S.A.S. Singkatannya Apa Sih?

Bagi yang cukup sering — tidak hanya jarang — mengunjungi pesantren Fatihul Ulum, barangkali pernah mendengar istilah SAS. Namun hampir bisa dipastikan, tidak satupun dari mereka tahu, singkatan dari apakah SAS itu?

Bila Anda mencoba mencarinya di Google, maka kemungkinan besar yang akan muncul adalah SAS – Special Air Service. Satuan pasukan elit dari Inggris.

SAS - Special Air Service

Dalam artikel ini, penulis mencoba meraba dan menyajikan beberapa kemungkinan, apakah arti SAS itu sebenarnya?

Santreh Asekola Siang

Ada sekelompok santri yang mereka-reka bahwa, SAS bermakna Santreh Asekola Siang. Ini bermula ketika masa dimana waktu belajar santri dipisah. Beberapa santri mengikuti kelas pagi sedangkan sisanya belajar di siang hari. Atau bahkan malam.

Pemisahan waktu belajar ini dilakukan karena saat itu awal-awal penyelenggaraan sekolah formal. Ruang kelas masih terbatas. Gurunya juga terbatas. Untuk menambah guru tidak mungkin karena uangnya juga terbatas. Semuanya serba terbatas. Limited Edition istilah kerennya.

Sholat Apa Saja

Meski istilah SAS masih tetap belum dapat dipastikan artinya, namun barangkali kejadian yang satu ini dapat menggambarkan sekilas semangat belajar dari SAS.

—————–

Pada suatu hari yang cerah cenderung panas, santri sudah bersiap di kelas untuk mengikuti pelajaran matematika. Kelas dimulai pukul 10:00 dan akan berakhir 12:15. Seharusnya.

Namun yang terjadi berikutnya sungguh di luar rencana. Bahkan menjadi sejarah.

Guru matematika yang ditunggu belum juga tampak batang hidung dan bundar songkoknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:30. Namun para santri itu tidak ada yang balik ke bilik masing-masing. Mereka sadar akan konsekuensinya.

Mereka tetap berada dalam kelas karena di sana ada salah satu pengurus pesantren. Dan melawan atau bertentangan dengan pengurus berarti melawan kyai. Melawan kyai akan menyebabkan ilmu yang didapat tidak barokah. Dan ilmu yang tidak barokah ini, meskipun berhasil dikuasai, hanya akan mendatangkan bahaya alih-alih manfaat bagi mereka. Sepertinya hanya santri yang paham akan paham yang mulia ini.

Pengurus itu Zainuddin namanya. Nah, si Zainuddin termasuk pengurus yang langka. Unik lebih tepatnya. One of a kind.

Zainuddin akan menaati 100% perintah kyai atau gurunya. Bulat-bulat. Tanpa kiasan ataupun tafsiran. Sam’an wa Tho’atan bil Lughotan.

Biasanya, ketika santri disuruh ke barat ada saja yang malah ke timur. Namun tidak demikian halnya dengan Zain. Dia akan tetap ke barat sesuai yang diperintahkan. Teman-temannya tidur saat guru menerangkan, Zain tetap duduk sigap di kursinya.

Yang lain lempar-lemparan, Zain tetap mendengarkan dengan serius.
Yang lain bal-balan, Zain malah kelojotan terjangkit typus.

Dan ketaatannya-lah yang membuat teman-temannya begitu sungkan padanya.

Hari itu pun sama. Lainnya tetap di dalam kelas. Kecuali si Zain turun ke biliknya, pikir mereka. Namun nyatanya, seperti biasa, Zain tidak beranjak. Seperti sedang ada guru saja di depannya. Tidak jelas apakah ia sedang melamun atau bertafakur.

Dan akhirnya guru pun tiba. Namun alih-alih guru matematika, yang hadir ke dalam kelas ternyata guru komputer.

Nah, si Guru Komputer ini dikenal memiliki wibawa tingkat dewa. Maka kelas pun menjadi senyap seketika. Santri yang sedang berlarian mendadak duduk di bangku terdekat. Tak peduli bangku siapa. Zain yang sudah sigap pun masih ditambahinya dengan tegap. Sekarang ia terlihat seperti pasukan siaga satu yang sedang disidak. “Perang bisa meletus kapan saja”, kelebat di benaknya. Andai ada jarum yang jatuh saat itu maka suaranya akan terdengar seperti menjerit berdecit-decit.

Di zaman itu memang sudah biasa pelajaran sehari-hari berlangsung acak. Namun tidak acak-acakan. Tidak saklek sesuai jadwal yang tertera. Bila ada kelas yang kosong, maka guru siapapun diperbolehkan memasukinya. Memberikan pelajaran apa saja sesiapnya. Ada guru yang bercerita atau mendongeng — karena memang belum ada persiapan materi sebelumnya — ada pula yang memberikan motivasi sambil seringkali dibumbui emosi. Yang penting santri tetap belajar.

“Pindah ke lab”, pinta guru itu singkat sambil berlalu.

Semua santri dalam kelas itu pun segera ke lab komputer. Di sana si guru sudah menunggu. Tidak berapa lama si guru lalu memberikan soal praktek.

Dan CELAKA!!

Seisi kelas tidak ada yang bisa mengerjakannya dengan benar. Semuanya menjadi berdebar-debar. Sudah terbayang sanksi yang akan menimpa mereka. Mana sedang tengah hari lagi.

“Buruh!”

Benar saja. Si guru memerintahkan mereka untuk lari di halaman pesantren. Zain, yang spontan merasa bertanggung jawab akan nasib teman-teman sekelasnya, berinisiatif bertanya,

“Berapa kali, Tad?”
“Seket kaleh!”.

Aduhh…, Kawan. Sebenarnya lari di halaman ini tidaklah jadi soal. Namun dengan dua kondisi ekstrim, tengah hari dan lari lima puluh kali, kali ini lari di halaman benar-benar sebuah soal. Yang tidak membutuhkan jawaban. Soal ini hanya butuh dilaksanakan.

Para penghuni penjara suci itupun berlari di bawah terik matahari. Semuanya berlari dalam sunyi. Mereka sadar akan kelalaian mereka dalam belajar. Meskipun sedikit ruang hati mereka berharap, seandainya hari itu guru matematika datang barangkali akan lain kejadiannya.

Selesai lima puluh kali putaran, mereka langsung menyelupkan kaki mereka ke dalam kullah. Untuk menyucikan kaki sebelum mereka kembali ke lab. Persis seperti perlakuan quenching pada besi, dipanaskan hingga membara lantas dicelupkan ke dalam air. Ia pun menjadi besi yang berkualitas. Tapi itu besi, Kawan.

Setelah kembali ke lab, guru komputer menyuruh mereka untuk sholat.

“Dulih sholat!”
“Berapa kali, Tad?”, Zain mengajukan pertanyaan identik seperti ketika disuruh lari tadi.
“Seket salaman.” jawaban identik pula yang didapat.
“Sholat apa, Tad?” Zain bertanya sangat detail mulai agak menyebalkan.
“Sholat apah bein”, jawab guru itu.

Maka mulailah mereka bersiap-siap sholat. Namun beberapa makmum malah kasak-kusuk dan tolah-toleh ke kanan kiri mereka. Masih bingung mau melaksanakan sholat apa. Salah satu dari mereka akhirnya bertanya pada imam, si Zainuddin,

“Cak Jen, niatnya sholat apa?”
“Sholat apa saja”, jawab Zainuddin menyampaikan dawuh gurunya di atas.

Hingga saat ini masih menjadi misteri apakah niat sholat saat itu. Apakah sholat muthlaq, sholat qodlo’, bahkan tidak menutup kemungkinan ada pula santri lugu yang berniat,

“Usholli apa saja lillahi ta’ala.”

Mereka pun mulai mengerjakan sholat. Hampir semuanya sholat dengan berjingkat. Hanya satu dua yang tidak. Kaki mereka melepuh. Air berkantung di telapak kakinya.

10 salaman, 20 salaman…, hingga 50 salaman tuntas.

Terasa jauh lebih lama daripada sholat biasanya. Sungguh sebuah semangat dan perjuangan yang luar biasa. Namun mereka tidak merasa itu adalah sebuah pengorbanan. Karena bukanlah cinta bila masih merasa berkorban.

Jadi, Singkatannya Apa Sih?

Bahkan hingga saat tulisan ini terbit, arti sebenarnya dari SAS belumlah selesai. Masih abstrak. Maknanya terus berkembang dari waktu ke waktu. Judul tulisan ini pun dapat pula menjelaskan SAS – Singkatannya Apa Sih. Masing-masing dari kita dapat dan sah-sah saja memaknai SAS.

Ada pula salah satu makna alternatif dari SAS yang akan tetap relevan sepanjang zaman yaitu, SAS – Shallallahu Alayhi wa Sallam.

Wallahu a’lam bishshowab.

Oleh: Lukman Hakim

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *