tak terbukti, dan cara lama patut dipertahankan jika masih baik dan relevan dipertahankan dan cara lama itu adalah metode membaca.

*) Artikel asli berjudul: Usaha Memahami Pemikiran Pendidikan K.H. Mahfudz Abdul Hannan.

Cara Belajar Elon Musk

Artikel ini akan mengulas tentang bagaimana cara belajar seorang Elon Musk sehingga mampu menyerap pengetahuan dengan lebih cepat dan lebih banyak daripada orang lain pada umumnya.

==============

Elon Musk berhasil mendirikan 4 perusahaan bernilai miliaran dolar ketika usianya masih pertengahan 40-an. Hebatnya, keempat perusahaan tersebut bergerak di bidang yang berlainan: software, energi, transportasi, dan antariksa. Apa yang berbeda dari dia?

Banyak orang berpendapat bahwa keberhasilan Elon Musk tidak terlepas dari kebiasaannya yang gila kerja (dia biasa bekerja 85 jam per minggu), kemampuannya untuk menetapkan visi di luar realita yang ada, dan daya tahannya yang luar biasa. Namun rasanya itu saja belum cukup. Ah, banyak juga orang lain yang memiliki kebiasaan seperti itu. Pasti ada sesuatu yang berbeda dalam diri Elon Musk yang belum kita ketahui.

Cara Belajar Elon Musk

Setelah membaca berpuluh artikel dan buku, melihat berbagai video tentang Musk, dapat disimpulkan satu hal. Pepatah lama mengatakan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kita harus fokus pada satu bidang. Nah, Musk melanggar pepatah ini. Dia ahli mulai dari ilmu antariksa, teknik, fisika, AI (kecerdasan buatan) hingga bidang energi dan tenaga surya.

Orang seperti Elon Musk istilahnya disebut “ahli-generalis”. Seorang ahli-generalis mempelajari banyak hal dalam berbagai bidang, menggali lebih dalam prinsip-prinsip berbagai bidang tersebut yang berhubungan, lalu menerapkannya pada satu bidang tertentu.

Larangan untuk Menjadi “Ahli Segala Bidang”

Mungkin kalian sudah pernah atau bahkan sering mendengar seseorang menganjurkan:

“Jangan pelajari semuanya. Fokus satu saja.”

“Tahu akan banyak hal. Tapi tak ada yang dalam.”

Anggapan mereka adalah jika kalian belajar banyak hal secara bersamaan maka yang bisa dipahami hanya permukaannya saja, tidak ada yang dimengerti secara mendalam.

Kesuksesan para ahli-generalis membuktikan bahwa anggapan demikian adalah salah. Belajar lintas ilmu memberikan keuntungan informasi (juga keuntungan inovasi) karena kebanyakan orang hanya fokus pada satu bidang.

Sebagai contoh, apabila kamu bergerak di bidang industri teknologi dan ketika pesaingmu hanya mempelajari hal-hal yang berbau teknologi, sedangkan di sisi lain kamu juga tahu banyak tentang biologi, maka kamu punya kemungkinan untuk melahirkan ide-ide yang tidak dimiliki orang lain. Begitu pula sebaliknya. Jika kamu orang biologi yang juga paham tentang kecerdasan buatan, maka kamu memiliki keunggulan informasi dibandingkan orang lain yang pengetahuannya linear.

Hanya Sedikit Orang yang Belajar di Luar Bidangnya

Setiap ilmu baru yang kita pelajari dan itu asing bagi mereka akan membuat kita mampu membuat kombinasi yang mereka tidak bisa. Inilah kelebihan dari seorang ahli-generalis.

Ada sebuah studi menarik yang memperkuat pendapat ini. Studi ini mengamati 50 komposer terkemuka abad 20, bagaimana mereka menyusun musik gubahannya. Bertentangan dengan cerita yang selama ini berkembang bahwa kesuksesan seseorang hanya ditentukan oleh latihan yang bertahap dan penjurusan, peneliti Dean Keith Simonton menemukan yang sebaliknya: “Komposisi opera terbaik cenderung dihasilkan dari campuran berbagai genre musik. Komposer mampu menghindari kekakuan akibat mempelajari berbagai keahlian (latihan berlebihan) dengan belajar secara lintas disiplin ilmu,” demikian kesimpulan Scott Barry Kaufman, peneliti UPENN dalam sebuah artikel Scientific American.

Kekuatan “Learning Transfer”

Menurut Kimbal Musk (saudara Elon Musk) saat usianya belasan tahun, Musk membaca 2 buku per hari dari berbagai bidang ilmu. Jadi bisa dibilang, apabila kalian membaca 1 buku dalam sebulan, maka Elon Musk membaca 60 kali daripada yang kalian baca.

Awalnya Elon Musk senang membaca fiksi ilmiah, filosofi, agama, pemrograman, serta biografi ilmuwan, insinyur, dan pengusaha. Ketika beranjak dewasa, bacaannya melebar ke fisika, rekayasa, desain produk, bisnis, teknologi, dan energi. Kehausannya akan ilmu pengetahuan membuatnya tahu berbagai subyek penting yang tidak pernah ia dapatkan dari sekolah.

Elon Musk juga pandai dalam sejenis cara belajar yang unik dan tidak banyak disadari oleh orang lain — learning transfer.

Learning transfer adalah mengambil apa yang kita pelajari dalam satu konteks dan menerapkannya ke yang lain. Hal ini bisa diartikan “mengambil inti dari apa yang kita pelajari di sekolah atau buku dan menerapkannya dalam dunia nyata”. Dapat pula dimaknai sebagai “menyerap yang kita pelajari dalam satu industri lalu menerapkannya ke industri yang lain”.

Di sinilah keistimewaan Elon Musk. Beberapa wawancara dengannya menunjukkan dia memiliki semacam proses 2-tahap yang unik dalam menyerap pengetahuan.

Pertama, dia menguraikan pengetahuan menjadi prinsip-prinsip dasar.

Musk menjelaskan dalam Reddit AMA bagaimana dia melakukannya:

Agaknya penting melihat pengetahuan sebagai sebuah pohon— pastikan kalian mengerti prinsip dasarnya, yaitu batang pohon dan dahannya, sebelum kalian mempelajari daun/detailnya. Jika tidak maka daun-daun itu tidak akan tahu ke mana akan berkait.

Penelitian menunjukkan bahwa menguraikan pengetahuan menjadi lebih dalam dan prinsip-prinsip dasar dapat memudahkan learning transfer. Penelitian juga menunjukkan bahwa ada sebuah metode yang sangat membantu untuk menguraikan prinsip-prinsip dasar tersebut. Metode itu dinamakan, “membandingkan perbedaan”.

Contoh:
Misalnya kita ingin menguraikan huruf “A” dan memahami lebih dalam tentang apa yang membuat huruf “A” tersebut dinamakan A. Maka kita memiliki 2 cara untuk melakukannya:

Pendekatan Cara Belajar

Manakah cara yang lebih baik?

Metode 1: berbagai huruf A yang berbeda memberi kita wawasan baru tentang apa yang sama dan apa yang beda dari tiap variasi huruf A tersebut.

Metode 2 tidak memberi kita informasi tambahan dari banyaknya huruf A yang ada.

Dengan melihat berbagai variasi ketika belajar satu hal kita mulai mengasah intuisi kita tentang apa yang benar-benar penting dari materi tersebut, bahkan kita mampu membuat kombinasi yang unik dari perbedaan-perbedaan tersebut.

Apa artinya ini bagi kita? Ketika kita menghadapi suatu masalah yang betul-betul baru, sebaiknya kita tidak hanya memakai satu pendekatan saja. Kita harus menggali banyak pendekatan berbeda, menguraikannya masing-masing, lalu bandingkan dan amati perbedaannya. Ini akan membantu kita memahami prinsip-prinsip dasar dari persoalan tersebut.

Kedua, dia menyusun ulang prinsip-prinsip dasar yang ia dapatkan ke bidang lainnya.

Langkap kedua proses learning transfer dari Elon Musk adalah menyusun teori-teori dasar yang telah ia serap dalam bidang AI (kecerdasan buatan), teknologi, fisika dan rekayasa, ke dalam bidang yang berlainan:

  • Antariksa: mendirikan SpaceX.
  • Otomotif: mobil listrik Tesla dengan kemudi otomatisnya.
  • Kereta Api: hak cipta membuat Hyperloop, transportasi massal semacam kereta api dengan kecepatan tinggi dan berbentuk tabung.
  • Penerbangan: berpikir untuk membuat pesawat listrik yang lepas landas dan mendarat dengan vertikal.
  • Teknologi: memiliki visi tentang neural lace, menghubungkan otak dengan komputer secara nirkabel.
  • Teknologi: ikut mendirikan PayPal.
  • Teknologi: pendiri OpenAI, organisasi nirlaba yang bertujuan mengurangi dampak buruk kecerdasan buatan di masa depan.

Keith Holyoak — profesor psikologi dari Universitas California LA dan salah satu pemikir terkemuka dalam penalaran analogis (analogical reasoning) — menyarankan orang-orang bertanya ke diri mereka dua hal: “Ini mengingatkan saya tentang apa?” dan “Mengapa ini mengingatkan saya tentangnya?”.

Dengan terus-menerus melihat benda-benda di sekitar Anda dan materi yang Anda baca, lalu bertanya pada diri sendiri dua pertanyaan ini, Anda telah membangun otot dalam otak Anda yang membantu membuat koneksi melampaui batas-batas kemampuan otak sebelumnya.

Kesimpulan: Ini Bukanlah Keajaiban. Ini Tentang Cara Belajar yang Benar.

Sekarang kita mulai memahami bagaimana Elon Musk bisa menjadi ahli-generalis yang mendunia. Poinnya adalah:

  • Dia sudah bertahun-tahun membaca 60 kali dibandingkan orang kebanyakan.
  • Bacaannya beragam dari berbagai disiplin ilmu.
  • Dia telah menerapkan learning transfer secara terus-menerus.

Secara pemikiran, apa yang bisa kita pelajari dari cerita Elon Musk adalah bahwa kita tidak harus menerima dogma bahwa spesialisasi adalah yang terbaik atau hanya jalan menuju kesuksesan karir dan dampaknya. Legenda ahli-generalis Buckminster Fuller merangkum pergeseran pemikiran yang layak kita renungkan. Dia menulisnya beberapa dekade lalu namun masih relevan saat ini:

“Kita berada di zaman yang menganggap bahwa penjurusan/spesialisasi adalah sesuatu yang logis, alami, dan sangat diperlukan. Padahal sebenarnya umat manusia telah dirampas pemahamannya yang komprehensif. Spesialisasi telah menyebabkan timbulnya perasaan terisolasi, kesia-siaan, dan kebingungan pada individu. Serta juga membuat individu meninggalkan tanggung jawabnya untuk berpikir dan bertindak sosial kepada orang lain. Spesialisasi menyebabkan bias yang pada akhirnya terakumulasi menjadi pertentangan ideologis maupun perselisihan internasional, dan pada gilirannya menyebabkan perang.”

Apabila kita belajar konsep-konsep dasar dalam berbagai bidang ilmu dan selalu menghubungkannya ke dalam kehidupan kita dan dunia, maka penguasaan ilmu akan menjadi lebih mudah dan lebih cepat.

Ini seperti kita membuat wadah “prinsip-prinsip pertama” lalu mengaitkan prinsip-prinsip tersebut dengan berbagai bidang, kita tiba-tiba mendapatkan kekuatan lebih untuk bisa masuk ke bidang baru yang belum pernah kita pelajari sebelumnya, dan dengan cepat menghasilkan kontribusi yang unik.

Memahami cara belajar Elon Musk yang luar biasa memperluas wawasan kita tentang bagaimana ia bisa masuk ke industri yang telah ada selama lebih dari 100 tahun lalu mengubah peta persaingan secara keseluruhan.

Elon Musk memang seorang yang istimewa, namun kemampuannya tidaklah datang dalam sekejap.

Sumber: Michael Simmons

Perlukah Penjurusan dan Kompetisi?

Sedikit postingan serius kali ini, yaitu soal penjurusan di jenjang pendidikan awal dan menengah, khususnya di Indonesia.

(Saya baru sadar saya kalau nyerocos bisa lancar kalau ada pemantiknya, entah itu pertanyaan, atau kejadian, atau apa pun. Jarang yang genuine dari dalam diri saya. Selalu ada alasan di tiap tulisan saya atau omongan saya yang agak panjang. Hmm, sulit kayaknya jadi murni penulis fiktif, seperti tante J.K. Rowling.)

Jadi, ceritanya saya sekip sebuah jadwal diskusi via Whatsapp di grup Pendidikan & Parenting, yang diinisiasi oleh Forum Indonesia Muda, sebagai wadah bertukar pikiran dan saling belajar terkait isu yang aktual, faktual, dan kontekstual–dalam hal ini Indonesia. Tulisan ini sih biar “ceramah subuh” saya di grup tersebut, menanggapi obrolan malam sebelumnya, ada bekasnya. Here you go!

Di Singapura, anak-anak sudah dikenalkan dengan penjurusan berdasarkan performa intelejensianya sedari SD. Wow! Padahal kita ‘kan datang ke sekolah pas SD buat bergembira, bahkan sebagian kita sampai SMP masih begitu. Bergembira maksudnya menikmati hidup tanpa perlu memikirkan persaingan segala macam. Terlepas dari fakta bahwa saya pernah menangis karena saya pernah juara II pas SD, saya belum begitu memusingkan nilai dan menyongsong pagi ke sekolah dengan senyum sumringah nan polos jumawa.

Oh ya, saya juga pernah menuntut kenapa saya tidak diberi nilai 100, padahal jawaban soal UAS saya betul semua saat diperiksa bersama.

“Karena kesempurnaan hanya milik Allah…”, jawab guru Bahasa Inggris saya.

Gila lu, Ndro! Saya yang masih hijau menuntutlah! Tetap tidak dikasih 100. Sekarang, saya berasumsi si Bapak pernah ikut pengajian di mana gitu, haha. Kemurnian akal cuma ada pada anak-anak!

Kembali ke topik bahasan, intinya di Singapura, kompetisi dimulai lebih awal. Nah sayangnya, kompetisi ini tidak fair buat yang telat sadar untuk berkompetisi. Oh ya, anak-anak SD di Singapura dijuruskan menjadi fast-track, normal, dan slow (saya lupa istilah tepatnya). Mereka dihakimi sedari kecil. Efeknya adalah anak yang ‘terlempar’ di kelas normal, lingkungan kompetisinya pun akan lebih ‘renggang’ dibandingkan anak yang masuk kelas cepat. Ibarat jangkrik dimasukin ke kotak, lompatannya dibatasi lingkungan. Sedih ‘gak tuh?

Isu kedua soal penjurusan di Indonesia adalah semua mata pelajarannya yang HARUS diambil. Kalau di Singapura sih nggak gitu. Di tingkat SMP dan SMA, mereka diperkenankan memilih mata pelajaran. Kalau di Indonesia kan paketan. Jika memilih IPA, maka semua pelajaran MIPA harus ditelan. Sama halnya dengan IPS. Bagaimana dengan anak yang jago hitung (fisika dan matematika) tapi tidak jago menghafal (biologi)? Terlepas dari ketidak-idealan pada sistem pendidikan di negeri ini yang berbasis pengetahuan (what, where, when, who, and which)–bukan analisis (why and how)–kita boleh dong bedain Biologi dan Fisika sebagai pelajaran hafalan dan hitungan? Hehe. Intinya, anak tidak bisa memilih setelah memilih. Sama kayak milih jodoh, kita tidak bisa memilih keadaan keluarga besar sang pasangan. (lah?? :))

Berbeda halnya di Singapura, anak-anak bisa customize mata pelajaran yang mereka ambil sesuai kebutuhan mereka. Walaupun di tingkat SMP tidak begitu leluasa, ada kebebasan memilih di sana. Misal, kalau kamu mau pintar matematika, maka kamu boleh memilih Advanced Math, biar nilai O-levelmu bagus. Kalau tidak tertarik, yang cukup mata pelajaran yang dasar saja. Di tahap SMA (Junior College), di sekolah negeri, siswa harus mengambil mata kuliah General Paper (menulis, analisis, dan argumentasi bahasa inggris), Matematika, dan dua mata kuliah wajib pilihan sains alam/sosial. Total empat mata pelajaran wajib. So, they can take the minimum!

Bagaimanapun, kalau orangnya pintar dan punya kapasitas dan minat, biasanya ambil 6-7 mata pelajaran. Yang doyan belajar, maksimal bisa ambil sembilan. Selain menambah bekal, makin banyak mata pelajaran yang diambil berarti makin banyak jurusan yang bisa dicoblos pas pendaftaran kuliah. Bagaimanapun, bersama pilihan ada tanggung jawab. Setelah mengambil mata pelajaran, siswa harus lulus ujian akhirnya. Bisa di-drop sih kalau tidak kuat. Ini sebuah keunggulan sebuah sistem… Setelah dicoba tapi tidak suka, mata pelajaran pilihan bisa ditinggalkan atau diganti. Kalau di Singapura, ujian akhir nasional SD itu namanya PSLE, SMP adalah O-level, dan SMA ujiannya disebut A-level, yang semuanya mengikuti standar Cambridge.

Pernah dengar sistem SKS diberlakukan di SMA negeri? Saya pernah. Intinya pelajaran dua semester ditumpuk jadi mata “kuliah” satu semester. Kalau sudah ambil di semester ganjil, tidak perlu belajar pelajaran X di semester genap. Bodo wae.., semuanya kudu diambil tapi tidak bisa memilih. Yang ada siswa keder, pelajaran ditumpuk begitu tanpa penyesuaian waktu KBM yang bijak.

Soal penjurusan yang paketan di SMA negeri, IPA ya semua IPA, IPS ya semua IPS, sebaiknya dipertimbangkan kembali. Pilihan untuk menyesuaikan bekal sesuai kebutuhan jurusan kuliah perlu disediakan. Kalau kata teman saya,

“Sistem pendidikan di Indonesia cuma melahirkan a bunch of mediocre. Dijejelin belasan pelajaran begitu. Ya keder! Kecuali memang ada beberapa orang beruntung dan bisa mengembangkan dirinya di luar apa yang disediakan sekolah. Lihat di Amerika sana, anak diarahkan sedari dini, umur belasan sudah jago ini itu, bahkan sudah jadi sarjana dan dokter!”

Kalau begitu, benang merah penjurusan adalah kebutuhan. Sepakat?

Nah, apakah kita butuh pelajaran yang tidak kita butuhkan nanti? Maksudnya, kenapa kita belajar Biologi kalau nantinya mau kuliah jurusan Computer Science. Buang-buang waktu dan memori… #imo Bagaimanapun saya bersyukur dengan sistem SMA di Indonesia, karena saya bisa jadi manusia serbatahu di kampus, haha. Walaupun tahu kulitnya doang… Ya iyalah, dibandingkan dengan pendidikan SMA di Singapura, ujian pengetahuan di UAN SMA mah, trivial banget.

Sedikit cerita dari teman orang Indonesia yang SMP di Depok (?) dan melanjutkan pendidikan di junior college…. Dia bilang pendidikan di Indonesia jarang melibatkan analisis. Menghafal doang. Misalnya pelajaran sejarah… Ketika di Indonesia soal ujian menanyakan kapan dan di mana sebuah kejadian, di Singapura, soal ujian menanyakan mengapa pertimbangan dan dampak perdana menteri A mengambil keputusan bla bla bla. Hmm, menarik kan bisa menganalisa keputusan bersejarah gitu?

Terkait analisa yang minim dilibatkan dalam soal ujian sekolah di Indonesia, saya melihat OSN atau kegiatan semacamnya melatih siswa memakai analisanya. Mengapa? Karena soal yang diujikan biasanya sudah dicampuri dengan konteks kehidupan nyata, misalnya pertimbangan dalam skala industri (untuk bidang kimia). Analisa kasus nyata di lapangan! Lomba karya ilmiah dan sebagainya juga mendekatkan siswa kepada pendayagunaaan sains dalam kehidupan. Jadi sains tidak dihafal, tapi diamalkan. Keren ‘kan?

Oh ya, kalau di Amerika ada istilah fakultas Liberal Arts dimana mahasiswa bebas memilih mata kuliah di tahun pertama dan kedua. Fakultas ini semacam menawarkan safety net buat mahasiswa yang masih belum ‘bulat’ mau berkarir di mana. Mereka bisa menjelajahi minat dan bakat mereka dan akhirnya mengkhususkan diri dengan mata kuliah advanced untuk persiapan skripsi.

Hmm, tulisan ini tentu diharapkan tidak hanya berisi gumaman dan cerita. Perlu ada solusi yang ditawarkan. Apa yaaaa? 🙂

Buat para pendidik praktis, tentu kita tidak boleh dihentikan oleh sistem. Kita harus bisa berkreasi mencukupkan ketidakidealan sistem yang ADA dan HARUS DIPAKAI. Menggalakkan siswa mengikuti lomba-lomba adalah salah satu cara untuk memancing jiwa kompetisi dan menajamkan analisa peserta didik, dimana kurikulum kita tidak memfasilitasi banyak buat itu. Klub bahasa, debat, dan mata pelajaran semisal klub astronomi dan ekonomi, bisa jadi opsi lain yang lumayan praktikal. Anak IPA boleh dong belajar ekonomi, dan anak IPS boleh dong belajar astronomi? Siswa yang pengen tahu pelajaran jurusan tetangga sebaiknya difasilitasi. Sebaliknya, anak-anak yang tidak suka salah satu mata pelajaran di jurusannya tidak perlu dipaksakan. Mendingan ahli di satu bidang daripada jadi medioker di semua, ‘kan?

mengikuti lomba-lomba adalah salah satu cara untuk memancing jiwa kompetisi dan menajamkan analisa…

Lalu, untuk memperbaiki sistem yang buruk, negara ini juga butuh banyak orang dan usaha terus-menerus untuk menyempurnakan sistem di tahap kebijakan. Kita butuh orang-orang yang benar-benar berniat baik menyelesaikan masalah pendidikan di negeri ini–bukan orang yang hanya tambal-sulam kurikulum dan membuat perubahan insignifikan dengan biaya yang signifikan.

Lebih gampang mencanangkan perubahan di sekolah swasta sebenarnya. Tapi, jangan lupakan sekolah negeri dimana mayoritas rakyat usia wajib belajar menuntut ilmu (dari negara). Ya itu tadi, jangan membatasi diri dengan ketidakidealan sistem! Mari mendobrak stagnansi (budaya nrimo) dan mencari peluang bagaimana ada usaha penyempurnaan pada sistem yang tidak sempurna.

Sekian, racauan pagi ini. Semoga rasio “nilai omongan/jumlah kata” di tulisan ini tidak buruk-buruk amat. Hehe.

Negeri ini butuh lebih orang yang mengerti esensi, sehingga makin sedikit uang yang dibuang untuk eksistensi.

Sumber:
http://humaniora.kompasiana.com/edukasi/2014/04/10/penjurusan-kompetisi-dan-ketidakidealan-sistem-pendidikan-negeri-ini-645995.html