Safi'i Nur

Safi'i Nur lulus dari Pesantren Fatihul Ulum Manggisan pada tahun 2005. Kegemarannya adalah menulis dan mendidik anak siapa saja. Setelah menamatkan pendidikan strata satu di UIN Jember, saat ini beliau menjadi staf pengajar di Fatihul Ulum.

Pendidikan Menurut Kiai Mahfudz Abdul Hannan

Jumat Pagi, 19 Mei, di hari imtihan 2017, Kiai Mahfudz mengumpulkan semua alumni ustadz yang masih aktif mengajar di Pesantren Fatihul Ulum. Yang hadir saat itu adalah Ustadz Hasyim Ali, Ustadz Ahmad Sa’dullah, Ustadz Thohari, Ustadz Hanafi, Ustadz Sholehan Bunyamin, Ustadz Ghozali, Ustadz Abdur Rohim, Ustadz Alimuddin, dan saya sendiri. Yang berhalangan hadir adalah KH. Saifuddin Jamil, Ustadz Slamet Riady, dan Ustadz Khosyi’in.

Pendidikan Menurut Kiai Mahfudz
Suasana Belajar di Kelas Diniyah.

Acara kumpul-kumpul seperti ini sebenarnya rutin dilakukan setiap tahun menjelang imtihan. Tapi, tahun ini ada yang berbeda. Biasanya yang turut berkumpul adalah semua dewan asatidz wa asatidzah, yang sudah alumni dan yang masih aktif di pesantren. Tahun ini hanya kami yang disebutkan diatas. Sementara pengurus yang lain di waktu dan tempat yang berbeda. Biasanya Kiai hanya mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya membantu kegiatan belajar di Fatihul Ulum dan memberi bingkisan. Tahun ini ada ucapan yang berbeda.

Tentang Qiroatul Kitab, beliau menyebutnya metode IQRO’

Setelah mengucapkan puji syukur dan sholawat, seperti biasa Kiai mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama para dewan asatidz selama setahun.

Dalam pertemuan ini, Kiai berpesan agar para asatidz jangan meninggalkan metode qiroatul kitab yang sudah menjadi ‘pembeda abadi’ pesantren Fatihul Ulum Manggisan dengan pesantren lain. Menurut Kiai, metode qiroatul kitab yang selama ini diterapkan sudah terbukti berhasil. Jangan sampai kebijakan terbaru yang diambil para pengurus justru melemahkan cara lama yang sudah teruji ini.

…Kiai berpesan agar para asatidz jangan meninggalkan metode qiroatul kitab yang sudah menjadi ‘pembeda abadi’…

Kiai menganalogikan metode qiroatul kitab dengan seseorang yang belajar membaca Al-Quran. Belajar membaca Al-Quran untuk menjadi pintar (ngEwes bacaannya) tidak memerlukan perangkat yang banyak dan rumit. Cukup sering-seringlah membaca Al-Quran, baik sendiri atau di hadapan guru, maka bacaan Al-Qurannya akan ngEwes. Guru tinggal mengarahkan jika diketahui bacaannya salah. Guru tidak perlu menjelaskan mengapa lafadz di Al-Quran dibaca rofa’ atau jarr. Fokusnya adalah membaca, membaca, dan membaca dengan benar. Tak perlu tahu alasannya. Demikian juga dalam membaca kitab gundul.

Bisa dipahami bahwa keinginan Kiai Mahfudz sebagai pengasuh salah satunya adalah memperkuat bacaan kitab santri, karena inilah ciri khas Fatihul Ulum Manggisan. Menurut penelitian Kiai, kualitas bacaan kitab santri sekarang sedang rendah. Inilah yang harus disadari oleh para pembantunya; para pengurus pondok. Menurutnya, sejarah Pesantren Fatihul Ulum selama ini telah memberi fakta bahwa jika qiroatul kitabnya santri baik maka akan diikuti oleh pemahaman yang baik. Bahkan beliau sering berkata, jika santri sudah mempunyai kegemaran membaca maka pemahaman kandungan kitab yang dibaca datang dengan sendirinya.

…jika santri sudah mempunyai kegemaran membaca maka pemahaman kandungan kitab yang dibaca datang dengan sendirinya.

Saya jadi ingat ketika dahulu nyantri. Kebanyakan santri Fatihul Ulum waktu itu berbahasa Madura toktok. Setiap hari belajar agama dari kitab berbahasa Arab yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. Ustadz yang mengajar pun dari suku Madura tanpa campuran. Maka otomatis para santri mengalami kesulitan bahasa. Tapi, urusan membaca kitab, santri zaman itu ngEwes. Satu kitab hafal makna dari awal sampai akhir. Menjelang lomba akhir sanah, hampir tiap malam khatam membaca kitab yang akan dilombakan. Dari ke-ngEwesan itulah mereka akhirnya juga mempunyai kemampuan membaca kitab-kitab lain yang lebih tebal walaupun belum diajarkan. Inilah, menurut saya, yang dikehendaki Kiai untuk terus dipertahankan dan dikuatkan (menjadi prioritas).

Memahami kandungan kitab

Kiai juga menyinggung tentang cara memahami kitab. Tindak lanjut dari qiroatul kitab adalah fahmul kitab. Untuk menjadi paham secara pribadi cukuplah memahaminya dengan bahasa sehari-hari. Namun, pada pertemuan ini, kiai menyarankan agar para santri dilatih memahami kandungan kitab memakai bahasa pengantar Bahasa Indonesia. Kelemahan berbahasa Indonesia santri rupanya disadari oleh kiai. Dalam berbagai kesempatan, kiai sering memberi saran agar Bahasa Indonesia dijadikan bahasa komunikasi pengurus pesantren. Urusan bahasa ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu dikonsep secara baik oleh para pengurus pesantren. Misalnya dijadikan sebagai bahasa wajib komunikasi murid dan guru. Agar prinsip-prinsip dasar yang diingini pengasuh menjadi warna dominan di Fatihul Ulum.

Metode ‘membaca’

Bacaan kitab, iqro’, atau apapun sebutannya, sebenarnya adalah satu metode yang sudah kokoh. Di dalam buku-buku pembelajaran bahasa asing (arab, inggris, atau lainnya) metode ini dikenal dengan sebutan Thoriqah al-Qiroah/Reading Method. Pada dasarnya, setiap pengajaran bahasa asing bertujuan agar para santri mempunyai keterampilan berbahasa. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak (listening/istima’), terampil berbicara (speaking/kalam), terampil membaca (reading/qiroah) dan terampil menulis (writing/kitabah). Dari empat tujuan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa kitab, yang menjadi prioritas kiai adalah terampil membaca (kitab).

Mengapa hanya terampil membaca yang diprioritaskan? Sekali lagi alasannya adalah karena ‘qiroatul kitab’ sudah menjadi ciri khas Pesantren Fatihul Ulum. Alasan lainnya bahwa pengajaran bahasa itu sulit mencapai multi tujuan. Kalau kita sedikit menengok ke pesantren yang fokus di tahfidzul quran, fokus di entrepreneur, fokus di sekolah formalnya, fokus pada ilmu alat (sastra), rata-rata alumninya hanya memiliki kemampuan pada fokus masing-masing dan tidak mempunyai kemampuan membaca kitab dengan baik. Alasan berikutnya adalah bahwa kebutuhan realistis santri Fatihul Ulum hanyalah pada memahami Fiqh dan Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, disamping skill lain, sebagai bekal hidup dalam masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan itu jalan lebarnya adalah santri dididik agar mempunyai kegemaran dan kecepatan ‘membaca’ bacaan yang sudah menjadi kurikulum pesantren.

Kegiatan Pembelajaran yang Menunjang Pemikiran Pendidikan Kiai Mahfudz

Sebagaimana diketahui bahwa basis pembelajaran dasar yang selama ini diterapkan di Pesantren Fatihul Ulum adalah mempunyai kemampuan membaca teks pego. Didahului di kelas shifir dan atau kelas satu diniyah, materi diajarkan dengan cara menulis semua mata pelajaran yang kebanyakan dalam bahasa Jawa, memaknai kitab dengan bahasa Jawa dan pelajaran imla’. Tujuan pokok setiap materi kelas paling dasar ini adalah: mengenalkan bahasa Jawa kepada santri baru yang dominan suku Madura dan mengajari mereka mempunyai kemampuan menulis pego serta mampu membacanya. Kemampuan menulis pego harus terbangun dengan baik dikelas ini. Standar minimal di kelas ini adalah BISA menulis pego, BISA membaca pego, dan MENGENAL bahasa Jawa yang kedepannya akan menjadi bahasa utama dalam setiap pengajian kitab. Baca kitab tanpa makna di kelas ini tidaklah mengganggu standar minimal.

Pendidikan ala Kiai Mahfud
Rasanya tegang kalau sudah maju begini.

Di kelas dua diniyah, santri harus mempunyai kemampuan menulis dan membaca pego. Standar minimal di kelas ini menjadi harus mampu membaca kitab fikih dasar, semacam kitab al-Mabady’ul Fiqh juz dua, berharokat tanpa makna. Fokus santri adalah menghafal kosa kata bahasa Arab dan Jawa sekaligus. Pengenalan kosa kata Jawa juga didukung dengan penggunaan kitab Tarikhun Nabi berbahasa Jawa. Pencapaian minimal di kelas dua diniyah adalah santri MENGENAL kosa kata Arab dan MENGHAFAL kosa kata Jawa sebanyak-banyaknya melalui kecepatan membaca (qiroatul kitab) tanpa makna. Santri belum dibebani ilmu alat.

Setelah dua tahun pelajaran, santri sudah BISA menulis dan membaca pego dan banyak hafal kosa kata Jawa dan Arab yang berkaitan dengan materi fiqh. Santri tidak dituntut mampu berdialog Jawa, apalagi Arab. Tajuid sebagai pelajaran pendamping diajarkan untuk kebaikan membaca al-Quran dan sistem bunyi Bahasa Arab agar santri mampu membedakan huruf. Semua pengajar di jenjang ini harus mempunyai prioritas yang sama yaitu, MENYIAPKAN santri menjadi anak didik yang mempunyai kecintaan membaca kitab.

Di kelas tiga diniyah, prioritasnya sama seperti kelas dua diniyah. Tetapi, santri mulai dikenalkan dengan kitab gundul. Kitab Taqrib. Tuntutannya (standar minimalnya) disini adalah MENAMBAH koleksi kosa kata Jawa dan Arab dan mempraktekkannya pada qiroatul kitab kitab Taqrib tanpa makna tanpa harokat. Di kelas tiga inilah santri harus bisa dan biasa membaca kitab tanpa makna tanpa harokat dengan baik dan benar. Sedangkan alasan-alasan mengapa ini dibaca begini, itu dibaca begitu tidak begitu penting diketahui santri dikelas ini. Dikelas ini juga analogi Kiai tentang belajar qiroatul kitab itu seperti belajar membaca al-Quran mulai jelas kesesuaiannya. Pelajaran gramatika arab seperti, shorof, i’lal, dan nahwu paling dasar sebagai persiapan memasuki jenjang berikutnya, juga diajarkan secara sederhana. Santri yang qiroatul kitabnya belum baik, layak tidak naik kelas.

Kelas empat adalah kelas terberat. Santri yang pemalas waktu kelas dua dan tiga, akan mengalami kepayahan luar biasa. Santri yang kebanyakan berbahasa Madura itu, sekarang diperlakukan seperti orang Jawa dan Arab. Tuntutan di kelas empat menjadi:

  1. Mampu membaca kitab Fathul Qorib separuh pertama tanpa harokat,
  2. Mampu menerjemahkannya dalam Bahasa Jawa, dan;
  3. Mampu mengetahui alasan-alasan bacaan dari sebuah lafadz.

Untuk membantu suksesnya qiroatul kitab di kelas ini, maka diajarkan kitab al-Ajurumiyah, lughowy, diskusi-diskusi mingguan, dan lainnya. Dikelas ini juga mulai diajarkan memahami kandungan kitab. Ingat, rumusnya Kiai Mahfudz adalah “Bacaan yang baik = kemudahan untuk memahami kandungannya”. Rumus kedua adalah “gunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia”.

Tidak boleh tidak, santri yang gagal menggapai standar (tuntutan) di kelas ini, berupa kemampuan membaca kitab gundul, sebaiknya tidak naik ke kelas lima.

Pendidikan ala Kiai Mahfud
Menunduk, agar tak kena tunjuk.

Kelas lima menjadi mudah jika kualitas bacaan kitab waktu kelas empat baik. Santri tinggal melanjutkan menambah kosa kata baru yang belum dikenal. Untuk mendukung kemampuan santri dikelas ini, ilmu alat yang agak rumit mulai diajarkan. Kitab Imrithy menjadi salah satu kitab yang diajarkan hingga khatam. Fathul Qorib separuh kedua juga harus mampu dibaca dengan baik, tanpa makna. Tuntutan di kelas ini sama dengan di kelas empat.

Zaman saya nyantri, kalau ada teman santri yang izin boyong, biasanya Kiai bertanya sudah kelas berapa diniyahnya. Kalau belum selesai kelas lima, biasanya Kiai menyarankan agar menuntaskan dulu hingga kelas lima. Maksudnya, tuntaskan dulu kitab Fathul Qoribnya, baru boleh boyong. Santri sudah dianggap mempunyai bekal untuk perjalanan hidup di masyarakat jika sudah selesai menelaah Fathul Qorib, kitab ringkas yang memuat setiap pembahasan fiqh.

Itulah perjalanan 5 TAHUN santri Fatihul Ulum, target besarnya adalah: BISA MEMBACA KITAB FATHUL QORIB DARI AWAL HINGGA AKHIR TANPA MAKNA. Istilah dalam ilmu bahasa adalah mampu membaca intensif dan ekstensif. Mata pelajaran lainnya adalah sebagai pendukung tujuan utama.

Jika target ini sukses, santri diharapkan bisa mempunyai kemandirian belajar. Seandainya ingin menelaah kitab selain Fathul Qorib, mereka sudah mampu melakukannya, kesulitan yang mungkin datang bisa diatasi dengan bantuan kamus Arab-Indonesia atau Jawa-Indonesia.

Kelas enam adalah kelas impian. Dulu, dikelas satu diniyah, awal tahun 76 santri, ketika lulus kelas enam hanya tersisa 16 santri. Lulus Diniyah Tsanawiyah hanya 7 santri. Sulit sekali santri nyantri melampaui lima tahun. Hanya segelintir santri yang mendapat dukungan penuh dari orang tua yang biasanya melampauinya. Dikelas enam Diniyah Ibtidaiyah hingga kelas 1,2 dan 3 Diniyah Tsanawiyah merupakan masa pendalaman fiqh dengan Fathul Muinnya dan ilmu alat dengan Ibnu Aqilnya. Ditambah materi tambahan seperti pelajaran hadits dengan Bulugul Marom dan Riyadhus Sholihin serta pelajaran Ilmu Falakiyah.

Prosedur teknik atau langkah-langkah pengajaran bahasa asing (kitab gundul) dengan menggunakan metode membaca adalah sebagai berikut:

  1. Guru memulai pembelajaran dengan membahas lafadz-lafadz atau ungkapan baru yang akan ditemui santri didalam teks bab / fasal yang akan dimaknai
  2. Setelah itu guru mulai mendiktekan makna kitab dalam bahasa jawa kepada santri hingga batas yang ingin dicapai
  3. Disaat berlangsungnya memaknai kitab, guru menjelaskan makna kosa kata baru bahasa Jawa yang ditemui diikuti dengan menjelaskan kandungannya
  4. Dilanjutkan dengan mempersilahkan santri membaca sendiri-sendiri secara diam secukupnya (alqiroah asy-syamilah / silent reading)
  5. Setelah itu, guru memilih beberapa santri secara acak untuk mengulang membaca kitab yang sudah dimaknai secara bersuara sambil mencatat kesulitan-kesulitan yang dialami santri, baik kosa kata Arab atau Jawa
  6. Menjelaskan dan mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dialami santri
  7. Membuka pertanyaan-pertanyaan seputar materi
  8. Setelah selesai, santri mendapat tugas menghafal makna dari teks-teks yang sudah dimaknai untuk bisa membaca pakai makna / tanpa makna dengan baik dan benar pada pertemuan berikutnya.
  9. Untuk santri kelas akhir diniyah ibtidaiyah dan tsanawiyah, pelajaran bisa ditutup dengan memberikan tugas berupa merangkum tentang isi bacaan / kitab yang dimaknai.

Langkah-langkah di atas masih bisa dikembangkan dan dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi santri.

Kekuatan dan Kelemahan Metode Membaca

Tidak ada sesuatu yang sempurna. Karena itulah harus diperkuat agar lebih sempurna. Metode membaca atau reading method mempunyai banyak kekuatan dan kelemahan. Kekuatannya mesti dirawat dan diperhatikan, sedang kelemahannya terus didiskusikan untuk disempurnakan.

Adapun kekuatannya antara lain:

  1. Memungkinkan para santri dapat membaca kitab dengan kecepatan yang wajar tanpa harus dibebani dengan analisis gramatika mendalam (tak usah ker-mekker nahwu shorofnya).
  2. Santri banyak menguasai kosa kata secara pasif  (bisa macah kitab Arab, tapi tak bisah aomong Arab), bahasa lainnya adalah santri mempunyai komunikasi yang baik dengan kitab yang menjadi bahan bacaannya (makeh ebecah nyongsang, bisah).
  3. Santri banyak menguasai kosa kata Jawa (tapi ora iso ngomong Jowo).
  4. Santri bisa menggunakan fungsi Nahwu-Shorof (walaupun terkadang tidak mengerti alasannya).
  5. Santri terlatih memahami bacaan dengan analisis isi, tidak dengan analisis gramatika (santri bisa membaca kitab lain karena sudah tahu isinya, walaupun belum tahu gramatikanya).

Sedangkan kelemahannya adalah:

  1. Santri tidak / kurang terampil dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab
  2. Santri kurang terampil dalam mengarang / menulis
  3. Karena yang difokuskan sebagai bahan latihan adalah kitab fiqh, maka santri lemah dalam memahami teks lain, misalnya kitab hadits, politik atau kitab akidah
  4. Metode bacaan hanya cocok diberikan kepada santri yang suka membaca dan menjadi kejenuhan atas santri yang tidak suka membaca

Yang penting didiskusikan dari empat kelemahan diatas adalah Ngaji Jurnalistik agar santri gemar menulis dan memikirkan santri malas membaca agar menjadi santri hobi membaca.

Demikianlah salah satu sumbangsih artikel untuk memahami pemikiran Kiai Mahfudz Abdul Hannan tentang pendidikan, khususnya metode membaca kitab gundul. Metode ini diulang-ulang disebutkan oleh Kiai agar tetap dipertahankan. Oleh karena itu, semua usaha-usaha pengembangan dan penambahan kegiatan seyogyanya dalam rangka mencapai visi pengasuh. Cara baru elok digunakan jika ‘mungkin lebih baik’ dari cara lama dan segeralah ditinggalkan jika tak terbukti, dan cara lama patut dipertahankan jika masih baik dan relevan dipertahankan dan cara lama itu adalah metode membaca.

*) Artikel asli berjudul: Usaha Memahami Pemikiran Pendidikan K.H. Mahfudz Abdul Hannan.

Mendamaikan Hisab dan Rukyat

Setiap menjelang bulan romadlon selalu hangat dibicarakan tentang lebih baik mana antara mengikuti ketetapan para ahli hisab (al-Hussab) atau kelompok ahli rukyah. Mana yang harus diikuti dalam memulai dan mengakhiri puasa.

Di sebagian majelis ilmu pembicaraan masalah ini tidak hanya hangat tetapi sudah mendidih. Biasanya ditandai dengan saling menyalahkan sehingga timbul ketegangan.

Kalau diamati di permukaan saja kita sudah bisa melihat, bara yang menyebabkan ketegangan ini adalah salah paham tentang pengertian dan posisi rukyat dan hisab.

Untuk mengakhirinya, kita bisa menempuh jalan ‘ilmu pengetahuan’. Yakni memahami keduanya (rukyat dan hisab) dari sudut pandang kelebihan dan kekurangannya menurut ilmu pengetahuan. Jalan keluar inilah yang saya maksud dengan Mendamaikan Hisab dan Rukyat.

Pengertian Hisab dan Rukyat

Hisab

“Dialah (Allah) yang menjadikan matahari bercahaya dan bulan bersinar dan menetapkan untuk bulan manzilah-manzilah supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan” (Quran, Yunus:5).

Dalam ayat lain, “matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (Quran, Ar-Rohman:5).

Dua ayat ini adalah pijakan ahlu al-Hussab. Berdasarkan ayat ini berarti peredaran bulan bisa dihitung sehingga bisa diketahui posisi-posisinya secara pasti (ilmu hitung juga disebut ilmu pasti). Berarti pula awal dan akhir bulan qomariah (kalender hijryah) juga bisa dihitung dengan pasti.

Lebih jauh lagi, dengan hisab kita bisa mengetahui kapan terjadi gerhana bulan, gerhana matahari, bahkan kita bisa mengetahui posisi matahari saat istiwak, saat terbit dan saat terbenam (kaitannya dengan waktu sholat lima waktu).

Namun, dari sudut ilmu pengetahuan, para ahli berkesimpulan bahwa posisi edar bulan dalam beberapa masa yang lama bergeser dari garis edar semula. Jika begitu kenyataannya, maka ilmu hisab berkembang, artinya teori yang ada dalam kitab hisab tidaklah baku, tetapi harus terus di-update mengikuti perkembangan teknologi antariksa (ilmu astronomi). Karena dengan adanya pergeseran garis edar berarti menggeser pula keakuratan suatu rumus.

Perkembangan ilmu astronomi selanjutnya akan membedakan beberapa kitab/buku falak dalam beberapa tingkat dilihat dari segi keakuratannya dan usia temuan data tentang gerakan benda-benda langit, antara lain:

  1. Ilmu Hisab Hakiki Taqribi, yang masuk kategori ini adalah kitab Sullamun Nayyiroyni dan Fathul Rouf al-Mannan.
  2. Ilmu Hisab Hakiki Tahqiqi, yaitu antara lain adalah kitab falak Kholashotul Wafiah, Badiatul Mitsal dan Nurul Anwar.
  3. Ilmu Hisab Hakiki Tahqiqi Kontemporer, diantaranya yakni buku Newcomb, Islamic Calender, Astronomical Almanac dan lain-lain termasuk buku-buku terbaru karangan ahli astronomi jaman modern.

Lalu bagaimana dengan kitab Muntaha Nataijil Aqwal yang notabene merupakan kitab Falak andalan Pesantren Fatihul Ulum…?!

Jika dilihat dari sisi keakuratannya kitab ini berada dalam kelompok Ilmu Hisab Hakiki Tahqiqi Kontemporer (walaupun berbahasa arab). Karena kitab-kitab hisab mempunyai derajat keakuratan yang berbeda, maka itu adalah peluang untuk saling berbeda pendapat diantara para ahli hisab sendiri.

Berarti jika penentuan awal dan akhir romadhon diserahkan sepenuhnya kepada para ahli hisab yang kitabnya berbeda itu, tidak menjadi jaminan mereka akan kompak keputusannya.

Rukyat

“Shuumuu liru’yaatihi wa afthiruu liru’yaatihi” (mulailah puasa karena melihat hilal dan berhentilah karena melihat hilal).

Hadits ini adalah pijakan para ulama’ pendukung Rukyatul Hilal. Ulama’ yang mendukung ini adalah ulama’ kebanyakan (jumhur). Mereka berpegang pada hasil rukyat secara mutlak dengan saksi minimal 2 orang (ada yang berpendapat 1 orang saja). Dengan tegas mereka mengatakan, “Laa ibrota liqoulil hussab” (pendapat ahli hisab tidak diperhitungkan).

Sayangnya, akhir-akhir ini rukyat didukung oleh orang-orang awam yang sama sekali tidak mengerti apa yang didukung. Mereka inilah yang memperkeruh situasi menjelang romadhon dan idul fitri dengan cara bersitegang dengan kelompok al-Hussab.

Dari sudut ilmu pengetahuan, kelompok rukyat mendapat kemajuan dengan ditemukannya Teleskop oleh Galileo Galilei (1564-1642 M). Adanya teleskop sangat membantu proses rukyatul hilal (observasi). Tetapi, dalam perjalanannya proses observasi selalu menghadapi kendala alami yaitu awan tebal yang menutupi obyek (bulan).

Dalam sebuah kesempatan, Ustadz Saifuddin Jamil (pengajar Fatihul Ulum) bercerita bahwa pernah ketika sedang melakukan observasi, peserta mengarahkan teleskopnya ke sebelah utara matahari dan melihat ada benda berbentuk sabit dan menyangkanya sebagai ‘hilal’.

Untungnya dari golongan ahli hisab mengatakan bahwa hasil hisabnya menyatakan posisi bulan ada di sebelah selatan matahari. Dan benar saja. Pada kenyataannya benda berbentuk sabit di sebelah utara itu lenyap karena ia hanyalah awan yang sedang lewat saja. Posisi bulan waktu itu benar-benar ada di sebelah selatan matahari, persis seperti hasil hisab.

Sedikit kisah di atas seharusnya bisa menyadarkan para pendukung rukyat, bahwa di saat tertentu dan biasanya sering terjadi, mereka mesti mengikuti hasil hisab. Masalah barunya sekarang, apakah masyarakat awam mau memahaminya? Ini adalah tugas para ulama’ pendukung rukyat agar masyarakatnya diberi pemahaman, jangan membiarkan mereka terus buta.

Mendamaikan Hisab dan Rukyat – Sebuah Usul Jalan Keluar

Imam Ibnu Hajar menawarkan jalan keluar yaitu bahwa kesaksian hilal bisa ditolak (walaupun dengan saksi) manakala ahli hisab sepakat memustahilkannya. Dan bisa diterima apabila tidak demikian.

Tetapi para ahli hisab harus senantiasa memilih kitab hisab terkini yang tingkat keakuratannya tinggi. Untuk mengetahui kitab yang mempunyai tingkat keakuratan tinggi kita bisa membuktikan atau mengukurnya dengan cara mencocokkan dengan hasil rukyat dari waktu ke waktu.

Jika sebuah kitab hasil hitungannya sudah sangat berbeda dengan hasil observasi atau rukyat dari waktu ke waktu, maka bersepakatlah untuk meninggalkan buku itu. Toh kita mencari hilal yang sama. Berarti jika berbeda dalam penentuan ada tidaknya hilal, maka salah satunya ada yang salah.

Diharapkan setelah rukyat dan hisab berdamai tidak ada lagi orang yang mengomentari hisab atau rukyat dengan kebodohannya. Walhasil perbedaan hari raya di indonesia dalam matla’ yang sama bisa dihindari.

Wallahu A’lam Bish-showab.