Psikologi

Berita Hoax – 6 Cara Mudah Mengenalinya

Berita hoax atau berita palsu dapat berdampak serius pada kehidupan nyata.

Contohnya, seorang pria melepaskan tembakan dalam sebuah restoran pizza di Kota Washington. Ia melakukan itu karena mengaku sedang menyelidiki sebuah teori konspirasi yang ia baca dari internet.

Hoax telah menjadi sebuah persoalan yang serius.

Berita Hoax

Platform yang digunakan sebagai media tentu saja bertanggung jawab atas menyebarnya berita hoax. Namun kita sebagai pembaca seharusnya dapat membentengi diri dan menyaring berita-berita yang beredar luas. Apakah berita tersebut benar-benar valid, ataukah hanya berita palsu yang sengaja disebarkan dan menjadi viral.

Salah satu cara agar kita dapat mengenali berita bohong adalah kita harus memiliki literasi media yang memadai.

Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Cukup mengejutkan bahwa menurut studi dari Universitas Stanford, kebanyakan orang ternyata tidak memiliki literasi media yang cukup. Tidak heran bila berita hoax dapat dengan mudah menjadi viral dan menyebar dengan cepat. Dan itu tidak hanya terjadi di Indonesia.

Tips Mengenali Berita Hoax

Ada beberapa cara mudah yang dapat dilakukan untuk mengenali berita hoax saat kita membaca artikel online. Berikut ini 6 hal yang sebaiknya kita perhatikan agar terhindar dari hoax atau berita bohong:

Cek Alamat Website

Website yang terpercaya biasanya memiliki alamat website atau domain yang standar. Domain dengan akhiran .com.co atau akhiran lain yang tidak umum cukup layak untuk kita curigai. Kita perlu menggali lebih dalam untuk mencari tahu apakah website tersebut dapat dipercaya, meskipun tampilannya cukup meyakinkan.

Contohnya, abcnews.com adalah sebuah website berita yang profesional dan terpercaya. Sedangkan abcnews.com.co merupakan website tiruan.

ABC News – Website Resmi
ABC News – Website Resmi
ABC News - Website Tiruan
ABC News – Website Tiruan

Selain akhiran domain, nama domain juga dapat kita gunakan sebagai peringatan awal dalam mengenali berita hoax. Nama domain yang panjang cenderung kurang resmi. Ini karena domain dengan nama pendek biasanya telah dimiliki oleh pihak lain sejak lama. Bila masih tersedia maka harganya sangat mahal. Hanya terjangkau oleh pihak korporat. Penyebar berita hoax tentu akan berpikir ulang untuk membeli domain dengan harga selangit.

Harga CPU.com - Rp 1,3 Miliar
Harga CPU.com – Rp 1,3 Miliar

Bandingkan harganya dengan nama domain yang mirip namun sedikit lebih panjang:

Harga CPUHoax.com - hanya Rp 130 ribu
Harga CPUHoax.com – hanya Rp 130 ribu

Periksa Halaman ‘About Us’

Biasa juga ditampilkan sebagai halaman ‘Tentang kami’. Sebuah website yang dikelola secara serius dan profesional biasanya memiliki halaman ini.

Berisi informasi tentang alamat pengelola, perusahaan atau organisasi yang menjalankannya, struktur organisasi, dan informasi lain tentang orang-orang di balik website tersebut.

Bahasa yang ditulis pada halaman ini biasanya sederhana dan langsung ke intinya. Bila ternyata memuat hal-hal yang berlebihan dan bersifat sensasi, Anda bisa mengabaikan website tersebut.

About Us - Kompas.com
Halaman About Us dari Kompas.com

Jangan lupa untuk mengecek nama-nama yang terdapat pada halaman Tentang Kami ini. Lakukan pencarian di Google. Bila nama-nama pengurus ternyata juga terdapat di beberapa situs lain yang tidak memiliki reputasi, besar kemungkinan isi halaman tersebut hanyalah hasil copy-paste. Website demikian tidak layak dijadikan bahan bacaan ataupun rujukan. Apalagi untuk dibagikan ke orang lain.

Referensi yang Digunakan

Artikel yang bermutu biasanya menggunakan banyak referensi atau rujukan. Masing-masing rujukan membahas sesuai dengan bidang keahliannya. Bila artikel tersebut berbicara tentang data dan penelitian yang telah dilakukan oleh para pakar maka artikel tersebut memiliki tingkat kebenaran yang cukup tinggi. Bukan sekedar opini dan rekaan yang hanya menggiring publik untuk memercayai kebohongan.

Cari Sumber Asli Kutipan

Seringkali kita dapati sebuah gambar seorang terkenal yang disandingkan dengan sebuah kutipan atau petuah. Ini untuk memberi kesan bahwa orang dalam gambar mengatakan sesuatu seperti tulisan tersebut.

Benarkah demikian? Pastikan kebenarannya dengan melakukan Google Search sederhana!

Kebijakan Presiden Obama tentang Kepemilikan Senjata
Kebijakan Presiden Obama tentang Kepemilikan Senjata

Misalkan kita menjumpai gambar yang memuat tentang perkataan Obama bahwa dia ingin penduduk Amerika tidak memiliki senjata.

Obama adalah pejabat yang hampir setiap perkataannya selalu direkam dan diarsipkan dengan baik. Kita bisa melakukan pencarian melalui Google dengan mudah. Cari tahu kapan perkataan tersebut terjadi, kepada siapa ditujukan, dan dalam konteks apa dia berbicara demikian. Dengan begitu kita akan tahu apakah kutipan tersebut benar atau tidak.

Lihat Komentar Orang

Berita bohong seringkali dibagikan di dunia medsos – media sosial. Judul berita seharusnya dibuat selain untuk memikat orang agar membaca lebih lanjut, judul juga merupakan gambaran umum dari keseluruhan artikel.

Namun akhir-akhir ini, judul seringkali disalahgunakan.

Judul ditulis dengan bahasa berlebihan dengan maksud menyesatkan pembaca. Lebih parah lagi artikel di dalamnya sama sekali tidak berhubungan dengan judulnya. Berita semacam ini biasanya mendapatkan banyak komentar di Facebook atau Twitter. Bila banyak komentar yang mempertanyakan kebenaran dari berita tersebut, barangkali kenyataannya memang demikian.

Pencarian Terbalik Pada Gambar

Gambar dalam sebuah berita harus benar-benar merupakan ilustrasi dari berita yang dimaksud. Namun sayangnya hal itu saat ini semakin jarang terjadi. Pembuat berita hoax biasanya tidak pernah melakukan wawancara dengan sumber berita. Karenanya besar kemungkinan gambar yang dimuat adalah rekaan sendiri.

Lakukan pencarian terbalik pada gambar yang ada dalam berita tersebut. Caranya yaitu dengan klik kanan lalu klik ‘Search Google for image‘. Bila gambar tersebut muncul dalam banyak berita pada berbagai topik, maka besar kemungkinan gambar itu bukanlah gambar yang sebenarnya.

Contohnya seperti berita Bocah Sebatang Kara di Karawang ini:

Bocah Yatim Piatu Hidup Sebatang Kara - Karawang
Bocah Yatim Piatu Hidup Sebatang Kara – Karawang

Ditulis dalam berita tersebut bahwa bocah yatim piatu berusia 13 tahun hidup sebatang kara di Karawang, Jawa Barat. Lebih miris lagi saat makan, satu bungkus dia bagi dua. Separuh untuk sahur dan separuh lainnya untuk berbuka puasa.

Berita di atas bahkan dimuat di salah satu portal berita terkenal.

Namun setelah diteliti lebih lanjut berita itu hanyalah bualan seseorang di facebook yang kemudian menjadi viral. Empati masyarakat nampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh penulis awal berita tersebut. Mereka lantas membagikannya dari medsos satu ke medsos lainnya. Tidak sempat lagi untuk mengecek kebenarannya lebih lanjut.

Ternyata kemudian berita tersebut terbukti memang berita bohong belaka. Bocah tersebut tidak hidup separah itu. Bahkan website lain yang mewawancarai tetangga yang bersangkutan menyatakan bocah itu malah foya-foya setelah bantuan mengalir dari berbagai pihak.

Kesimpulan

Cara sederhana di atas adalah langkah awal untuk mengenali berita hoax. Bila kita menerapkannya berarti kita turut membantu agar berita bohong tidak semakin menyebar luas.

Platform penyedia fasilitas berbagi – seperti media sosial misalnya – juga turut aktif memberantas penyebarluasan berita yang memuat kebohongan ini. Namun di sisi lain mereka juga tidak ingin membatasi hak orang untuk bebas menyampaikan sesuatu.

Selain itu kita juga harus bisa menahan diri untuk tidak begitu saja membagikan berita yang belum jelas kebenarannya. Bila Anda mendapat berita yang dibagikan oleh teman dan Anda tahu berita itu tidak benar, beritahu yang bersangkutan secara baik-baik. Ada kemungkinan teman Anda akan merasa tersinggung. Namun memang harus ada yang menghentikan jalur peredaran berita palsu tersebut.

Stop Share Berita HOAX

Akhirnya terpulang kepada individu kita masing-masing. Kita harus mampu memilah dan memilih berita atau artikel mana yang layak untuk kita baca dan bagi. Dengan begitu dunia maya akan menjadi tempat yang lebih damai dan tenang, bebas dari berita hoax yang saling menyesatkan.

Generasi Wacana

Saya sering kasihan melihat anak-anak muda yang makin pintar tapi hidupnya galau. Penyebabnya beragam. Misalnya, karena hal sepele saja.

Belum lagi tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar orang tuanya, “Mau kuliah di mana? Swasta, atau negeri?”

Bahkan sampai menjelang lulus SMA sekalipun masih banyak yang bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa?

Jangan heran kalau banyak yang salah jurusan, bahkan sarjana nuklir pun berkarir di bank, pertanian jadi wartawan dan seterusnya. Susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, namun begitu lulus maunya jadi motivator.

Karena sejak awal sudah galau, setelah lulus tetap galau. Generasi ini pada gilirannya bermetamorfosa menjadi generasi wacana. Jadi karena dulu selalu galau, setelah lulus hanya mampu berwacana.

Ribut melulu, paling jauh cuma bisa buat heboh di sosial media, membuat meme, tapi tak berani bertindak. Apalagi mengambil keputusan.

Suaranya Keras

Indikatornya simpel. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka di mana-mana. Contohnya begini. Ada dahan yang patah dan menghalangi jalan. Lalu lintas pun jadi macet. Apa yang dilakukan oleh generasi wacana?

Dengan gadget-nya, mereka memotret dahan itu, juga memotret kemacetan yang terjadi. Lalu, mengunggahnya ke media sosial, tentu disertai dengan komentar. Isinya kritik. “Di mana dinas pertamanan kita? Ada dahan tumbang kok didiamkan!”

Lalu, ketika hasil unggahannya dikomentari banyak orang, senangnya bukan main. Begitulah potret generasi wacana. Padahal kalau mau membantu, dia bisa menyingkirkan dahan tersebut dari jalan. Bukan hanya berwacana.

Begitulah kita juga saksikan sikap mereka terhadap asap. Itu hanya satu contoh. Contoh lainnya ada di mana-mana.

Generasi wacana ini sebagian memasuki dunia kerja. Beberapa dari mereka meningkat kariernya dan menduduki posisi-posisi penting.

Kalau di perusahaan swasta, mereka inilah yang berteriak paling keras ketika kondisi ekonomi menjadi lebih sulit. Misalnya, ketika pemerintah mengubah kebijakan, atau ketika Rupiah melemah/kembali menguat seperti sekarang ini.

Kalau di dunia politik, mereka ributnya minta ampun. Persis seperti anggota DPR kita. Bisanya kritik sana, kritik sini, tapi pekerjaan utamanya, seperti membuat undang-undang, malah tidak diurus.

Kalau di lingkungan pemerintahan, mereka adalah orang-orang yang sibuk mengamankan posisi dan cari selamat.

Caranya? Adu pintar debat dan lihai membangun argumentasi. Mereka sangat pintar kalau soal ini. Tapi, nyalinya langsung menciut ketika ditantang untuk mengambil keputusan.

Akibatnya kita merasakan dampaknya. Penyerapan anggaran akan terus sangat rendah dan kinerja perekonomian kita pun melambat. Kalau pemerintah saja tidak punya nyali, apalagi kalangan swasta.

we-CHANGE

Kalau mau melihat masa depan suatu negara, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya.

Kata banyak orang, karena galau dan hanya sibuk berwacana, negara kita tertinggal sepuluh tahun dibanding negara-negara lain.

Contohnya gampang. Lihatlah jalan tol kita. Kita mulai membangun jalan tol sejak 1973. Lebih dulu ketimbang Malaysia dan China. Tapi, coba lihat berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun?

Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1990. Namanya, jalan tol Anyer-Hitam, panjangnya sekitar 10 kilometer. Itu pun yang mengerjakan BUMN kita, PT Hutama Karya. Kini panjang jalan tol di Malaysia sudah mencapai 3.000-an kilometer.

China pun baru membangun jalan tol pada 1990. Jalan tol pertama yang mereka bangun namanya Shenda, menghubungkan dua kota, Shenyang dan Dalian. Kini, China sudah memiliki jalan tol sepanjang 85.000 kilometer.

Anda tahu berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun hingga saat ini? Belum sampai 900 kilometer!

Begitulah, kalau negara lain sibuk membangun, kita sibuk berwacana lantaran tidak berani mengambil keputusan.

Baiklah saya juga tak mau disebut hanya bisa berwacana. Sebagai pendidik, yang saya lakukan adalah menempa anak-anak muda kita agar mereka tak hanya bisa berwacana, tapi berani mengambil keputusan. Itu sebabnya di Rumah Perubahan, saya menyiapkan program boot champwe-CHANGE.

Lewat program ini, saya akan merekrut banyak anak muda di bawah usia 30 tahun. Syaratnya sederhana. Gigih, disiplin, berpikiran terbuka, siap belajar dan punya tekad yang kuat untuk memperbaiki masa depan.

Mereka akan saya jadikan mentee, sedang saya mentornya. Saya akan mendidik untuk berani mengambil keputusan. Saya akan mendidik mereka untuk menjadi driver, bukan passenger. Silahkan cari informasinya. Ayo anak-anak muda, siapa berminat?

Rhenald Kasali
Jawa Pos, 19 Oktober 2015

Perkenalkan, dia adalah Fatihul Ulum…

Dahulu kala ada seorang tukang kunci keliling bernama Fatihul Ulum yang sangat termahsyur karena keahliannya. Konon orangtuanya memberi nama itu dengan harapan putranya kelak akan menjadi pembuka setiap ilmu. Namun ternyata takdir tertulis lain. Ia berakhir sebagai seorang tukang kunci.

“Baiklah, jika demikian halnya, maka aku harus menjadi yang terbaik di jalanku”, batinnya selalu. Maka setiap hari ia pun berjalan ke berbagai pelosok desa dengan ditemani dua kotak peralatan yang naik turun seakan riang bermain ayunan di bahunya.

Perkenalkan, dia adalah Fatihul Ulum...

Suatu hari Fatihul Ulum bermaksud mewariskan satu ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian. Tukang kunci itu menyadari ia mulai renta dan tak lama lagi akan berkurang kemampuannya dalam menolong orang lain. Dia memiliki dua orang murid yang sama-sama pandai. Setelah beberapa tahun dididik, mereka sudah mahir dan mengusai semua teknik membuka segala jenis gembok.

Hanya saja, ilmu tertinggi itu harus diwariskan hanya kepada satu orang yang benar-benar memenuhi kriteria. Oleh karena itu, untuk menentukan pewaris ilmunya, si tukang kunci menggelar sebuah ujian secara bersamaan.

Maka disiapkanlah dua peti yang tergembok rapat dan di dalamnya diisi satu bungkusan barang berharga. Kedua peti itu ditempatkan di dua kamar bersebelahan. Berikutnya, murid pertama dan murid kedua disuruh masuk ke dalam kamar-kamar tadi secara bersamaan.

“Tugas kalian adalah membuka gembok peti-peti di dalam kamar itu. Ayo laksanakan..!!”, perintah si tukang kunci.

“Baik, Guru!”, jawab keduanya kompak.

Tidak lama kemudian, murid pertama keluar lebih dulu dari kamar dan tampak berhasil menyelesaikan tugasnya. Si tukang kunci langsung bertanya, “Bagus, kau berhasil. Apa isi peti itu?”.

Dengan rasa percaya diri dan perasaan penuh kemenangan, murid pertama menjawab,
“Di dalam peti ada sebuah bungkusan, dan di dalam bungkusan itu ada sebuah permata yang berkilauan. Indah sekali.”

Mendengar jawaban yang polos itu, sang guru tersenyum bijak. Ia segera menoleh ke arah murid kedua yang baru saja keluar dari kamar yang satunya. Ia langsung menanyakan hal yang sama,
“Bagus, kau berhasil. Apa isi peti itu?”.

Mengetahui dirinya kalah cepat dalam membuka peti, murid kedua hanya menjawab pelan,
“Saya hanya membuka gembok peti itu, lalu keluar. Saya tidak membuka peti itu, apalagi melihat isinya.”

Mendengar jawaban itu, Fatihul Ulum si tukang kunci tersenyum puas.

“Baiklah, berdasarkan hasil ujian tadi maka kau, murid kedua… kaulah pemenangnya. Kamulah yang akan mewarisi ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian yang aku miliki”, demikian si tukang kunci menjelaskan.

Keputusan itu sontak saja membuat murid pertama kaget setengah mati.
“Guru…,” murid pertama menyela, “bukankah saya yang berhasil membuka gembok lebih cepat. Mengapa justru dia yang menjadi pemenangnya?”. Murid pertama tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

Mendengar ungkapan kekecewaan muridnya itu, si tukang kunci tersenyum bijak.
“Murid-muridku, dengarlah… profesi kita adalah tukang kunci, dan tugas kita adalah membantu orang membuka gembok yang kuncinya hilang atau rusak. Jika gembok sudah dibuka, tugas kita selesai. Kalau kita juga ingin melihat isinya, itu artinya kita melanggar kode etik profesi kita sebagai ahli kunci.”

Si tukang kunci meneruskan nasehatnya, “Tidak peduli apapun pekerjaan kita, moral dan etika profesional harus dijunjung tinggi. Tanpa moral dan etika, maka seorang ahli kunci bisa dengan mudah beralih profesi menjadi pencuri. Kalian mengerti?”

Mendengar hal itu, murid pertama mengangguk-anggukan kepala. Dia menyadari dimana letak kesalahannya. Dia juga bersyukur telah mendapat satu lagi pelajaran moral yang sangat berharga sebelum turun ke tengah-tengah masyarakat.

Walaupun kecewa karena dirinya tidak bisa menjadi pewaris ilmu tertinggi sang guru, ia merasa mendapatkan satu lagi ilmu berharga. Ilmu itu tak lain adalah ilmu mengenai moral dan etika profesional.

Sejak saat itu murid pertama berjanji pada diri sendiri, kelak dalam menjalankan profesinya, ia akan menjadi seorang ahli kunci profesional yang menjunjung tinggi moralitas dan etika profesional.

Sumber: Internet