Manggisan.Net

Sistem Pendidikan Terbaik Ada di 11 Negara Ini

Peringkat negara dengan sistem pendidikan terbaik dalam artikel ini disusun menurut laporan yang dirilis oleh Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum – WEF).

Setiap tahun WEF menerbitkan laporan Tingkat Daya Saing Global. Laporan ini mengacu pada keadaan ekonomi dunia.

Data yang diamati sangat beragam. Mulai dari kesehatan perbankan hingga tingkat kenyamanan dunia usaha. Dari data tersebut kemudian diolah sehingga didapat gambaran tentang keadaan ekonomi suatu negara. Hampir seluruh negara diteliti dalam laporan ini.

Negara-negara itu lalu dibuat peringkat berdasarkan 12 parameter daya saing. Diantaranya meliputi keadaan ekonomi makro, infrastruktur, kesehatan, pendidikan dasar, serta daya serap tenaga kerja.

Sistem Pendidikan Terbaik
Sekolah di Alam Bebas. (Ilustrasi)

Dari data yang memuat tentang pendidikan tersebut disusunlah rangking negara teratas dalam hal sistem pendidikan. Yang menarik, dua negara besar yaitu Amerika dan Inggris, tidak masuk dalam daftar ini.

Berikut 11 negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik menurut WEF:

11. Jepang

Jepang merupakan salah satu negara yang paling baik dalam tingkat literasi, sains, dan matematika, diantara negara-negara yang tergabung dalam kelompok OECD.

Masa sekolah di Jepang adalah 6 tahun sekolah dasar, 3 tahun sekolah menengah pertama, lalu 3 tahun sekolah menengah atas sebelum mereka memutuskan untuk melanjutkan ke universitas.

Masuk sekolah menengah atas tidak diwajibkan namun persentase siswa yang melanjutkan ke SMA mendekati 98%.

10. Barbados

Pemerintah Barbados telah melakukan investasi besar-besaran dalam pendidikan. Hasilnya, tingkat literasi di negara pulau ini mencapai 98%, salah satu yang tertinggi di dunia.

Sekolah dasar ditujukan untuk siswa usia 4 sampai 11 tahun, dan sekolah menengah untuk yang berusia 11 hingga 18 tahun. Kedua tingkat sekolah ini mayoritas dimiliki dan dibiayai oleh negara.

9. Selandia Baru

Sekolah dasar dan menengah di Selandia Baru umumnya mencakup anak usia 5 hingga 19 tahun.

Ada tiga jenis sekolah menengah di negara ini:

Sekolah negeri, sebanyak 85% dari seluruh siswa di Selandia Baru masuk sekolah ini.

Sekolah integrasi negeri, yaitu sekolah yang dibina negara namun tetap dengan charter mereka yang khusus. Persentase siswa yang masuk sekolah ini sejumlah 12%.

Sekolah swasta, dengan porsi siswa sebanyak 3%.

8. Estonia

Pada tahun 2015 Estonia mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 4% dari GDP dari negara itu. Ini setara dengan sekitar Rp 13 Triliun.

Estonia memiliki Undang-undang Pendidikan Tahun 1992, yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah:

  1. Menciptakan kondisi yang mendukung pengembangan kepribadian, keluarga, dan bangsa;
  2. Menggalakkan pengembangan suku minoritas, ekonomi, politik, dan kehidupan yang berbudaya di Estonia serta pelestarian alam dalam konteks ekonomi dan budaya global;
  3. Mengajarkan tentang nilai-nilai kewarganegaraan; serta
  4. Menyiapkan prasarana demi terciptanya tradisi belajar sepanjang hayat di seluruh negeri.

7. Irlandia

Sekolah menengah di Irlandia kebanyakan dikelola swasta namun dibiayai oleh negara. Meskipun terdapat juga sekolah terpadu dan kejuruan negeri.

Namun laporan terbaru menunjukkan bahwa anggaran pendidikan negara Irlandia lebih rendah 15% dibanding anggaran pendidikan negara-negara berkembang. Laporan tersebut memberikan catatan bahwa sistem pendidikan negara bisa terpuruk di masa depan.

6. Qatar

Menarik melihat bahwa Qatar merupakan satu-satunya negara Arab yang masuk dalam daftar ini.

Pada tahun 2012 BBC melaporkan bahwa Qatar, salah satu pengekspor LNG terbesar selain Rusia dan Iran, telah menjadi salah satu pemain penting dalam bidang inovasi pendidikan. Qatar menggalakkan sejumlah besar proyek pendidikan, mulai dari program pengentasan buta huruf hingga penelitian universitas tingkat lanjut dengan anggaran fantastis.

Gedung Dewan Pendidikan Tertinggi - Qatar
Gedung Dewan Pendidikan Tertinggi – Qatar

Negara menyediakan alokasi anggaran yang sangat besar untuk bidang pendidikan. Ini bertujuan untuk meningkatkan standar pendidikan Qatar sesuai rencana mereka dalam Visi 2030. Visi tersebut memiliki tujuan agar Qatar dapat menjadi negara yang mandiri dan berkecukupan.

Sekolah yang dibiayai negara menyediakan sekolah secara gratis. Namun sekolah gratis ini hanya diperuntukkan bagi penduduk asli Qatar. Pendatang biasanya menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah swasta yang ada di sana.

5. Belanda

Menurut studi UNICEF tahun 2013, siswa Belanda merupakan murid yang paling bahagia di dunia. Belanda termasuk yang terdepan dalam hal tingkat kebahagiaan siswa di sekolah.

Sekolah di sana biasanya tidak banyak memberikan PR atau pekerjaan rumah. PR mulai lebih sering diberikan setelah siswa memasuki sekolah menengah. Laporan menunjukkan bahwa sedikit sekali siswa yang mengalami tekanan dan stres di sekolah.

Sekolah dibagi antara sekolah agama dan sekolah negeri yang “netral”, dengan hanya sejumlah kecil sekolah swasta.

4. Singapura

Siswa dari Singapura seringkali meraih skor yang tinggi dalam tes PISA – Programme for International Student Assessment. Tes ini mengukur kemampuan siswa dan membandingkannya dengan negara-negara lain.

Namun jeleknya, sekolah di Singapura dikenal sangat ketat. Siswa yang masih kecil sudah diberi tugas-tugas berat yang membuat mereka tertekan.

3. Belgia

Belgia memiliki empat jenis sekolah menengah yang berbeda yaitu:

  • sekolah menengah umum,
  • sekolah menengah teknik,
  • sekolah menengah kejuruan, dan
  • institusi pendidikan seni.

Pendidikan di Belgia mendapat prioritas tinggi. Anggaran pemerintah daerah sebagian besar dialokasikan untuk bidang pendidikan.

Sekolah dengan sistem terpadu, baik sekolah negeri maupun swasta, tersedia untuk semua anak yang berusia antara 4 hingga 18 tahun, dengan biaya yang sangat murah bahkan banyak yang gratis.

2. Swiss

Hanya 5% dari siswa di Swiss yang sekolah di lembaga pendidikan swasta. Sedang sisanya masuk sekolah negeri.

Bahasa pengantar yang digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar berbeda-beda. Tergantung daerah masing-masing. Umumnya bahasa yang digunakan adalah bahasa Jerman, Prancis, dan Italia.

Setelah lulus sekolah dasar, siswa kemudian digolongkan berdasarkan kemampuan.

1. Finlandia

Finlandia memang sering masuk rangking teratas dalam peringkat sistem pendidikan terbaik dunia. Negara ini terkenal dengan sistem pendidikan yang tidak menerapkan penilaian terhadap siswanya.

Perpustakaan Kota Oulu - Finlandia
Perpustakaan Kota Oulu – Finlandia

Semua siswa belajar dalam kelas yang sama meskipun kemampuan mereka secara akademis berbeda. Dengan kata lain, tidak ada kelas unggulan di sini. Hasilnya, perbedaan kemampuan antara siswa yang terendah dan yang paling pintar tergolong yang paling kecil di dunia.

Sekolah-sekolah di Finlandia hanya memberi pekerjaan rumah yang sangat minim. Tes wajib untuk siswa juga hanya satu kali, yaitu saat mereka sudah berusia 16 tahun.

Berita Hoax – 6 Cara Mudah Mengenalinya

Berita hoax atau berita palsu dapat berdampak serius pada kehidupan nyata.

Contohnya, seorang pria melepaskan tembakan dalam sebuah restoran pizza di Kota Washington. Ia melakukan itu karena mengaku sedang menyelidiki sebuah teori konspirasi yang ia baca dari internet.

Hoax telah menjadi sebuah persoalan yang serius.

Berita Hoax

Platform yang digunakan sebagai media tentu saja bertanggung jawab atas menyebarnya berita hoax. Namun kita sebagai pembaca seharusnya dapat membentengi diri dan menyaring berita-berita yang beredar luas. Apakah berita tersebut benar-benar valid, ataukah hanya berita palsu yang sengaja disebarkan dan menjadi viral.

Salah satu cara agar kita dapat mengenali berita bohong adalah kita harus memiliki literasi media yang memadai.

Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Cukup mengejutkan bahwa menurut studi dari Universitas Stanford, kebanyakan orang ternyata tidak memiliki literasi media yang cukup. Tidak heran bila berita hoax dapat dengan mudah menjadi viral dan menyebar dengan cepat. Dan itu tidak hanya terjadi di Indonesia.

Tips Mengenali Berita Hoax

Ada beberapa cara mudah yang dapat dilakukan untuk mengenali berita hoax saat kita membaca artikel online. Berikut ini 6 hal yang sebaiknya kita perhatikan agar terhindar dari hoax atau berita bohong:

Cek Alamat Website

Website yang terpercaya biasanya memiliki alamat website atau domain yang standar. Domain dengan akhiran .com.co atau akhiran lain yang tidak umum cukup layak untuk kita curigai. Kita perlu menggali lebih dalam untuk mencari tahu apakah website tersebut dapat dipercaya, meskipun tampilannya cukup meyakinkan.

Contohnya, abcnews.com adalah sebuah website berita yang profesional dan terpercaya. Sedangkan abcnews.com.co merupakan website tiruan.

ABC News – Website Resmi
ABC News – Website Resmi
ABC News - Website Tiruan
ABC News – Website Tiruan

Selain akhiran domain, nama domain juga dapat kita gunakan sebagai peringatan awal dalam mengenali berita hoax. Nama domain yang panjang cenderung kurang resmi. Ini karena domain dengan nama pendek biasanya telah dimiliki oleh pihak lain sejak lama. Bila masih tersedia maka harganya sangat mahal. Hanya terjangkau oleh pihak korporat. Penyebar berita hoax tentu akan berpikir ulang untuk membeli domain dengan harga selangit.

Harga CPU.com - Rp 1,3 Miliar
Harga CPU.com – Rp 1,3 Miliar

Bandingkan harganya dengan nama domain yang mirip namun sedikit lebih panjang:

Harga CPUHoax.com - hanya Rp 130 ribu
Harga CPUHoax.com – hanya Rp 130 ribu

Periksa Halaman ‘About Us’

Biasa juga ditampilkan sebagai halaman ‘Tentang kami’. Sebuah website yang dikelola secara serius dan profesional biasanya memiliki halaman ini.

Berisi informasi tentang alamat pengelola, perusahaan atau organisasi yang menjalankannya, struktur organisasi, dan informasi lain tentang orang-orang di balik website tersebut.

Bahasa yang ditulis pada halaman ini biasanya sederhana dan langsung ke intinya. Bila ternyata memuat hal-hal yang berlebihan dan bersifat sensasi, Anda bisa mengabaikan website tersebut.

About Us - Kompas.com
Halaman About Us dari Kompas.com

Jangan lupa untuk mengecek nama-nama yang terdapat pada halaman Tentang Kami ini. Lakukan pencarian di Google. Bila nama-nama pengurus ternyata juga terdapat di beberapa situs lain yang tidak memiliki reputasi, besar kemungkinan isi halaman tersebut hanyalah hasil copy-paste. Website demikian tidak layak dijadikan bahan bacaan ataupun rujukan. Apalagi untuk dibagikan ke orang lain.

Referensi yang Digunakan

Artikel yang bermutu biasanya menggunakan banyak referensi atau rujukan. Masing-masing rujukan membahas sesuai dengan bidang keahliannya. Bila artikel tersebut berbicara tentang data dan penelitian yang telah dilakukan oleh para pakar maka artikel tersebut memiliki tingkat kebenaran yang cukup tinggi. Bukan sekedar opini dan rekaan yang hanya menggiring publik untuk memercayai kebohongan.

Cari Sumber Asli Kutipan

Seringkali kita dapati sebuah gambar seorang terkenal yang disandingkan dengan sebuah kutipan atau petuah. Ini untuk memberi kesan bahwa orang dalam gambar mengatakan sesuatu seperti tulisan tersebut.

Benarkah demikian? Pastikan kebenarannya dengan melakukan Google Search sederhana!

Kebijakan Presiden Obama tentang Kepemilikan Senjata
Kebijakan Presiden Obama tentang Kepemilikan Senjata

Misalkan kita menjumpai gambar yang memuat tentang perkataan Obama bahwa dia ingin penduduk Amerika tidak memiliki senjata.

Obama adalah pejabat yang hampir setiap perkataannya selalu direkam dan diarsipkan dengan baik. Kita bisa melakukan pencarian melalui Google dengan mudah. Cari tahu kapan perkataan tersebut terjadi, kepada siapa ditujukan, dan dalam konteks apa dia berbicara demikian. Dengan begitu kita akan tahu apakah kutipan tersebut benar atau tidak.

Lihat Komentar Orang

Berita bohong seringkali dibagikan di dunia medsos – media sosial. Judul berita seharusnya dibuat selain untuk memikat orang agar membaca lebih lanjut, judul juga merupakan gambaran umum dari keseluruhan artikel.

Namun akhir-akhir ini, judul seringkali disalahgunakan.

Judul ditulis dengan bahasa berlebihan dengan maksud menyesatkan pembaca. Lebih parah lagi artikel di dalamnya sama sekali tidak berhubungan dengan judulnya. Berita semacam ini biasanya mendapatkan banyak komentar di Facebook atau Twitter. Bila banyak komentar yang mempertanyakan kebenaran dari berita tersebut, barangkali kenyataannya memang demikian.

Pencarian Terbalik Pada Gambar

Gambar dalam sebuah berita harus benar-benar merupakan ilustrasi dari berita yang dimaksud. Namun sayangnya hal itu saat ini semakin jarang terjadi. Pembuat berita hoax biasanya tidak pernah melakukan wawancara dengan sumber berita. Karenanya besar kemungkinan gambar yang dimuat adalah rekaan sendiri.

Lakukan pencarian terbalik pada gambar yang ada dalam berita tersebut. Caranya yaitu dengan klik kanan lalu klik ‘Search Google for image‘. Bila gambar tersebut muncul dalam banyak berita pada berbagai topik, maka besar kemungkinan gambar itu bukanlah gambar yang sebenarnya.

Contohnya seperti berita Bocah Sebatang Kara di Karawang ini:

Bocah Yatim Piatu Hidup Sebatang Kara - Karawang
Bocah Yatim Piatu Hidup Sebatang Kara – Karawang

Ditulis dalam berita tersebut bahwa bocah yatim piatu berusia 13 tahun hidup sebatang kara di Karawang, Jawa Barat. Lebih miris lagi saat makan, satu bungkus dia bagi dua. Separuh untuk sahur dan separuh lainnya untuk berbuka puasa.

Berita di atas bahkan dimuat di salah satu portal berita terkenal.

Namun setelah diteliti lebih lanjut berita itu hanyalah bualan seseorang di facebook yang kemudian menjadi viral. Empati masyarakat nampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh penulis awal berita tersebut. Mereka lantas membagikannya dari medsos satu ke medsos lainnya. Tidak sempat lagi untuk mengecek kebenarannya lebih lanjut.

Ternyata kemudian berita tersebut terbukti memang berita bohong belaka. Bocah tersebut tidak hidup separah itu. Bahkan website lain yang mewawancarai tetangga yang bersangkutan menyatakan bocah itu malah foya-foya setelah bantuan mengalir dari berbagai pihak.

Kesimpulan

Cara sederhana di atas adalah langkah awal untuk mengenali berita hoax. Bila kita menerapkannya berarti kita turut membantu agar berita bohong tidak semakin menyebar luas.

Platform penyedia fasilitas berbagi – seperti media sosial misalnya – juga turut aktif memberantas penyebarluasan berita yang memuat kebohongan ini. Namun di sisi lain mereka juga tidak ingin membatasi hak orang untuk bebas menyampaikan sesuatu.

Selain itu kita juga harus bisa menahan diri untuk tidak begitu saja membagikan berita yang belum jelas kebenarannya. Bila Anda mendapat berita yang dibagikan oleh teman dan Anda tahu berita itu tidak benar, beritahu yang bersangkutan secara baik-baik. Ada kemungkinan teman Anda akan merasa tersinggung. Namun memang harus ada yang menghentikan jalur peredaran berita palsu tersebut.

Stop Share Berita HOAX

Akhirnya terpulang kepada individu kita masing-masing. Kita harus mampu memilah dan memilih berita atau artikel mana yang layak untuk kita baca dan bagi. Dengan begitu dunia maya akan menjadi tempat yang lebih damai dan tenang, bebas dari berita hoax yang saling menyesatkan.

S.A.S. Singkatannya Apa Sih?

Bagi yang cukup sering — tidak hanya jarang — mengunjungi pesantren Fatihul Ulum, barangkali pernah mendengar istilah SAS. Namun hampir bisa dipastikan, tidak satupun dari mereka tahu, singkatan dari apakah SAS itu?

Bila Anda mencoba mencarinya di Google, maka kemungkinan besar yang akan muncul adalah SAS – Special Air Service. Satuan pasukan elit dari Inggris.

SAS - Special Air Service

Dalam artikel ini, penulis mencoba meraba dan menyajikan beberapa kemungkinan, apakah arti SAS itu sebenarnya?

Santreh Asekola Siang

Ada sekelompok santri yang mereka-reka bahwa, SAS bermakna Santreh Asekola Siang. Ini bermula ketika masa dimana waktu belajar santri dipisah. Beberapa santri mengikuti kelas pagi sedangkan sisanya belajar di siang hari. Atau bahkan malam.

Pemisahan waktu belajar ini dilakukan karena saat itu awal-awal penyelenggaraan sekolah formal. Ruang kelas masih terbatas. Gurunya juga terbatas. Untuk menambah guru tidak mungkin karena uangnya juga terbatas. Semuanya serba terbatas. Limited Edition istilah kerennya.

Sholat Apa Saja

Meski istilah SAS masih tetap belum dapat dipastikan artinya, namun barangkali kejadian yang satu ini dapat menggambarkan sekilas semangat belajar dari SAS.

—————–

Pada suatu hari yang cerah cenderung panas, santri sudah bersiap di kelas untuk mengikuti pelajaran matematika. Kelas dimulai pukul 10:00 dan akan berakhir 12:15. Seharusnya.

Namun yang terjadi berikutnya sungguh di luar rencana. Bahkan menjadi sejarah.

Guru matematika yang ditunggu belum juga tampak batang hidung dan bundar songkoknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:30. Namun para santri itu tidak ada yang balik ke bilik masing-masing. Mereka sadar akan konsekuensinya.

Mereka tetap berada dalam kelas karena di sana ada salah satu pengurus pesantren. Dan melawan atau bertentangan dengan pengurus berarti melawan kyai. Melawan kyai akan menyebabkan ilmu yang didapat tidak barokah. Dan ilmu yang tidak barokah ini, meskipun berhasil dikuasai, hanya akan mendatangkan bahaya alih-alih manfaat bagi mereka. Sepertinya hanya santri yang paham akan paham yang mulia ini.

Pengurus itu Zainuddin namanya. Nah, si Zainuddin termasuk pengurus yang langka. Unik lebih tepatnya. One of a kind.

Zainuddin akan menaati 100% perintah kyai atau gurunya. Bulat-bulat. Tanpa kiasan ataupun tafsiran. Sam’an wa Tho’atan bil Lughotan.

Biasanya, ketika santri disuruh ke barat ada saja yang malah ke timur. Namun tidak demikian halnya dengan Zain. Dia akan tetap ke barat sesuai yang diperintahkan. Teman-temannya tidur saat guru menerangkan, Zain tetap duduk sigap di kursinya.

Yang lain lempar-lemparan, Zain tetap mendengarkan dengan serius.
Yang lain bal-balan, Zain malah kelojotan terjangkit typus.

Dan ketaatannya-lah yang membuat teman-temannya begitu sungkan padanya.

Hari itu pun sama. Lainnya tetap di dalam kelas. Kecuali si Zain turun ke biliknya, pikir mereka. Namun nyatanya, seperti biasa, Zain tidak beranjak. Seperti sedang ada guru saja di depannya. Tidak jelas apakah ia sedang melamun atau bertafakur.

Dan akhirnya guru pun tiba. Namun alih-alih guru matematika, yang hadir ke dalam kelas ternyata guru komputer.

Nah, si Guru Komputer ini dikenal memiliki wibawa tingkat dewa. Maka kelas pun menjadi senyap seketika. Santri yang sedang berlarian mendadak duduk di bangku terdekat. Tak peduli bangku siapa. Zain yang sudah sigap pun masih ditambahinya dengan tegap. Sekarang ia terlihat seperti pasukan siaga satu yang sedang disidak. “Perang bisa meletus kapan saja”, kelebat di benaknya. Andai ada jarum yang jatuh saat itu maka suaranya akan terdengar seperti menjerit berdecit-decit.

Di zaman itu memang sudah biasa pelajaran sehari-hari berlangsung acak. Namun tidak acak-acakan. Tidak saklek sesuai jadwal yang tertera. Bila ada kelas yang kosong, maka guru siapapun diperbolehkan memasukinya. Memberikan pelajaran apa saja sesiapnya. Ada guru yang bercerita atau mendongeng — karena memang belum ada persiapan materi sebelumnya — ada pula yang memberikan motivasi sambil seringkali dibumbui emosi. Yang penting santri tetap belajar.

“Pindah ke lab”, pinta guru itu singkat sambil berlalu.

Semua santri dalam kelas itu pun segera ke lab komputer. Di sana si guru sudah menunggu. Tidak berapa lama si guru lalu memberikan soal praktek.

Dan CELAKA!!

Seisi kelas tidak ada yang bisa mengerjakannya dengan benar. Semuanya menjadi berdebar-debar. Sudah terbayang sanksi yang akan menimpa mereka. Mana sedang tengah hari lagi.

“Buruh!”

Benar saja. Si guru memerintahkan mereka untuk lari di halaman pesantren. Zain, yang spontan merasa bertanggung jawab akan nasib teman-teman sekelasnya, berinisiatif bertanya,

“Berapa kali, Tad?”
“Seket kaleh!”.

Aduhh…, Kawan. Sebenarnya lari di halaman ini tidaklah jadi soal. Namun dengan dua kondisi ekstrim, tengah hari dan lari lima puluh kali, kali ini lari di halaman benar-benar sebuah soal. Yang tidak membutuhkan jawaban. Soal ini hanya butuh dilaksanakan.

Para penghuni penjara suci itupun berlari di bawah terik matahari. Semuanya berlari dalam sunyi. Mereka sadar akan kelalaian mereka dalam belajar. Meskipun sedikit ruang hati mereka berharap, seandainya hari itu guru matematika datang barangkali akan lain kejadiannya.

Selesai lima puluh kali putaran, mereka langsung menyelupkan kaki mereka ke dalam kullah. Untuk menyucikan kaki sebelum mereka kembali ke lab. Persis seperti perlakuan quenching pada besi, dipanaskan hingga membara lantas dicelupkan ke dalam air. Ia pun menjadi besi yang berkualitas. Tapi itu besi, Kawan.

Setelah kembali ke lab, guru komputer menyuruh mereka untuk sholat.

“Dulih sholat!”
“Berapa kali, Tad?”, Zain mengajukan pertanyaan identik seperti ketika disuruh lari tadi.
“Seket salaman.” jawaban identik pula yang didapat.
“Sholat apa, Tad?” Zain bertanya sangat detail mulai agak menyebalkan.
“Sholat apah bein”, jawab guru itu.

Maka mulailah mereka bersiap-siap sholat. Namun beberapa makmum malah kasak-kusuk dan tolah-toleh ke kanan kiri mereka. Masih bingung mau melaksanakan sholat apa. Salah satu dari mereka akhirnya bertanya pada imam, si Zainuddin,

“Cak Jen, niatnya sholat apa?”
“Sholat apa saja”, jawab Zainuddin menyampaikan dawuh gurunya di atas.

Hingga saat ini masih menjadi misteri apakah niat sholat saat itu. Apakah sholat muthlaq, sholat qodlo’, bahkan tidak menutup kemungkinan ada pula santri lugu yang berniat,

“Usholli apa saja lillahi ta’ala.”

Mereka pun mulai mengerjakan sholat. Hampir semuanya sholat dengan berjingkat. Hanya satu dua yang tidak. Kaki mereka melepuh. Air berkantung di telapak kakinya.

10 salaman, 20 salaman…, hingga 50 salaman tuntas.

Terasa jauh lebih lama daripada sholat biasanya. Sungguh sebuah semangat dan perjuangan yang luar biasa. Namun mereka tidak merasa itu adalah sebuah pengorbanan. Karena bukanlah cinta bila masih merasa berkorban.

Jadi, Singkatannya Apa Sih?

Bahkan hingga saat tulisan ini terbit, arti sebenarnya dari SAS belumlah selesai. Masih abstrak. Maknanya terus berkembang dari waktu ke waktu. Judul tulisan ini pun dapat pula menjelaskan SAS – Singkatannya Apa Sih. Masing-masing dari kita dapat dan sah-sah saja memaknai SAS.

Ada pula salah satu makna alternatif dari SAS yang akan tetap relevan sepanjang zaman yaitu, SAS – Shallallahu Alayhi wa Sallam.

Wallahu a’lam bishshowab.

Oleh: Lukman Hakim