Sejarah

Abu Kamil Shuja’ bin Aslam

Tokoh berikutnya yang juga berada pada Masa Keemasan Islam adalah ulama’ yang dijuluki Kalkulator dari Mesir: Abu Kamil Shuja’ bin Aslam. Beliau mulai bersinar setelah wafatnya al-Khawarizmi (tahun 850 M) dan sebelum al-‘Imrani (wafat tahun 955 M). Sehingga bisa dikatakan masa beliau adalah pada awal Abad X (kesepuluh).

Dunia Barat mengenalnya sebagai Auoquamel. Beliau adalah matematikawan pertama yang menggunakan bilangan irasional secara sistematis dan menerimanya sebagai sebuah jawaban dan koefisien dari suatu persamaan. Metode beliau kelak ternyata dipakai oleh Fibonacci dan membuat beliau dianggap sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam mengenalkan aljabar ke benua Eropa.

…tokoh yang berperan penting dalam mengenalkan aljabar ke benua Eropa.

Abu Kamil merupakan tokoh penting dalam aljabar dan geometri. Dia adalah matematikawan Islam pertama yang menemukan cara mudah untuk menyelesaikan persamaan aljabar dengan pangkat lebih dari 2 (hingga pangkat 8).

Abu Kamil Shuja' bin Aslam

Beliau menyempurnakan karya al-Khawarizmi pada aljabar maupun matematikawan lain yang membahas bab-bab seperti pencarian dan penyusunan kedua akar dari suatu persamaan kuadrat; perkalian dan pembagian aljabar kuantitas; penambahan dan pengurangan akar; serta makalah tentang segilima dan segisepuluh (pengerjaan secara aljabar).

Beliau menyempurnakan karya al-Khawarizmi pada aljabar…

Risalah beliau tentang pengukuran segilima dan segisepuluh — yang dalam bahasa Arab berjudul Misahat al-Mukhamas wal muashar — tersedia di Istanbul dan dalam terjemahan Latin di Paris dan terjemahan ke dalam bahasa Ibrani, Jerman, Italia, dan sebagian terjemahan ke bahasa Rusia.

Karyanya yang berjudul kitab al-Jabr tersedia dalam berbagai manuskrip, seperti di Istanbul dan Berlin, dan juga dalam beragam bahasa dan terjemahan seperti Ibrani, Jerman, dan Inggris. Abu Kamil menulis Taraif al-Hisab (keanehan dalam aritmatika) yang tersedia namun tidak lengkap di Leiden. Terdapat terjemahan Latin yang lebih lengkap dari risalah ini di Paris, dan terjemahan bahasa Ibrani dari Spanyol.

Abu Kamil Shuja’ juga menulis tentang penghitungan warisan dengan cara akar dan warisan dengan cara aljabar. Beliau juga menyusun sebuah buku yang berisi soal-soal matematika tak hingga, sebuah risalah tentang pengukuran tanah, sebuah buku mengenai pengukuran dan geometri, buku tentang penggabungan dan pemisahan serta sebuah karya lain yang berjudul Kitab al-Kaafii.

Abu Kamil Shuja’ juga menulis tentang penghitungan warisan dengan cara akar dan warisan dengan cara aljabar. Beliau juga menyusun sebuah buku yang berisi soal-soal matematika tak hingga…

Matematika Abu Kamil digunakan secara luas oleh para penerusnya, baik muslim maupun kristiani Barat, seperti al-Karkhi dan Leonardo da Pisa. Terdapat beberapa studi modern yang membahas tentang Abu Kamil, diantaranya yang disusun oleh Weinberg dan Levey.

Sumber:
– Wikipedia.org.
– Foundation for Science Technology and Civilisation, Cairo, May 2005.

Islam dan Inggris Pernah Begitu Dekat: Awal Mula BREXIT

Dunia Islam dan Inggris dahulu pernah menjadi sekutu dekat. Dan Inggris pun untuk pertama kalinya terbelah. Negara itu berpaling dari Eropa. Penguasanya yang seorang perempuan lebih cenderung melakukan kerjasama perdagangan dengan negara-negara di kawasan Timur. Apabila kita saksikan saat ini Inggris keluar dari Uni Eropa, yang lebih populer dengan BREXIT (British Exit), maka itu bukanlah yang pertama. Itu juga pernah terjadi di abad ke-16 saat zaman keemasan ratu yang paling terkenal, Ratu Elizabeth I.

Salah satu aspek yang lebih mengejutkan dari kubu Inggris pendukung Ratu Elizabeth adalah bahwa kebijakan luar negeri dan ekonomi mereka seringkali didasari karena aliansi yang erat dengan dunia Islam, sebuah fakta yang secara rapi sekali diabaikan hingga hari ini oleh orang-orang yang mendorong retorika populis tentang kedaulatan nasional.

Inggris Dikucilkan karena Protestan

Dimulai saat dia naik takhta pada tahun 1558, Ratu Elizabeth mulai mencari hubungan diplomatik, perdagangan dan militer dengan penguasa Islam di Iran, Turki dan Maroko — karena sebuah alasan. Pada tahun 1570, ketika menjadi jelas bahwa Protestan Inggris tidak akan kembali ke Katolik, Elizabeth lantas dikucilkan oleh Paus dan menyerukan agar dia dilucuti mahkotanya. Tidak lama berselang, pemimpin Katolik Spanyol juga berseberangan dengannya. Invasi pun makin dekat. Pedagang Inggris dilarang bertransaksi dengan pasar yang kaya dari Spanyol dan Belanda. Embargo ekonomi dan politik dijadikan ancaman untuk menghancurkan negara Protestan yang baru itu.

Islam dan Inggris Pernah Begitu Dekatnya
Murad III (kiri) dan Elizabeth I (kanan)

Elizabeth menanggapi perseteruan tersebut dengan merangkul negara Islam. Satu-satunya saingan Spanyol saat itu adalah Kekaisaran Ottoman, yang diperintah oleh Sultan Murad III. Kekuasaannya membentang dari Afrika Utara melalui Eropa Timur hingga ke Samudera Hindia. Ottoman telah memerangi Hapsburg selama beberapa dekade, menaklukkan sebagian dari Hongaria.

Elizabeth berharap aliansi dengan sultan akan memberikan banyak bantuan yang dibutuhkan dari kemungkinan agresi militer Spanyol, dan memungkinkan pedagangnya untuk memasuki pasar yang menguntungkan di kawasan Timur. Sebagai penyeimbang, dia juga bekerja sama dengan saingan Ottoman, Syah Persia dan penguasa Maroko.

Elizabeth menanggapi perseteruan tersebut dengan merangkul negara Islam. Satu-satunya saingan Spanyol saat itu adalah Kekaisaran Ottoman, yang diperintah oleh Sultan Murad III.

Masalahnya kerajaan Islam jauh lebih kuat dibandingkan kekuasaan Elizabeth yang berupa negara kepulauan kecil yang mengapung dalam kabut basah Eropa. Elizabeth ingin menjelajahi aliansi perdagangan baru, tetapi tidak mampu untuk membiayanya. Maka solusinya adalah memanfaatkan inovasi perdagangan yang belum begitu dikenal — perusahaan saham gabungan — atas saran dari adiknya, Mary Tudor.

Perusahaan tersebut merupakan himpunan perdagangan yang dimiliki bersama oleh para pemegang saham. Modalnya digunakan untuk mendanai biaya pelayaran komersial, dan keuntungan — maupun kerugian — juga akan dibagi rata. Elizabeth antusias mendukung Muscovy Company, yang memiliki hubungan dagang dengan Persia, dan berlanjut dengan mendorong pembentukan Turkey Company (perusahaan yang berdagang dengan Ottoman) dan East India Company, yang kelak akhirnya menaklukkan India.

Pada tahun 1580-an Ratu Elizabeth I menandatangani perjanjian komersial dengan Ottoman yang akan berlangsung lebih dari 300 tahun, mengenai pemberian akses perdagangan secara cuma-cuma bagi para pedagangnya untuk memasuki daerah kekuasaan Ottoman. Di pihak lain dia juga membuat aliansi yang sama dengan Maroko, disertai dengan kesepakatan diam-diam mengenai dukungan militer untuk menghadapi Spanyol.

Ketika uang mulai mengalir masuk, Elizabeth mulai menulis surat kepada rekan-rekan Muslimnya, memuji manfaat dari perdagangan timbal balik. Dia menulis sambil memuja, menyebut Sultan Murad sebagai “penguasa paling perkasa dari kerajaan Turki, satu-satunya dan di atas semua, serta raja paling berdaulat di seantero Kekaisaran Timur.”

Dia juga lihai dalam menjadikan Katolik sebagai musuh bersama. Elizabeth menggambarkan dirinya sebagai,

Pembela kepercayaan Kristen yang paling perkasa dan tak terkalahkan dari semua jenis penyembahan berhala.

Seperti umat Muslim, Protestan menolak menyembah patung, memuji Tuhan secara langsung, sedangkan umat Katolik biasanya menggunakan perantara seorang pastor. Ratu Elizabeth dengan pintar mengeksploitasi anggapan umat Katolik tentang “Protestan dan Islam adalah dua sisi mata uang yang sama-sama sesat”.

Taktik itu berhasil. Ribuan pedagang Inggris melintasi negara-negara yang dewasa ini merupakan kawasan “dilarang masuk”, seperti Aleppo di Suriah dan Mosul di Irak. Mereka jauh lebih aman daripada melakukan perjalanan serupa melalui jalur negara-negara Eropa Katolik, dimana mereka beresiko melewati pemeriksaan yang amat ketat.

Penguasa Ottoman beranggapan kemampuan mereka bekerja sama dengan orang-orang dari semua agama sebagai tanda kekuasaan, bukan sebuah kelemahan, dan melihat konflik Protestan-Katolik sebagai hal yang terpisah. Beberapa orang Inggris bahkan kemudian masuk Islam. Ada yang karena terpaksa seperti Samson Rowlie, pedagang dari Norfolk yang berganti nama menjadi Hassan Aga, kepala bendahara Aljazair. Beberapa orang lainnya melakukannya atas kemauan mereka sendiri, mungkin melihat Islam sebagai pilihan yang lebih baik daripada Protestan yang masih baru dan serba tidak pasti.

Beberapa orang lainnya melakukannya atas kemauan mereka sendiri, mungkin melihat Islam sebagai pilihan yang lebih baik daripada Protestan yang masih baru dan serba tidak pasti.

Bangsawan Inggris gemar akan sutra dan rempah-rempah dari Timur, namun orang-orang Turki dan Maroko kurang tertarik dengan wol Inggris. Yang mereka butuhkan adalah senjata. Elizabeth sangat keras menolak konsep penebusan dosa, sebab itu dia mencopot logam-logam dari gereja Katolik yang tidak lagi sakral dan melebur gentanya untuk dibuat amunisi yang kemudian dikirim ke Turki, membuktikan liciknya penjualan amunisi negara Barat yang bahkan jauh lebih parah daripada peristiwa kontra Iran saat ini.

Elizabeth juga mendorong kesepakatan serupa dengan Maroko, menjual senjata serta membeli sendawa (kalium nitrat – unsur penting dalam bubuk mesiu) dan gula, yang telah dia dambakan sejak lama dan membuat giginya menjadi hitam yang terkenal buruk itu.

Gula, sutra, karpet dan rempah-rempah mengubah gaya konsumsi orang Inggris, bagaimana mereka mendekorasi rumah dan bagaimana selera mereka berpakaian. Kata-kata seperti “candy” dan “turquoise” (dari kata “batu Turki”) menjadi umum. Bahkan Shakespeare pun terinspirasi, menulis karya sastra berjudul “Othello” tak lama setelah kunjungan semester pertama duta besar Maroko.

Meskipun perusahaan gabungan tersebut sangat sukses, ekonomi Inggris tidak mampu mempertahankan perdagangan jarak jauh itu. Segera setelah kematian Elizabeth pada tahun 1603, raja baru, James I, menandatangani perjanjian perdamaian dengan Spanyol, yang mengakhiri keterasingan Inggris.

Pengaruh Islam pada Peradaban Inggris

Kebijakan Elizabeth mengenai Islam dan Inggris mampu menahan serbuan Katolik, merubah tata bahasa Inggris dan membuat model baru untuk investasi saham yang kelak membiayai Virginia Company, perusahaan yang menemukan daerah jajahan pertama di Amerika Utara.

Ternyata Islam, dalam segala perwujudannya — kekaisaran, militer dan perdagangan — memainkan peran yang begitu penting dalam sejarah Inggris. Hari ini, ketika kaum para politisi negeri ini berpidato berapi-api tentang anti-Muslim, kiranya perlu untuk diingat bahwa masa lalu Inggris lebih sering menjadi pihak yang terkekang daripada dihargai.

Sumber: The New York Times

Penemu Aljabar dan Algoritma

Abu Abdullah Muhammad ibn Musa al Khawarizmi adalah seorang ahli matematika, astronomi, dan geografi yang berasal dari Persia (Iran) pada masa Dinasti Abbasiyah. Beliau adalah seorang peneliti di Baitul Hikmah – Baghdad.

Abu Abdullah Muhammad bin Musa al Khawarizmi
Gambar 1:
Prangko bergambar al Khawarizmi yang diterbitkan tanggal 06 September 1983 di Uni Soviet untuk memperingati hari kelahiran al Khawarizmi (sekitar) 1200 tahun sebelumnya.

Pada abad ke-12 kitabnya yang membahas tentang angka india diterjemahkan ke huruf latin dan mengenalkan tentang Sistem Angka Desimal ke Dunia Barat. Bukunya yang berjudul Menghitung Ringkas dengan Cara Melengkapi dan Mengimbangi (Kitab al-Mukhtashor fii Hisab al-Jabr wal Muqobalah) yang pertama kali mengenalkan cara menyelesaikan persamaan linear dan kuadrat secara berurutan / sistematis.

Pada Masa Kebangkitan Eropa, al Khawarizmi diakui sebagai penemu aljabar yang merupakan pengembangan dari metode sebelumnya yang berasal dari India dan Yunani. Beliau memperbaiki buku Geografi karangan Ptolemy, serta menulis dalam astrologi dan astronomi.

Terdapat beberapa kata yang dapat menunjukkan besarnya kontribusi al Khawarizmi terhadap matematika. “Algebra” berasal dari kata al-Jabr, salah satu metode yang digunakan untuk menyelesaikan sistem persamaan kuadrat. Algorism dan algorithm berasal dari Algoritmi, bentuk Latin dari al Khawarizmi. Nama beliau juga merupakan asal-muasal dari kata guarismo (bahasa Spanyol) dan algarismo (bahasa Portugis), keduanya bermakna digit.

Kehidupan al Khawarizmi

Al Khawarizmi adalah seorang muslim yang dilahirkan di Khawarizm, sebuah dataran oase luas yang terletak di Asia Tengah. Daerah ini termasuk bagian dari 3 negara, Uzbekistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan.

Kitab al-Fihris karangan Ibnu Nadzim membahas tentang biografi al Khawarizmi beserta buku-buku karangannya. Hampir seluruh buku karangan al Khawarizmi ditulis antara tahun 813 – 833 Masehi. Setelah Islam menaklukkan Persia, Baghdad kemudian menjadi pusat keilmuan dan perdagangan, dan banyak ilmuwan dan pedagang—bahkan dari Cina dan India—yang datang ke kota ini, seperti halnya al Khawarizmi sendiri. Dia pergi ke Baghdad dan belajar di Baitul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Al-Ma’mun. Beliau mempelajari sains dan matematika, termasuk juga menerjemahkan naskah-naskah sains berbahasa Yunani dan Sansekerta (India).

Sumbangsih

Kontribusi al Khawarizmi dalam bidang ilmu matematika, geografi, astronomi, maupun kartografi (pemetaan) menyebabkan banyak perubahan mendasar dalam bidang aljabar dan trigonometri. Metode sistematis yang beliau gunakan dalam menyelesaikan persamaan linear dan kuadrat telah melahirkan cabang ilmu baru yang dinamakan aljabar, sebuah kata yang diambil dari judul kitabnya yang ditulis sekitar tahun 830 M yaitu al-Mukhtashor fii Hisab al-Jabr wal Muqobalah.

Buku Menghitung Menggunakan Bilangan Hindu ditulis sekitar tahun 825 M dan berperan penting dalam mengenalkan Sistem Bilangan India ke daerah Timur Tengah dan Eropa.

Beberapa karyanya banyak dipengaruhi oleh ilmu astronomi dari Persia dan Babilonia, bilangan India, serta matematika Yunani.

Karya besarnya yang lain yaitu kitab Shuurotul Ardh—Gambar Bumi (Geografi), memperkenalkan tentang koordinat dari tempat-tempat yang ada dalam peta karangan Ptolemy, dengan menambahkan daerah Laut Mediterania, Asia, dan Afrika.

Beliau juga menulis tentang alat mekanis seperti astrolab [3] dan jam matahari. Selain itu juga ikut serta dalam menentukan keliling bumi dan mengawasi 70 orang ahli geografi dalam pembuatan Peta Dunia untuk sang khalifah Al-Ma’mun.

Pada abad ke-12 karya-karyanya mulai menyebar luas di Eropa setelah sebelumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Hal ini berdampak besar pada perkembangan matematika di Eropa.

1. Aljabar

Kitab Al-Mukhtashor fii Hisab al-Jabr wal Muqobalah karangan al Khawarizmi yang ditulis atas desakan khalifah Al-Ma’mun merupakan sebuah karya terkenal dalam ilmu hitung. Kitab ini banyak berisi contoh-contoh dan penerapannya dalam berbagai bidang seperti perdagangan, pemetaan, maupun mengenai hukum warisan.

Aljabar yang kita kenal sekarang sudah memakai banyak simbol/huruf untuk lebih memudahkan dalam menyelesaikan suatu permasalahan, seperti x, y, pangkat dua (kuadrat), dan sebagainya. Tidak demikian halnya ketika masa al Khawarizmi. Beliau memakai gaya cerita dalam menjelaskan suatu masalah dan solusinya. Contohnya dalam salah satu soal beliau menulis (buku terjemahan tahun 1831 M):

If some one say: “You divide ten into two parts: multiply the one by itself; it will be equal to the other taken eighty-one times.” Computation: You say, ten less thing, multiplied by itself, is a hundred plus a square less twenty things, and this is equal to eighty-one things. Separate the twenty things from a hundred and a square, and add them to eighty-one. It will then be a hundred plus a square, which is equal to a hundred and one roots. Halve the roots; the moiety is fifty and a half. Multiply this by itself, it is two thousand five hundred and fifty and a quarter. Subtract from this one hundred; the remainder is two thousand four hundred and fifty and a quarter. Extract the root from this; it is forty-nine and a half. Subtract this from the moiety of the roots, which is fifty and a half. There remains one, and this is one of the two parts.

Buku Aljabar karangan al Khawarizmi.
Gambar 2:
Sampul (cover) Buku Aljabar karangan al Khawarizmi.

Beberapa penulis lain yang juga mengarang buku dengan judul al-Jabr wal Muqobalah diantaranya adalah Abu Hanifah ad-Dinawari, Abu Kamil Shuja’ bin Aslam, Abu Muhammad al-‘Adli, Abu Yusuf al-Missisi, Abdul Hamid bin Turk, Sind bin Ali, Sahl bin Bishr, dan Syarifuddin at-Thusi.

2. Aritmetika

Dixit Algorizmi
Gambar 3:
Terjemahan Latin dari buku aritmetika al Khawarizmi. Buku ini diawali dengan kata “Dixit Algorizmi” yang sering dianggap sebagai judulnya.

Karya terbesar kedua beliau setelah aljabar adalah dalam bidang aritmetika. Namun sayang sekali kitab asli versi arabnya telah hilang, meski terjemahan latinnya masih tersimpan. Proses penerjemahan tersebut kemungkinan besar diselesaikan pada abad ke-12 oleh Adelard of Bath, orang yang juga telah menerjemahkan Tabel Astronomi pada tahun 1126 M.

Naskah latin yang ada tidak memiliki judul, namun orang sering kali menyebutnya dengan judul Dixit Algorizmi (Demikian al Khawarizmi Berkata)—diambil dari dua kata yang mengawali naskah tersebut. Sedangkan kitab yang asli konon berjudul Kitab al-Jami’ wat Tafriq bi Hisab al-Hind (Penambahan dan Pengurangan Menurut Perhitungan Hindu).

3. Geografi

Karya terbesar berikutnya adalah tentu saja Kitab Shuurotul Ardh yang selesai ditulis tahun 833 M. Kitab ini memuat Daftar Koordinat dari 2402 kota, gambaran umum kota tersebut, serta ciri-cirinya secara geografis. Hal ini menjadikan kitab tersebut sebagai sebuah revisi sekaligus melengkapi buku sejenis yang berjudul Geography karangan Ptolemy.

Satu-satunya salinan kitab ini yang masih tersisa disimpan di Perpustakaan Universitas Strasbourg (Strasbourg, Prancis), sedangkan terjemahan latinnya ada di Biblioteca Nacional de Espana (Madrid, Spanyol).

Isi kitab tersebut diawali dengan daftar garis lintang dan garis bujur dengan urutan berdasarkan “zona cuaca“, yaitu dengan cara mengelompokkan garis lintang yang berurutan dalam suatu kolom sekaligus menguraikannya menjadi beberapa zona cuaca sesuai garis bujur yang berurutan. Paul Gallez (ahli pemetaan dan sejarawan asal Argentina) menyatakan bahwa sistem yang luar biasa ini membuat garis bujur dan garis lintang menjadi lebih sederhana, tidak seperti yang terdapat pada buku lain yang telah ada sebelumnya yang begitu rumit dan membuatnya hampir tidak dapat dimengerti.

Peta Dunia al Khawarizmi
Gambar 4:
Peta Dunia al Khawarizmi setelah direka ulang oleh Hubert Daunicht.

Al Khawarizmi juga memperbaiki perhitungan Ptolemy mengenai panjang garis bujur Laut Mediterania antara Kepulauan Canary hingga pantai timur Dataran Mediterania. Ptolemy menyatakan bahwa panjangnya adalah 63 derajat, sedangkan al Khawarizmi berpendapat—dan inilah yang mendekati benar—sepanjang 50 derajat. Beliau juga menyatakan bahwa Samudra Atlantik dan Samudra Hindia merupakan lautan lepas, bukan dikelilingi oleh daratan seperti yang ditulis Ptolemy.

4. Astronomi

Bidang ini juga tidak luput dari sentuhan al Khawarizmi melalui kitabnya yang berjudul Ziij al-Sindhind (Tabel Astronomi Sindhi [4] dan India). Sebuah karya yang terdiri dari sekitar 37 bab tentang perhitungan penanggalan dan astronomi, 116 tabel yang memuat data penanggalan, astronomi dan astrologi, serta tabel nilai sinus.

Buku ini merupakan zij [5] Arab pertama yang memakai metode astronomi India, Sindhind. Berisi tabel pergerakan matahari, bulan dan lima planet yang dikenal pada saat itu. Karya ini menandai titik balik dalam astronomi Islam.

Versi asli bahasa Arab (ditulis sekitar tahun 820 M) hilang, namun versi terjemahan Latinnya yang dibuat oleh seorang astronom Spanyol bernama Maslamah Ibn Ahmad al-Majriti berhasil diselamatkan. Saat ini terdapat empat manuskrip terjemahan Latin yang masing-masing disimpan di Bibliotheque publique (Chartres), Bibliotheque Mazarine (Paris), Biblioteca Nacional (Madrid) dan Perpustakaan Bodleian (Oxford).

5. Karya Lain al Khawarizmi

Ibnu Nadim dalam kitabnya al-Fihris, indeks buku bahasa Arab, menyebutkan al Khawarizmi sebagai pengarang Kitab at-Taarīkh, sebuah buku sejarah. Namun tidak ada naskah asli dari kita tersebut yang berhasil diselamatkan.

Beberapa manuskrip berbahasa Arab di Berlin, Istambul, Tashkent, Kairo dan Paris berisi materi lebih lanjut yang diduga kuat berasal dari al Khawarizmi. Manuskrip Istambul berisi makalah tentang jam matahari; seperti yang disebut dalam al-Fihris bahwa al Khawarizmi menyusun kitab ar-Ruhamah. Terdapat juga beberapa makalah lain, seperti makalahnya tentang penentuan arah Mekkah, digolongkan dalam astronomi bola.

Sumber: Wikipedia

Catatan:
[1] Terdapat perbedaan pendapat dalam literatur tentang nama lengkap al Khawarizmi, antara Abu Abdullah Muhammad bin Musa al Khawarizmi ataukah Abu Ja’far Muhammad bin Musa al Khawarizmi. Ibnu Khaldun menulis bahwa: “Orang pertama yang menulis tentang cabang ilmu ini (aljabar) adalah Abu Abdullah Muhammad bin Musa al Khawarizmi, kemudian Abu Kamil Shuja’ bin Aslam”. Fredrick Rosen juga menyatakan bahwa Abu Abdullah hidup dan menulis karyanya pada masa Khalifah al-Ma’mun, berbeda dengan Abu Ja’far—juga seorang matematikawan—yang banyak berkecimpung pada masa Khalifah al-Motaded yang berkuasa pada tahun 892-902 M.

[2] Baitul Hikmah (House of Wisdom) adalah sebuah perpustakaan, lembaga penerjemah, serta pusat penelitian yang didirikan pada masa Dinasti Abbasiyah. Merupakan sebuah institut terdepan dalam Gerakan Penerjemahan dan diakui sebagai pusat keilmuan pada Masa Kejayaan Islam.

[3] Astrolab adalah alat semacam inklinometer (pengukur sudut kemiringan) namun lebih rinci, dahulu biasanya dipakai oleh para astronom, navigator, dan astrolog. Alat ini digunakan untuk menentukan serta memperkirakan letak matahari, bulan, planet, dan bintang, menentukan waktu setempat berdasarkan garis lintang (atau sebaliknya), pengukuran tanah (surveying), menentukan lokasi suatu titik dengan cara mengukur sudut terhadap titik tersebut dan 2 garis yang mengapitnya (triangulation), maupun untuk menyusun horoskop.
Alat ini dipakai pada zaman klasik yaitu saat Masa Kejayaan Islam, Eropa Abad Pertengahan, dan Era Renaisans. Dalam Islam alat ini juga dipakai untuk menetapkan arah kiblat dan menghitung waktu sholat.

[4] Sindhi adalah bagian dari negara India sebelum mereka memisahkan diri dan menjadi salah satu provinsi dari Pakistan pada tahun 1947. Tahun 711 Panglima Muhammad bin Qosim—dalam usianya yang masih 29 tahun—beserta 20.000 pasukan berkuda dan 5 pelontar merebutnya dari Raja Dahir dan menjadikannya provinsi paling timur dari Dinasti Umayyah. Penyerangan ini dilakukan sebenarnya hanya untuk membebaskan para tahanan yang disandera oleh gubernur Debal yang bernama Partaab Raye. Dia menyerang kapal-kapal Islam yang melewati daerah ini dan menahan orang-orang di dalamnya. Kapal-kapal tersebut memuat para peziarah yaitu anak-anak yatim dan janda dari para syuhada’ yang wafat ketika berperang di Afrika. Karena letaknya yang strategis yaitu berada di tepi barat dari Asia Tengah sehingga membuatnya termasuk daerah dimana Islam menyebar pertama kali. Dari sini Islam mulai menyebar ke India dan daerah-daerah di sekitarnya. Oleh karenanya Sindhi disebut juga Babul Islam.

Kebudayaan di daerah ini banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai Sufi dan mayoritas muslimnya menganut fiqh madzhab Hanafi. Tahun 750 Debal—kota pelabuhan di Sindhi—telah menjelma menjadi pelabuhan terbesar kedua setelah Bashroh (Iraq). Banyak pelaut dan saudagar dari Sindhi berlayar ke daerah-daerah lain seperti Musqat, Aden, Malabar, Srilanka, dan bahkan ke Jawa. Masyarakat Jawa menyebut saudagar-saudagar dari Sindhi ini dengan kata Santri.

[5] Buku astronomi Islam yang memuat ukuran-ukuran untuk digunakan dalam perhitungan astronomi dari posisi Matahari, Bulan, bintang, dan planet-planet.